Showing posts with label Teori Pembelajaran. Show all posts
Showing posts with label Teori Pembelajaran. Show all posts

Wednesday, December 31, 2014

Pembelajaran untuk Sekolah luar Biasa

oleh : Novita Handayani

Kurikulum yang digunakan pada Sekolah Luar Biasa adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dengan bobot yang berbeda dan disesuaikan dengan ketunaannya, hal ini disebabkan karena SLB berbeda dengan sekolah reguler dari segi akademisnya, sosialnya, dan banyak hal yang membuat anak-anak yang sekolah di SLB itu berbeda dengan anak-anak yang bersekolah di sekolah reguler. RPP yang digunakan di SLB sama dengan RPP yang ada di sekolah regular namun disesuaikan dengan kondisi setiap kelas, dimana ada tiga kriteria yang dimiliki oleh anak yaitu total, sedang, dan ringan. Keberhasilan yang dicapai oleh setiap anak pun berbeda, ada yang bisa menangkap dalam waktu 1 hari, seminggu, sebulan bahkan tahunan tergantung kemampuan anak tersebut dalam menangkap materi pembelajaran.

Jumlah siswa di setiap kelas di SLB-B tidak sama, antara 4 sampai 6 orang. Usia siswa di masing-masing kelas juga berbeda-beda tergantung dari kemampuan siswa. Siswa yang memiliki kemampuan lebih cepat menangkap materi pelajaran akan ditempatkan di kelas akselerasi (percepatan). Teknik Assessment SLB B yang digunakan adalah sistem assessment secara individual yaitu mengadakan ulangan harian, ulangan tengah semester dan ulangan akhir semester. Rangkaian Assessmen dilakukan melalui ulangan sehari-hari, ulangan tengah semester dan ulangan akhir semester secara klasikal dan individual melalui pengembangan program sesuai dengan kurikulum yang digunakan di SLB tersebut.

Jadi, ketika ada pertanyaan “model bagaimana yang tepat untuk anak berkebutuhan khusus?”. Maka dapat dikatakan bahwa pembelajaran yang tepat adalah yang menggunakan guru sebagai seorang sumber informasi, pendamping, serta pembimbing. Anak berkebutuhan kusus sangat belum siap untuk mengekplorasi sebuah ilmu oleh karenanya sangat butuh sosok seorang guru seperti diatas. Perhatian kusus adalah hal yang sangat harus diberikan, menjaga perkataan pada anak didik, dan pendampingan ekstra ketat kepadanya adalah tugas poko guru pada anak.

Pembelajaran pada Anak Usia Dini

oleh : Novita Handayani

Kegiatan pembelajaran pada anak usia dini merupakan pengembangan kurikulum secara konkret berupa seperangkat rencana yang berisikan sejumlah pengalaman belajar melalui bermain yang diberikan kepada anak berdasarkan potensi dan tugas perkembangan yang harus dipahaminya dalam rangka pencapaian kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap anak.

Pada dasarnya, tujuan pembelajaran pada anak usia dini adalah untuk mengoptimalkan perkembangan anak secara menyeluruh berdasarkan berbagai dimensi perkembangan anak usia dini baik dari perkembangan sikap, pengetahuan, ketrampilan, maupun kreatifitas yang dibutuhkan anak untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya serta untuk mempersiapkan pertumbuhan dan perkembangan anak ke tahap selanjutnya.

Unsur utama dalam pengembangan program pembelajaran pada anak usia dini adalah bermain. Menurut Allbrecht dan Miller (2000:216-218) bahwa dalam pengembangan program pembelajaran untuk anak usia dini seharusnya syarat dengan aktivitas bermain yang mengutamakan program adanya kebebasan bagi anak untuk dapat bereksplorasi dan beraktivitas, sedangkan orang dewasa seharusnya lebih berperan sebagai fasilitator pada saat anak membutuhkan bantuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi anak.

Model pembelajaran untuk anak usia dini memiliki dua jenis model yaitu model yang berpusat pada guru dan model pembelajaran berpusat pada anak. Pembelajaran yang berpusat pada guru dikenal dengan istilah pengajaran langsung, dimana guru atau instruktur memberikan petunjuk atau instruksi langsung yang harus dilakukan oleh anak dan tugas guru adalah mengevaluasi kegiatan anak berdasarkan tindakan yang muncul dari dalam diri anak. Motivasi berkemampuan dipandang oleh para ahli psikologi sebagai dasar untuk mengembangkan pembelajaran yang berpusat pada anak, dengan menghargai seluruh proses perkembangan yang dimiliki oleh anak dan bekembang sesuai dengan ritme yang dimiliki masing masing anak dengan menciptakan lingkungan dan menyediakan peralatan yang menyediakan kesempatan pada anak untuk belajar dan berkembang. Secara khusus, kegiatan pembelajaran pada anak usia dini harus didasarkan pada prinsip-prinsip perkembangan anak usia dini, diantaranya proses kegiatan belajar bagi anak usia dini harus didasarkan prinsip belajar melalui bermain; proses kegiatan belajar bagi anak usia dini dilaksanakan dlam lingkungan yang kondusif dan inovatif baik di dalam maupun diluar ruangan; proses kegiatan belajar bagi anak usia dini harus diarahkan pada pengembangan potensi kecerdasan secara menyeluruh dan terpadu.

Pembelajaran berbasis Sekolah Alam

oleh : Novita Handayani

Sekolah alam merupakan bentuk pendidikan alternative yang menggunakan alam sebagai media utamadalam setiap proses belajar mengajarnya. Di sekolah alam, peserta didik belajar dari semua makhluk yang ada di alam semesta. Pembelajaran yang berbasis lingkungan alam sebenarnya telah digagas pertama kali oleh Jan Lightghart pada tahun 1859. Tokoh ini memeberikan suatu bentuk model pendidikan yang dikenal dengan “pengajaran barang sesungguhnya.” Konsep inilah yang menjadi salah satu akar dari munculnya konsep pendidikan yang berbasis pada alam.

Ide dasar sekolah alam adalah pendidikan pada peserta didik dilakukan dengan mengajak peserta didik dalam suasana sesungguhnya melalui belajar pada lingkungan alam sekitarnya yang nyata. Menurut jan Lightghart, sumber utama bentuk pengajaran sekolah alam adalah lingkungan di sekitar anak. Melalui bentuk pengajaran ini maka akan tumbuh keaktifan peserta didik dalam mengamati, menyelidiki, serta mempelajari lingkungan di skeitarnya. Kondisi lingkungan yang sebenarnya juga akan menarik perhatian peserta didik secara spontan sehingga peserta didik memiliki pemahaman dan kekayaan pengetahuan yang bersumber dari lingkungannya sendiri. Metode pembelajaran yang digunakan dalam sekolah alam lebih banyak menggunakan metode action learning, yaitu peserta didik belajar melalui pengalaman. Jika peserta didik mengalami secara langsung, maka ia akan lebih bersemangat, tidak bosan, dan lebih aktif. Penggunaan alam sebagai media belajar bertujuan agar peserta didik dapat lebih peduli dengan lingkungannya dan dapat menerapkan pengetahuan yang dipelajarinya.

Pembelajaran Berbasis Multikultural

oleh : Novita Handayani

Multikulturalisme merupakan sistem keyakinan dan perilaku yang mengakui social budaya mereka yang berbeda, serta mengakui dan menghormati kehadiran semua kelompok yang beragam dalam sebuah masyarakat. Sedangkan pembelajaran multicultural merupakan kebijakan dalam praktik pendidikan dalam mengakui, menerima, dan menegaskan perbedaan serta persamaan manusia yang dikaitkan dengan gender, ras, serta kelas.

Pendidikan multicultural, dalam hal ini pembelajaran multicultural merupakan strategi pendidikan yang memanfaatkan keberagaman latar belakang dari setiap peserta didik sebagai salah satu kekuatan agar dapat membentuk sikap multicultural. Dengan adanya pendidikan multicultural, dapat mencoba untuk membantu menyatukan bangsa Indonesia secara demokratis, dengan menekankan pada perspektif pluralitas masyarakat di berbagai bangsa dan kelompok budaya yang berbeda.

Pembelajaran berbasis multicultural berusaha menjadikan peserta didik agar dapat mengembangkan rasa hormat kepada orang yang berbeda adat dan budaya, memberi kesempatan untuk dapat bekerja bersama dengan orang atau kelompok orang yang berbeda ras nya secara langsung. Pendidikan multicultural juga membantu peserta didik untuk dapat mengakui ketetapan dari panadangan budaya yang beragam, menyadarkan peserta didik bahwa konflik nilai sering menjadi penyebab konflik antar kelompok, membantu peserta didik dalam mengembangkan warisan budaya mereka, dan lain lain. Beberapa strategi yang dapat digunakan untuk mengembangkan pembelajaran berbasis multicultural diantaranya adalah Cooperative Learning, yaitu strategi kegiatan belajar besama sama, yang dapat dipadukan dengan strategi Concept Attainment (pencapaian konsep), strategi Value Analysis (analisis nilai), serta Social Investigation (analisis social). Beberapa strategi ini dapat dilakukan secara bersamaan dan harus tergambar dalam langkah-langkah model pembelajaran berbasis multicultural.

Urgensi Motivasi dalam Suatu Pembelajaran

oleh : Novita Handayani
Belajar pada seorang peserta didik merupakan kegiatan rutin yang hampir dilakukan setiap hari dimanapun dan kapanpun peserta didik berada. Namun pada setiap kegiatan tersebut tergantung pada minat dan keinginan masing-masing individu. Selain minat, motivasi juga turut andil dalam kegiatan tersebut. Hal ini akan berpengaruh pada tujuan peserta didik dalam belajar, yakni untuk mencapai tujuan pendidikan. Oleh Karena itu, kita sebagai pendidik harus memberikan motivasi kepada peserta didik agar peserta didik dapat mencapai tujuan pendidikan dengan baik.

Motivasi diartikan sebagai tujuan yang ingin dicapai melalui perilaku tertentu. Dalam hal ini, peserta didik akan berusaha untuk mencapai suatu tujuan karena dirangsang oleh manfaat atau keuntungan yang akan diperoleh. Motivasi peserta didik tercermin melalui ketekunan yang tidak mudah patah untuk mencapai sukses, meskipun dihadang oleh berbagai kesulitan atau rintangan. Beberapa penelitian tentang prestasi belajar siswa menunjukan motivasi sebagai factor yang banyak berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar peserta didik. Pentingnya motivasi untuk peserta didik diantaranya adalah untuk menyadarkan kedudukan pada awal, proses, dan hasil akhir; menginformasikan tentang kekuatan usaha belajar; mengarahkan kegiatan belajar; membesarkan semangat belajar; serta menyadarkan tentang adanya perjalanan belajar dan kemudian bekerja. Sedangkan untuk pendidik, manfaat motivasi diantaranya adalah untuk membangkitkan, meningkatkan, dan memelihara semangat peserta didik untuk belajar sampai akhir; mengetahui dan memahami motivasi belajar pesrta didik di kelas; meningkatkan dan menyadarkan pendidik untuk memilih satu diantara bermacam-macam peran; memeri peluang pendidik untuk “unjuk kerja”.

Teori Pembelajaran Humanistik dalam Pembelajaran Mandiri

oleh : Novita Handayani
Pembelajaran mandiri merupakan proses pembelajaran yang menuntut peserta didik menjadi subyek yang harus merancang, mengatur, dan mengontrol kegiatan mereka sendiri secara bertanggung jawab. Proses ini tidak bergantung pada subyek maupun metode instruksional, melainkan kepada siapa yang belajar (peserta didik), mencakup siapa yang harus mempelajari sesuatu hal, metode, dan sumber apa yang akan digunakan, dan bagaimana cara mengukur keberhasilan upaya belajar yang telah dilaksanakan.

Dalam pelaksanaannya, proses ini cocok untuk pembelajaran di tingkat atau level perguruan tinggi, karena menuntut kemandirian yang tingkat tinggi dari peserta didik. Disini pendidik beralih fungsi menjadi fasilitator proses belajar, bukan sebagai penentu proses belajar. Walaupun demikian, pendidik pendidik harus tetap siap untuk menjadi tempat bertanya dan bahkan diharapkan pendidik benar-benar ahli dalam bidang yang sedang dipelajari peserta didik.

Agar tidak terjadi hubungan kesenjangan antara pendidik dan peserta didik, maka perlu kiranya dilakukan negosiasi dalam perancangan pembelajaran secara keseluruhan. Perencanaan pembelajaran ini merupakan alat yang fleksibel tetapi efektif untuk membantu peserta didik dalam penentuan tujuan belajar secara individual. Tanggung jawab peserta didik dan pendidik harus dibuat secara eksplisit dalam perancangan pembelajaran. Partisipasi para peserta didik dalam penentuan tujuan belajar akan membuat mereka lebih berkomitmen terhadap proses pembelajaran. Agar peserta didik berkomitmen terhadap proses pembelajaran, perlulah kiranya endidik mengerti tentang teori kepribadian dan psikoterapi. Karena pada teori pembelajaran humanistik ini didasarkan pada teori kepribadian dan psikoterapi. Pengalaman emosional dan karakteristik khusus seseorang perlu diperhatikan dalam penyusunan teori belajar ini.

Analisis Tugas dalam teori Pembelajaran

oleh : Novita Handayani
Pendekatan analisis tugas adalah melakukan kajian terhadap jenis-jenis atau tipe-tipe belajar dan tugas-tugas yang dipersyaratkan. Melalui analisis tugas, dapat diperoleh petunjuk mengenai apa yang harus dipelajari peserta didik dan bagaimana peserta didik mempelajarinya. Dengan demikian pendidik dapat menentukan apa yang harus diajarkan dan bagaimana ia mengajarkannya.

Tujuan dari analisis tugas dalam pendidikan adalah untuk mempersiapkan peserta didik agar kedepannya menjadi manusia mandiri dan produktif. Pendidikan lebih menekankan kepada pertumbuhan dan perkembangan individu sebagai pribadi. Prinsip-prinsip dalam latihan tersebut dapat digunakan untuk keperluan praktek pendidikan.

Pada teori analisis tugas ini, pendidik mengadakan analisis tugas secara sistematik mengenai tugas-tugas yang harus dilakukan peserta didik di dalam latihan atau situasi pendidikan. Dari latihan inilah pendidik akan tau sejauh mana peserta didik mengerti dan memahami dari materi yang telah diajarkan oleh pendidik. Dan tau langkah apa yang harus dilakukan setelah mengetahui hasil tersebut.

Penyusunan tugas-tugas tersebut disusun secara hierarkis atau parallel tergantung dari urutan tugas-tugas dalam usaha mencapai tujuan akhir maupun tujuan tambahan. Oleh karenya kita sebagai pendidik harus pandai memutar otak untuk mencari bagaimana cara agar tugas-tugas dalam usaha mencapai tujuan akhir dan tujuan tambahan tersebut dapat tercapai dengan baik. Yang harus dilakukan agar tujuan tersebut dpat tercapai diantaranya yaitu perhatian, motivasi, dan tingkat perkembangan. Suatu pembelajaran akan menjadi efektif apabila peserta didik memperlihatkan stimulus dengan baik. Motivasi diperlukan agar peserta didik terdorong untuk memberikan respon terhadap stimuli. Sedangkan motivasi itu sendiri sangat dipengaruhi oleh jenis dan tingkat aspirasi yang dimiliki. Selain perhatian dan motivasi, pembelajaran juga harus memperhatikan sifat-sifat psikis dan sifat yang menentukan perbuatan peserta didik sesuai dengan tahap perkembangannnya.

Reward and Punisment

oleh : Novita Handayani


Peserta didik memiliki sifat dan karakteristik yang berbeda-beda. Karakteristik peserta didik yang masih pasif dalam mengikuti pembelajaran, membuat pendidik harus memutar otak untuk mengubah metode pembelajaran agar dapat membuat peserta didik tersebut lebih aktif dan kreatif. Sehingga dalam kegiatan belajar mengajar pendidik lebih sebagai orang yang mengontrol dalam kegiatan belajar dan peserta didik lebih berperan aktif di dalam pembelajaran.

Peran pendidik sangat penting ketika di kelas, yaitu mengontrol langsung kegiatan belajar peserta didik dan harus menentukan logika yang penting untuk menyampaikan materi pelajaran dengan langkah-langkah dan kemudian memberikan reinforcement (penguatan) segera setelah peserta didik merespon. Dengan demikian perlulah kiranya pendidik menggunakan model pembelajaran yang menghubungkan tingkah laku dengan konsekuensi terhadap hasil belajar peserta didik yang dikenal dengan pemberian reward (hadiah) dan punishment (hukuman).

Reward and punishment yang diberikan bervariasi sesuai dengan tingkah laku peserta didik. Reward merupakan bentuk reinforcement yang positif. Reward yang diberikan dapat berupa pujian, memberikan kata-kata motivasi, tepuk tangan, dan dapat pula memberikan tambahan nilai kepada peserta didik yang dapat menyelesaikan tugas belajarnya dengan baik, serta dapat menjadi contoh yang baik kepada peserta didik lainnya.

Sedangkan punishment merupakan bentuk reinforcement yang negative, namun apabila diberikan secara tepat dan bijak dapat menjadikan punishment sebagai alat motivasi. Tujuan dari punishment ini adalah menimbulkan rasa tidak senang pada seseorang agar mereka tidak mengulangi lagi. Namun tidak dipungkiri bahwa akibat dari pemberian punishment itu sendiri juga akan mengganggu rasa kepercayaan diri peserta didik. Disini terlihat bahwa baik reward maupun punishment memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pendidik diperbolehkan menggunakan kedua cara tersebut untuk mendidik peserta didik. Akan tetapi, pendidik juga harus memperhatikan bagaimana situasi dan kondisi dari peserta didik tersebut. Ketika mereka melakukan kesalahan, pendidik diharap untuk tidak langsung memberian punishment tetapi harus memahami terlebih dahulu apa yang terjadi. Untuk rewar sendiri, jangan memberikan secara rutin dan mengumbar janji karena peserta didik akan selalu mengharapkannya.

Prinsip Belajar dalam Teori Pembelajaran

oleh : Novita Handayani
Dalam melakukan kegiatan mengajar, pendidik tidak dapat melakukan secara sembarangan, melainkan harus menggunakan teori-teori dan prinsip-prinsip agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara tepat. Oleh karena itu, pendidik perlu mempelajari teori dan prinsip-prinsip belajar yang dapat menunjang aktivitas kegiatan belajar mengajar. Selain itu, peserta sebagai motor utama dalam kegiatan pembelajaran, harus menyadari penerapan prinsip-prinsip belajar terhadap diri peserta didik. Sehingga peserta didik dapat berhasil dalam pembelajaran.
Pada dasarnya, peserta didik dituntut untuk dapat memberikan perhatian terhadap semua rangsangan yang mengarah kearah tujuan belajar, dengan adanya tuntutan untuk dapat selalu memberikan perhatian ini menyebabkan peserta didik wajib untuk membangkitkan perhatiannya kepada segala pesan yang dipelajarinya. Pesan-pesan yang menjadi isi pelajaran sering kali dalam bentuk rangsangan suara, bentuk, gerak dan rangsangan lain yang dapat di indra. Dengan demikian peserta didik diharapkan selalu melatih indranya untuk memperhatikan rangsangan yang muncul dalam proses pembelajaran.
Bentuk dari prinsip keaktifan bagi peserta didik berwujud perilaku-perilaku seperti mencari dan menggali sumber informasi yang dibutuhkan, menganalisis hasil percobaan, membuat sebuah karya tulis, dan sejenisnya. Selain itu, kita sebagai pendidik juga harus memberikan kesempatan, peluang sebesar-besarnya kepada peserta didik untuk berkreatifitas dalam proses pembelajarannya, misalnya melakukan eksperimen ketika pelajaran tertentu dan melakukan pengamatan.
Peserta didik dituntut memiliki kesadaran pada diri peserta didik akan adanya kebutuhan untuk selalu memperoleh, memproses, dan mengolah pesan. Pserta didik juga harus memiliki keingintahuan yang besar terhadap segala permasalahan yang dihadapi. Untuk itu, kita sebagai pendidik harus dapat merancang pembelajaran agar pelajaran terlihat memuaskan, menantang, serta mereka memiliki peran dalam setiap pengambilan keputusan.
Dapat dikatakan bahwa tercapainya tujuan belajar bukan hanya dari peran pendidik saja melainkan peran peserta didik juga. Karena apalah arti pendidik yang telah mempelajari teori dan prinsip pembelajaran serta mengimplikasinya apabila peserta didik masih belum mau dan sadar untuk memperoleh, memproses, dan mengolah pesan yang disampaikan pendidik.

Guru juga pelu belajar


Guru adalah kata yang tidak asing bagi siapapun itu, karena guru adalah tugas yang seharusnya besar karena membentuk karakter bangsa. Bangsa diduduki manusiaa sedangkan manusia sebaagian besar dididik oleh seorang guru hingga membentuk karakter dari individu itu sendiri. Dinegara dengan pendidikan kualitas wahid seperti firlandia, jerman dan kanada guru adalah profesi yang banggakan maka dari itu menjadi seorang guru sangat sulit seleksinya. Bahkan dijepang setelang bom hirosima nagasaki hingga menghabiskan wilayah yang tidak sedikit pemerintah jepang hanya menanyakan seberapa banyak guru yang hidup. Jadi begitu fundamentalnya seorang guru dalam membangun negeri dengan karakter yang luar biasa ini akan membuat negara yang besar dan berdikari.
Guru belajar tidak hanya lulus dari perguruan tinggi lolos seleksi CPNS dan kemudian mengajar sampai habis masa pensiun. Guru juga perlu pengalaman, pengalaman disini bukan satu pengalaman yang diulang selama berpuluh-puluh tahun namun berbagai pengalaman. Jadi guru juga perlu dan harus belajar banyak. Karena selama hidup disitulah manusia harus belajar karena jika manusia hidup tanpa belajar sama halnya dengan hidup serasa mati. Lantas apa yang dipelajarai dari seorang guru? Ya guru memang dari segi kemampuan akadeis sudah handal namun dalam pembelajaran dikelas maupun diluar kelas perlu adanya inovasi guna tercapainya pemahaman isi dari materi yang disampaikan.
Isi dari sebuah materi pembelajaran sesungguhnya tidak penting tapi hal yang penting adalah metode dalam pembelajaran atau bahasa yang leboh dipahami, cara dalam menyampaikan materi yang harus banyak pengalaman dan pembelajaran dari seorang guru. Lalu apa yang harus dilakukan? Langkah awal agar terjadinya pembelajaran yang menarik asik dan mudah serta masuk dan diterima oleh siswa adalah guru perlu tau dan paham tentang teori dari pembelajaran itu sendiri dan paham mengenai apa itu belajar terlepas dari kurikulum yang berlaku. Belajar itu sendiri adalah proses yang mengakibatkan berubahnya perilaku dari hal yang baik menjadi lebih baik lagi. Sedangkan teori pembelajaran adalah merupakan penerapan prinsip-prinsip teori belajar, teori tingkah laku, dan prinsip-prinsip pembelajaran dalam usaha mencapai tujuan belajar.
Jadi jelaslah bahwa guru perlu adanya belajar lebih lanjut mengenai bagaimana cara proses penyampaian pembelajaran yang menarik, asik, dan disukai anak serta masuk dalam pemahaman setiap individu. Guru adalah aset bangsa yang harus perlu banyaknya evaluasi itu dimaksudkan untuk membentuk negara yang lebih baik lagi kedepannya karena, ditangan guru inilah karakter ditentukan. Guru perlu harus banyak belajar tidak hanya didalam aspek akademis saja namun pada hal hal yang penting seperti penyampaian materi yang menarik, asik, dan disukai anak serta masuk dalam pemahaman siswa.
Aditya Wahyu Prasetyo



Pentingnya guru mengerti teori pembelajaran


Guru secara pemahaman orang jawa adalah digugu dan ditiru yang berarti bahwa dipercaya dan diikuti. Secara konstektua guru adalah subjek yang dipercaya untuk mempengaruhi pembelajaran baik dari segi akademis maupun dari segi karakter yang semuanya dibutuhkan keahlian khusus. Keahlian ini tidak bisa didapatkan dengan begitu saja ada pembelajaran yang berkelanjutan dan perlunya praktek langsung dilapangan semuanya dilakukan dibangku perkuliahan yang bertujuan menjadi guru unutk mendidik peserta didik. Pemahaman agar peserta didik mengerti apa yang disampaikan seorang guru adalah cara mengajar yang efektif dan efisien yang berati bahwa guru daharuskan memberikan penyampaian materi yang menarik dan mudah dipahami oleh siswa ini semua dibutuhkan kemampuan khusus dan kemampuan itu tiak bisa hanya dilakukan hanya membaca artikel ini saja perlu banyaknya masukan praktik dan pengalaman dalam pembelajaran yang dilakukan oleh seorang guru.
Teori pembelajaran adalah induk utama dari sebuah pembelajaran apapun latarbelakang guru baik mengajar akademik maupun non akademik perlu dan dirasa penting untuk memahami teori pembelajaran. Mengapa demikian? Ya, karena seorang pendidik harus memiliki modal teknik dan cara untuk memberikan pembelajaran yang menarik dan hal ini dimulai dari sebuah pemahaman teori yakni teori pembelajaran yang nantinya akan berkembang menjadi model-model pembelajaran yang penerepannya tidak jauh dari teori pembelajaran. Jadi secara singkat perlu adanya pemahaman terlebih dahulu mengenai teori pembelajaran yang selanjutnya merambah ke model-model pembelajaran.
Menjadi guru yang baik adalah tidak mudah karena yang kita ajarkan adalah manusia yang mana adalah makhluk hidup. Berbeda jika yang kita ajar robot hanya diperintah ini dan itu langsung mengikuti. Manusia sejatinya diperuntuhkan untuk menjadi pribadi yang berkarakter baik. Jadi bagaimanapun juga guru harus mementingkan hal itu disamping nilai-nilai akademis. Menjadi guru harus mengacu pada makna “ing ngarso sun tulodho, ing madya mangun karso, tut wuri handayani” yang bermakna bahwa didepan memberikan contoh, ditengah-tengah memberikan bimbingan dan semangat, dibelakang memberikan motivasi. Jadi jelaslah bahwa peran guru tidak jauh beda dengan peran orang tua. Jadi guru haruslah memaknai asas tersebut agar mengerti bagaimana dan apa yang harus dilakukan untuk mengubah karakter seorang siswa menjadi yang lebih baik.
Jadi bahwa teori pembelajaran sangat penting dipahamai oleh seorang guru itu semua guna menjadikan guru yang profesional yang efektif efisien sesuai yang diharapkan oleh siswa. Agar terlaksananya model pembelajaran yang menarik bagi siswa dan itu juga akan menjadikan guru yang mengerti dan memahami harus berbuat apa untuk siswanya serta membentuk karakter siswa sesuai dengan kaidah yang sebenarnya. Guru digudu dan ditiru layaknya orang tua sebagaimana orang jawa mengatakan dalam asas ing ngarso sun tuladha, ing madya mangun karso, tutwuri handayani.
Aditya Wahyu Prasetyo

Tahap proses pembelajaran


pelaksanaan pembelajaran harus sesuai dengan proses realisasi pelaksanaan pembelajaran itu sendiri. Pelaksanaan pembelajaran merujuk pada yang biasa disebut rancangan proses pembelajaran namun pada pelaksanaannya ada pula mengalami kendala dan kendala-kendala tersebut biasanya dipengaruhi oleb beberapa faktor dinantaranya:
faktor peserta didik, peserta didik adalah objek dimana guru dapat melakukan proses pembelajaran, peserta didik terkadang sulit dalam menerima proses pembelajaran sehingga aktifitas tidak berjalan. Peserta didik yang nantinya akan menerima apa saja yang diberikan oleh guru. Ini semata-mata guna terlaksananya proses pembelajaran yang berlangsung sebagai mestiya.
faktor guru/tenaga pengajar, guru adalah aktor dalam aktifitas pembelajaran yang berlangsung baik didalam kelas maupun diluar kelas, guru dirasa sangat penting karena guru adalah panutan siswa. Guru juga yang merangkai seluruh kegiatan pembelajaran. Semua itu tentunya merujuk pada sistem pendidikan nasional yang tercantum pada UU no 20 tahun 2003. 
faktor kurikulum, Seperangkat rencana  yang mencakup tujuan Bahan kajian, metode, media, dan sistem evaluasi kegiatan pembelajaran. ( sebagai rencana ). Semua aktivitas belajar siswa yang berada dibawah tanggung jawab sekolah. ( sebagai proses). Kurikulum ini sangat kompleks. Karena kurikulum dibuat sesuai dengan kemauan masyarakat dan perubahan zaman jadi posisi kurikulum juga penting dan faktor yang penting pula dalam proses pembelajaran
faktor sarana dan prasarana, sarana dan prasarana adalah pendukung didalam proses kegiatan belajar mengajar. Banyak bentuk dari sarana dan prasarana diantaranya guru, buku, meja, kursi, ruang kelas, media baik cetak tulis maupun elektronik, dan masih banyak lagi sarana dan prasarana yang mendukung proses pembelajaran. Faktor ini menjadi enting karena sebagai pendukung serta penuntun dalam proses pembelajaran.
faktor lingkungan, lingkungan adalah daerah dimana kita menempati, lingkungan yang baik akan menentukan produk yang baik. Jika lingkungan sekolah diperuntukan didalam lingkungan seperti pasar, mall, dan tempat keramaian lainnya maka proses belajar mengajar terhambat karena kebisingan itu. Maka dari itu lingkungan masuk kedalam faktor didalam proses pembelajaran. Lingkungan yang kumuh dan tidak terpelihara juga akan menimbulkan pembelajaran yang tidak nyaman.
Itulah berbagai faktor didalam proses pembelajaran bahwa peserta didik, guru, kurikulum, sarana dan prasarana, serta lingkungan mempengaruhi proses pembelajaran yang berlangsung baik itu didalam ruangan maupun diluar ruangan. Demikian yang bisa saya tuliskan semoga dapat bermanfaat bagi pembaca. Dan dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Salam sukses.

Aditya Wahyu Prasetyo



Media dan teori pembelajaran menjadikan suasana kelas luar biasa



Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan (Bovee, 1997). Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi dan digunakan untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Pembelajaran yaitu proses komunikasi antara pengajar, pembelajar, dan bahan ajar. Banyak batasan atau pengertian yang dikemukakan para ahli mengenai media, diantaranya adalah: Asosiasi Teknologi dan Komunikasi Pendidikan (Asosociation of Education and Communication Technology (AECT).

Dari penjelasan diatas, secara umum dapat dikatakan bahwa substansi dari media pembelajaran adalah bentuk saluran, yang digunakan untuk menyalurkan pesan, informasi atau bahan pelajaran kepada penerima pesan atau pembelajar dapat pula dikatakan  bahwa media pembelajaran adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan dalam lingkungan pembelajar yang dapat merangsang pembelajar untuk belajar.

Teori pembelajaran merupakan penerapan prinsip-prinsip teori tingkah laku, teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran dalam usaha mencapai tujuan belajar. Membicarakan tentang prinsip-prinsip yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah praktis di dalam pembelajaran, dan bagaimana menangani situasi praktis yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Begge (1982:1-2), belajar adalah suatu perubahan yang berlangsung dalam kehidupan individu sebagai upaya perubahan dalam pandangan, sikap, pemahaman atau motivasi dan bahkan kombinasi dari semuanya. Belajar selalu menunjukkan perubahan sistematis dalam tingkah laku yang terjadi sebagai konsekwensi pengaalaman dalam situasi khusus.

Bagaimana jika kedua unsur tersebut digambung, dalam arti media dan teori pembelajaran digabung? Ya, pada dasarnya teori pembelajaran adalah tolok ukur dalam mengembangkan proses pembelajaran seperti halnya mengembengkan model dalam pembelajaran dan media pembelajaran jadi sah saja dan bisa dikatakan luar biasa apabila kedua unsur tersebut yang sebenarnya satu arah digabung. Karena kedua unsur tersebut tujuannya sama yakni menjadikan pembelajaran yang menarik dan pesan yang disampaikan tersampaikan dengan baik.

Media berbagai macal hal begitu juga dengan teori, media membantu guru dan siswa memahami proses pembelajaran begitu juga media membuat pembelajran menjadi menarik tidak monoton dan siswa diarahkan untuk belajar yang bisa dikatakan serius. Sah saja jika kedua unsur tersebut digabung dan dirasa menjadi bagus dan baik. Seperti kita tau bahwa tidak cukup hanya dengan teori saja perlu adanya praktek dan praktek tersebut ditambah dengan media yang semuanya itu dimaksudkan untuk merubah serta menjadikan proses pembelajaran yang menarik.

Semoga artikel ini bermanfaat dan menjadikan proses pembelajaran yang tidak hanya dengan itu-itu saja perlu adanya inovasi dan pemanfaatan seperti halnya media dan itu tidak hanya didalam media elektronik saja media-media yang lain pun sah saja jika dimanfaatkan untuk pembelajaran
Aditya Wahyu Prasetyo

Siswa butuh teori ini


Siswa terkadang dalam proses pembelajaran mengalami beberapa kendala dalam pembelajarannya. Ini tidak dipungkiri dan banyak beberapa faktor yang menyebabkan tidak hanya dari faktor individu saja namun faktor ligkungan, faktor guru, faktor kondisi dan bahkan faktor dari penyampaian materi yang disampaikan guru tersebut. Materi yang akan disampaikan memang penting namun cara yang penyampaiannya menjadi lebih penting karena akan terasa percuma jika penyampaian materi monoton ini akan berakibat siswa bosan memperhatikan guru dalam proses pembelajaran. Belajar setiap siswa memang berbeda-beda akan tetapi proses awal penyampaian informasi dalam hal ini materi yang disampaikan guru menjadi modal awal siswa untuk mengembangkan pola berfikir yang lebih jauh lagi jadi siswa perlu adanya teori yang dapat mengembangkan proses belajarnya dan teori tersebut diterapkan oleh guru.

Teori adalah bentuk awal untuk menunjang proses implementasi yang lebih baik, tidak akan maksimal jika hanya teori saja yang berjalan perlu adanaya implementasi atau penerapan. Karena keduanya sangat berkaitan satu sama lain tidak bisa dikotomikan atau dipisahkan. Lantas teori apa, yang dimaksud dalam artikel ini? Ya karena permasalahan inti adalah proses belajar yang monoton maka teori yang pas dilakukan oleh guru namun dibutuhkan siswa adalah teori pembelajaran. Teori pembelajaran merupakan suatu kumpulan prinsip-prinsip yang terintegrasi dan yang mmberikan perskripsi untuk mengatur situasi atau lingkungan belajar sedemikin rupa sehingga dapat membantu siswa mencapai tujuan belajarnya dengan mudah.

Teori pembelajaran sangat penting guna menunjang implementasi pembelajaran yang efektif menarik dan terkesan tidak monoton ada banyk fariasi mengenai teori pembelajaran itu sendiri, yang semuanya dimaksudkan untuk merubah perilaku siswa dan menambah wawasan. Pembelajaran terkadang menjadi bosan dan siswa mulai tidak memperhatikan pembelajaran yang berlangsung dimungkinkan banyak berbagai faktor salah satunya pembelajaran yang monoton. Pembelajara yang itu-itu saja membuat siswa hari-harinya hanya dipenuhi metode pembelajaran yang itu saja hanya bergati materi yang disampaikan. Materi pembelajaran memang penting namun metode penyampaian juga penting halnya karena percuma saja jika materi yang disampaikan tidak tersampaikan hanya dengan penyampaian materi yang tidak menarik dan tidak sukai oleh siswa.

Teori pembelajaran membantu guru mengatasi semua itu dan macam macam dari teori pembelajaran sangat banyak dan berfarian semuanya dimaksudkan untuk memberikan inovasi didalam pelajaran guna terciptanya pembelajaran yang menarik yang disukai oleh siswa dan guru pun tidak hanya berangkat mengajar seperti itu diulang bertahun-tahun guru pun perlu adanya inovasi dalam proses pembelajaran. Jadi teori ini dirasa penting bagi guru dan yang lebih penting lagi bagi siswa itu sendiri.


Aditya Wahyu Prasetyo

Menilai Keefektifan Teori Pembelajaran dalam Proses Belajar Mengajar

oleh : Hanifa Indriana
Apa yang dimaksud dengan teori pembelajaran? Saya akan mencoba menguraikan beberapa teorema untuk memisahkan apa yang kita maksud dengan teori pembelajaran dari teori-teori yang sudah ada selama ini.
Hal pertama yang akan saya sampaikan bahwa nature dari teori pembelajaran adalah prescriptive, bukan deskriptif. Teori tersebut memiliki tujuan untuk menghasilkan akhir yang luar biasa dan proses menghasilkannya melalui cara yang kita sebut optimal. Itu bukan sebuah deskripsi tentang apa yang terjadi saat proses belajar terjadi-itu adalah sesuatu yang normatif.
Namun faktanya, banyak orang yang terlibat di dalam dunia pendidikan berasumsi bahwa mereka dapat mengandalkan jenis-jenis teori yang lain selain teori pembelajaran. Sebagai contoh, saya menemukan bahwa ketergantungan para pendidik terhadap teori belajar sangat besar, padahal yang menjadi masalah adalah teori belajar bukan teoeri pembelajaran.
Tidak ada batasan yang jelas, bagaimana seseorang yang mengandalkan teori belajar dapat mengambil intisari yang tepat yang akan membimbing dia pada saat menyusun kurikulum. Ketika saya mengatakan bahwa teori pembelajaran itu prescriptive, yang saya maksud adalah suatu yang ada sebelum adanya fakta. Itu adalah sesuatu yang ada sebelum proses belajar terjadi, bukan ketika, dan bukan setelahnya.
Teori pembelajaran harus mampu menghubungkan antara hal yang ada sekarang dengan bagaimana menghasilkan hal tersebut. Teori belajar menjelaskan dengan pasti apa yang terjadi, namun teori pembelajaran ’hanya’ membimbing apa yang harus dilakukan untuk menghasilkan hal tersebut.
Ada 4 hal yg harus diperhatikan terkait dengan implementasi teori pembelajaran:
1.      Mengenali tokoh, perjalanan dan proses akademik yang ditempuh serta perjuangan yang ditempuh untuk menghasilkan teori belajar yang dikemukakannya.
2.      Memahamai konteks generasi, situasi zaman atau yang melatar belakangi peristiwa kelahiran teori teori belajar tersebut.
3.      Proses kekinian dari teori tersebut dalam perkembangannya.
4.      teori pembelajaran harus memperhatikan bahwa terdapat banyak kecenderungan cara belajar siswa, dan kecenderungan ini sudah dimiliki siswa jauh sebelum ia masuk ke sekolah.
5.      teori ini juga terkait dengan adanya struktur pengetahuan. Ada 3 hal yang terkait dengan struktur pengetahuan:
a.       struktur pengetahuan harus mampu menyederhanakan suatu informasi yang sangat luas
b.      struktur tersebut harus mampu membawa siswa kepada hal-hal yang baru, melebihi informasi yang anda jelaskan
c.       struktur pengetahuan harus mampu meluaskan cakrawala berpikir siswa, mengkombinasikannya dengan ilmu-ilmu lain.
6.      teori pembelajaran juga terkait dengan hubungan yang optimal. Seorang guru harus mampu mencari hubungan yang mudah tentang sesuatu yang akan diajarkan agar murid lebih mudah menangkap informasi tersebut.
yang terakhir, teori pembelajaran terkait dengan penghargaan dan hukuman.

Masalah-masalah yang Dihadapi Guru Terkait dengan Teori Pembelajaran

oleh : Hanifa Indriana
Dalam seluruh proses pendidikan disekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan pendidikan hanya bergantung pada bagaimana proses belajar yang dialami oleh peserta didik. Untuk dapat membelajarkan peserta didik, maka guru harus mengimplementasikan prinsip-prinsip teori belajar pada proses pembelajaran.
Guru sebagai seorang pemimpin kelas, yang memiliki hak prerogative untuk mengatur pembelajaran, memegang peran penting serta tugas dan tanggung jawab yang berat. Bukanlah perkara mudah untuk mengatur seseorang bertindak sesuai dengan yang kita inginkan, karena perbedaan yang kita miliki. Guru tidak bisa sepenuhnya mengarahkan siswa, mengelola kelas untuk bertindak sesuai dengan arahan guru. Masalah lain yang dihadapi guru saat ini adalah rendahnya minat belajar siswa, dan cara belajar siswa yang tidak serius, sehingga berdampak pada rendahnya hasil belajar siswa yang terlihat  dari hasil ulangan harian dan ulangan semester siswa.  
Hal-hal semacam ini tentu menjadi masalah bagi guru. Karena itulah sesuai dengan amanah undang-undang, setiap guru hendaknya memiliki empat kompetensi, keempat kompetensi inilah yang akan menjadi modal bagi guru untuk mengelola dan melaksanakan proses pembelajaran di kelas. Empat kompetensi tersebut adalah kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, kompetensi kepribadian dan kompetensi professional.
Penguasaan secara penuh empat kompetensi tersebut, bukanlah hal yang mudah, ini menuntut guru untuk terus berkembang dan belajar agar bisa menghadapi berbagai persoalan yang ditemui guru di lapangan, terutama bagi pendidik professional. Namun, untuk saat ini pertanyaannya adalah apakah guru-guru kita saat ini, terutama guru dengan label pendidik professional, benar-benar sudah menguasai ini dalam melaksanakan pelajaran dan mendidik siswanya?
Oleh karena itu, guru perlu usaha keras memikirkan dan mencari solusi yang tepat untuk memenuhi kebutuhan belajar siswanya. Seyogyanya pendidik professional dengan segala hak dan kewajibannya sebenarnya harus dibarengi dengan kualitas dan mutu output pendidikan sehingga mampu menciptakan lingkungan pembelajaran yang efektif dan menjadi fasilitator yang baik bagi proses pembelajaran di sekolah.

Manfaat Teori Pembelajaran dalam Pembelajaran Konvensional

oleh : Hanifa Indriana
Proses pendidikan merupakan hal yang sangat kompleks, yang didalamnya terlibat banyak unsur yang saling terkait, mulai dari guru, siswa, sarana, metode, strategi, media dan lain-lain. Bicara tentang pembelajaran konvensional, maka tidak bisa lepas dari peran seorang guru dalam mengelola kelas. Dalam hal ini, guru dituntut untuk mengetahui cara yang mempermudah siswa untuk belajar, salah satunya dengan memanfaatkan teori belajar. 
Dengan mengetahui teori belajar diharapkan dapat membantu guru untuk mengembangkan potensi siswa, dan memberikan cara-cara yang tepat untuk mengatasi perbedaan atau keanekaragaman kemampuan, sifat dan perilaku siswa dalam proses belajar. Oleh karena itu, teori pembelajaran sangantlah penting dalam proses pembelajaran konvensional di kelas yang melibatkan guru sebagai pengajar dan siswa sebagai pelajar.
Teori pembelajaran secara umum memiliki 3 fungsi yang berbeda namun   saling terkait dengan erat. Fungsi – fungsi tersebut ialah :
1.      Teori pembelajaran adalah suatu pendekatan pada bidang pengetahuan; cara menganalisis, membicarakan dan meneliti pembelajaran. Teori pembelajaran berfungsi menggambarkan sudut pandang peneliti mengenai aspek-aspek pembelajaran yang paling bernilai untuk dipelajari, variabel-variabel independen yang harus dimanipulasi dan variabel-variabel dependen yang harus dikaji, teknik – teknik penelitian yang hendak digunakan, dan bahasa apa yang harus digunakan untuk mendekripsikan temuan-temuannya.
2.      Teori pembelajaran berupaya meringkas sekumpulan besar pengetahuan mengenai hukum-hukum pembelajaran ke dalam ruang yang cukup kecil.
3.      Teori pembelajaran secara kreatif berupaya menjelaskan apa itu pembelajaran   dan mengapa pembelajaran berlangsung seperti adanya hukum-hukum menunjukkan bagaimana pembelajaran terjadi teori-teori berupaya menunjukan menyapa pembelajaran terjadi.
 Jadi, teori pembelajaran berupaya menghasilkan pemahaman pokok tersebut yang merupakan salah satu tujuan khusus pengetahuan dan juga bentuk-bentuk kegiatan ilmiah lainya. Teori berupaya merepresentasikan upaya terbaik manusia untuk memastikan struktur apa yang melandasi dunia tempat kita hidup.
Penerapan dari beberapa teori belajar sangat bermanfaat dalam proses pembelajaran konvensional (di dalam kelas), diantaranya yaitu :
1.      Membantu guru untuk memahami bagaimana siswa belajar,
2.      Membimbing guru untuk merancang dan merencanakan proses pembelajaran,
3.      Memandu guru untuk mengelola kelas
4.      Membantu guru untuk mengevaluasi proses, perilaku guru sendiri serta hasil belajar siswa yang telah dicapai
5.      Membantu proses belajar lebih efektif, efisien dan produktif
6.      Membantu guru dalam memberikan dukungan dan bantuan kepada siswa sehingga dapat
7.      mencapai hasil prestasi yang maksimal.
Implikasi perkembangan teori pembelajaran sekarang sangat bervariasi dan lebih inovatif. Pendidik dapat menerapkan menurut aliran-aliran teori tertentu. Seperti teori behavioristik dalam pembelajaran guru memperhatikan tujuan belajar dan karakteristik siswa.

Monday, December 29, 2014

Media dan teori pembelajaran menjadikan suasana kelas luar biasa



Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan (Bovee, 1997). Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi dan digunakan untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Pembelajaran yaitu proses komunikasi antara pengajar, pembelajar, dan bahan ajar. Banyak batasan atau pengertian yang dikemukakan para ahli mengenai media, diantaranya adalah: Asosiasi Teknologi dan Komunikasi Pendidikan (Asosociation of Education and Communication Technology (AECT).

Dari penjelasan diatas, secara umum dapat dikatakan bahwa substansi dari media pembelajaran adalah bentuk saluran, yang digunakan untuk menyalurkan pesan, informasi atau bahan pelajaran kepada penerima pesan atau pembelajar dapat pula dikatakan  bahwa media pembelajaran adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan dalam lingkungan pembelajar yang dapat merangsang pembelajar untuk belajar.

Teori pembelajaran merupakan penerapan prinsip-prinsip teori tingkah laku, teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran dalam usaha mencapai tujuan belajar. Membicarakan tentang prinsip-prinsip yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah praktis di dalam pembelajaran, dan bagaimana menangani situasi praktis yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Begge (1982:1-2), belajar adalah suatu perubahan yang berlangsung dalam kehidupan individu sebagai upaya perubahan dalam pandangan, sikap, pemahaman atau motivasi dan bahkan kombinasi dari semuanya. Belajar selalu menunjukkan perubahan sistematis dalam tingkah laku yang terjadi sebagai konsekwensi pengaalaman dalam situasi khusus.

Bagaimana jika kedua unsur tersebut digambung, dalam arti media dan teori pembelajaran digabung? Ya, pada dasarnya teori pembelajaran adalah tolok ukur dalam mengembangkan proses pembelajaran seperti halnya mengembengkan model dalam pembelajaran dan media pembelajaran jadi sah saja dan bisa dikatakan luar biasa apabila kedua unsur tersebut yang sebenarnya satu arah digabung. Karena kedua unsur tersebut tujuannya sama yakni menjadikan pembelajaran yang menarik dan pesan yang disampaikan tersampaikan dengan baik.

Media berbagai macal hal begitu juga dengan teori, media membantu guru dan siswa memahami proses pembelajaran begitu juga media membuat pembelajran menjadi menarik tidak monoton dan siswa diarahkan untuk belajar yang bisa dikatakan serius. Sah saja jika kedua unsur tersebut digabung dan dirasa menjadi bagus dan baik. Seperti kita tau bahwa tidak cukup hanya dengan teori saja perlu adanya praktek dan praktek tersebut ditambah dengan media yang semuanya itu dimaksudkan untuk merubah serta menjadikan proses pembelajaran yang menarik.

Semoga artikel ini bermanfaat dan menjadikan proses pembelajaran yang tidak hanya dengan itu-itu saja perlu adanya inovasi dan pemanfaatan seperti halnya media dan itu tidak hanya didalam media elektronik saja media-media yang lain pun sah saja jika dimanfaatkan untuk pembelajaran
Aditya Wahyu Prasetyo

Teori Behaviorisme pada komunikasi siswa


Tokoh yang menganut teori ini diantaranya Thorndike, Pavlove, Watson, Gutrie, Hull, Tolman, Skiner. Teori behaviorisme ini menekankan pada aspek perilaku atau tingkah laku yang dapat diamati atau diukur. Aspek lokus pembelajaran dalam teori behaviorisme ini adalah stimuli dalam lingkungan eksternal. Tujuan dalam pendidikan itu sendiri yakni untuk menghasilkan perubahan perilaku dalam arah yang dihasratkan. Kemudian peran didalam pendidikan atas teori ini yakni menyusun lingkungan untuk mendapatkan respons yang dihasratkan. Ciri-ciri dari teori behaviorisme adalah: (1) mengutamakan unsur-unsur atau bagian-bagian kecil; (2) bersifat mekanistis; (3) menekankan peranan lingkungan; (4) mementingkan pembentukan reaksi atau respon; dan (5) menekankan pentingnya latihan (Syaoih sukamadinata, 2003:168).

Konektivisme merupakan teori yang paling awal dari rumpun behaviorisme. Menurut teori ini tingkah laku manusia tidak lain dari suatu hubungan antara perangsang jawaban atau stimulus respons sebanyak-banyaknya. Siapa yang menguasai hubungan stimulus respons sebanyak-banyaknya ialah orang pandai atau berhasil dalam belajar. pembentukan hubungan stimulus respons dilakukan melalui ulangan-ulangan. Dengan demikian teori ini memiliki kesamaan dalam cara mengajarnya dengan teori psikologi daya atau herbartisme.

Thorndike menghasilkan teori belajar “connectionism” karena belajar merupakan proses pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus dan respons. Thorndike mengemukakan tiga prinsip atau hukum dalam belajar yaitu : (1) law of readines, belajar akan berhasil jika individu memiliki kesiapan untuk melakukan kegiatan tersebut; (2) law of exercise yakni belajar akan berhasil apabila banyak latihan dan ulangan; (3) law of effect yaitu belajar akan bersemangat apabila mengetahui dan mendapatkan hasil yang baik. Ivan pavlov mengahasilkan teori belajar yang disebut “classical conditioning” atau stimuli substitusion”. Teori penguatan atau “reinforcement” merupakan pengembangan lebih lanjut dari teori konektivisme. Kalau pada pengkondisian (conditioning) yang diberi kondisi adalah perangsangan (stimulus), maka pada teori ini penguatan yang dikondisi atau diperkuat adalah responnya.

Jadi suatu respon diperkuat oleh penghargaan berupa nilai yang tinggi dari kemampuannya menyelesaikan soal-soal ujian. Pemberian nilai adalah penerapan teori penguatan yang disebut juga “operant conditioning” tokoh utamanya adalah Skinner yang mengembangkan program pengajaran dengan berpegang pada teori penguatan tersebut. Program pembelajaran yang terkenal dari skinner adalah “programmed instruction” dengan menggunakan media buku atau mesin pengajaran. Dalam pengajaran berprogram, bahan ajaran tersusun dalam potongan bahan kecil-kecil, dan disajikan dalam bentuk informasi dan tanya jawab.


Aditya Wahyu Prasetyo


Teori ini cocok untuk guru



Pembelajaran adalah sebuah kegiatan atau aktivitas yang berkaitan denggan ilmu untuk diajarkan kepada siswa melalui guru. Guru adalah penyeimbang, penuntun, pengarah, pemateri, pembimbing dan pelaksana proses pembelajaran. Yang mana pembelajaran dikatakan berhasil jika berlangsung dengan pembelajaran yang menarik, asik, dan penuh semangat serta timbul kenyamanan. Ini adalah tugas dari seorang guru untuk menciptakan suasana pembelajaran yang diharapkan oleh siswa dalam hal ini objek pembelajaran. Sebelum memalui berbagai proses pembelajaran alangkah baiknya kita memahami terlebih dahulu objek yang akan kita bidik yang akan kita rujuk yakni siswa yang mana siswa ini adalah manusia dan kita tahu bahwa manusia adalah mahluk hidup bukan benda mati yang bergerak layaknya robot. Kita tahu bahawa sifat dan karakter manusia memang berbeda-beda namun kita dari seorang guru untuk langkah awal ambil dengan karakter manusia secara umum dengen demikian akan mengarah pada karakter pribada dan itu adalah tugas guru untuk membentuk karakter individu yang baik sesuai apa yang diharapkan.

Bebicara pembelajaran dan guru tentunya berbicara mengenai teori, teori apa sih yang pantas untuk diajarkan oleh siswa. Memang kedudukan teori adalah sangat fundamental. Mengapa demikian? Ya, bagaimana bisa terlaksana pembelajaran yang baik jika teori saja belum memahami. Karena apa? Karena jika kita tahu dan memahami teori maka implementasi akan berjalan baik dan menghasilkan evaluasi yang baik pula semua berbanding lurus. Dari awal sudah saya katakan bahwa langkah awal adalah memahami kontekas dari manusia itu sendiri, kemudian dari penelitian tentang teori yang didapat terapkan kiranya mana yang pas untuk diterapkan didalam pembelajaran yang diharapkan oleh siswa. Teori tentang pembelajaran sangat banyak dari beberapa teori tersebut kiranaya perlu dicoba namun harus mengacu pada langkah awal tersebut.

Ini adalah beberapa teori mengenai pembelajaran. Teori – teori pembelajaran menjelaskan apa itu belajar dan bagaimana mana belajar itu terjadi.  Teori Behavioristik merupakan teori yang menyatakan bahwa belajar adalah perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antar stimulus dan respon.  Teori Pengkondisian Klasik menyatakan bahwa belajar merupakan suatu usaha dari organisme untuk mengaitkan atau mengasosiasikan stimulus yang pada akhirnya menghasilkan sustu respon.  Teori Gestalt lebih menekankan belajar adalah kecenderungan mempersepsikan apa yang terlihat dari lingkungannya sebagai kesatuan yang utuh. Inti dari Teori Skinner adalah dimana konsekunsi prilaku akan menyebabkan perubahan dalam probabilitas prilaku itu akan terjadi .  Teori Gane menyatakan bahwa belajar bukan merupakan proses tunggal melainkan proses luas yang dibentuk oleh pertumbuhan dan perkembangan tingkah laku.  

Bahwa teori pembelajaran di dalamnya terdapat tata cara pengaplikasian kegiatan belajar mengajar antara guru dan siswa, perancangan metode pembelajaran yang akan dilaksanakan di kelas maupun di luar kelas. Guru adalah penuntu mau dibawa kemana siswa mau dibuat seperti apa siswa dan akan seperti apa siswa jadi teori-teori tersebut harus belandas pada apa kemauan siswa apa yang diharapkan siswa dan akan seperti apa siswa.

Aditya Wahyu Prasetyo