Showing posts with label Model-Model Pembelajaran. Show all posts
Showing posts with label Model-Model Pembelajaran. Show all posts

Saturday, December 20, 2014

Model Pembelajaran Inquiry

Oleh Ali Rosyid
Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang
alie.rossyid@gmail.com

   Metode Inquiry yaitu sebuah metode pembelajaran dimana guru berusaha mengarahkan siswa untuk mampu menyadari apa yang sudah didapatkan selama belajar. Sehingga siswa mampu berfikir dan terlibat dalam kegiatan intelektual dan memproses pengalaman belajar itu menjadi sesuatu yang bermakna dalam kehidupan nyata.
   Model Pembelajaran Inquiry dilakukan dengan tahapan:
1.    Tahapan penyajian masalah
Guru memberikan pertanyaan-pertanyaan yang dapat memancing siswa untuk mengumpulkan informasi.Keterlibatan siswa pada tahap ini adalah (1) memberi respon positif terhadap masalah yang dikemukakan, (2) mengungkapkan ide awal.
2.    Tahapan verifikasi data
Guru memberikan pertanyaan pengarah sehingga siswa mampu mengidentifikasi dan merumuskan hipotesis.Keterlibatan siswa pada tahap ini yaitu (1) melakukan pengamatan terhadap masalah yang diberikan, (2) merumuskan masalah, (3) mengidentifikasi masalah, (4) membuat hipotesis, dan (5) merancang eksperimen.
3.    Megadakan eksperimen dan pengumpulan data
Pada tahap ini siswa diajak melakukan eksperimen atau mengumpulkan data dari permasalahan yang ada. Peran siswa dalam tahap ini yaitu (1) melakukan eksperimen atau pengumpulan data,dan (2) melakukan kerjasama dalam mengumpulkan data.
4.    Merumuskan penjelasan
Guru mengajak siswa untuk melakukan analisis dan diskusi terhadap hasil yang diperoleh sehingga siswa mendapatkan konsep dan teori yang benar sesuai konsepsi ilmiah. Keterlibatan siswa dalam tahap ini adalah (1) melakukan diskusi, dan (2) menyimpulkan hasil pengumpulan data.
5.    Mengadakan analisis
Guru meminta kepada siswa untuk mencatat informasi yang diperoleh serta diberi kesempatan bertanya tentang apasaja yang berkaitan dengan informasi yang mereka peroleh sebelumnya lalu kemudian guru memberikan latihan soal-soal jika dipelukan. Keterlibatan siswa dalam tahap ini yaitu (1) mencatat informasi yang diperoleh, (2) aktif bertanya,dan (3) mengerjakan soal.

Ada beberapa hal yang menjadi karakteristik  atau ciri-ciri utama pembelajaran inquiry adalah sebagai berikut :
1.    Pembelajaran inquiry menekankan pada aktifitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya pembelajaran inquiry menempatkan siswa sebagai subjek belajar.
2.    Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan sendiri sesuatu yang dipertanyakan sehingga dapat menumbuhkan sikap percaya diri.
3.    Membuka intelegensi siswa dan mengembangkan daya kreativitas siswa.

Strategi Pembelajaran inquiry efektif apabila :
1.    Guru mengharapkan siswa dapat menemukan sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang ingin dipecahkan.
2.    Jika bahan pelajaran yang akan diajarkan tidak berbentuk fakta atau konsep yang sudah jadi, akan tetapi sebuah kesimpulan yang perlu pembuktian.
3.    Jika proses pembelajaran berangkat dari ingin tahu siswa terhadap sesuatu.

Berikut adalah kelebihan dan kekurangan mengenai model inquiry, yaitu :
1.        Kelebihan
a.       Model pembelajaran inquiry dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
b.      Model pembelajaran inquiry merupakan model pembelajaran yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
c.       Model pembelajaran inquiry merupakan model pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang,  sehingga pembelajaran melalui strategi ini dianggap lebih bermakna.
2.      Kekurangan
a.       Jika model pembelajaran inquiry digunakan sebagai model pembelajaran, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
b.      Model ini sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena itu terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
c.       Dalam mengimplementasikanya memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.

Sumber:
http://smantostop.blogspot.com/2012/07/model-pembelajaran-inquiry-dan-langkah.html

Friday, December 19, 2014

Strategi Pembelajaran Take and Give

Oleh Rian Rifqi Ariyanto
Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Take and Give berasal dari kata Bahasa Inggris yang artinya “saling memberi dan menerima”. Pernyataan ini digunakan sebagai prinsip dalam strategi pembelajaran Take and Give. Take and Give merupakan strategi pembelajaran pembelajaran yang diawali dengan penyajian data dengan memberikan kartu kepada siswa. Kartu tersebut berisi catatan yang harus dikuasai atau dihafal oleh siswa. Kemudian siswa mencari pasangan untuk bertukar pengetahuan sesuai dengan catatan di kartu yang didapat. Kemudian evaluasi pembelajarannya dilakukan dengan cara menanyakan siswa mengenai materi yyang ada di catatan kartu yang didapat dan pengetahuan yang didapat dari kartu teman pasangannya.
Dengan demikian dapat kita ambil kesimulan bahwa komponen dalam strategi Pembelajarn Take and Give adalah penguasaan materi melalui kartu, keterampilan bekerja berrpasangan dan sharing informasi, serta evaluasi dari guru untuk mengetahui penguasaan materi yang di dapat dari kartu sendiri dan kartu teman pasangannnya.
Adapun sintak dari strategi pembelajaran Take and Give adalah sebagai berikut : 1). Guru mempersiapkan kartu dan menuliskan poin-poin penting yang akan dikuasai siswa; 2). Guru mendesain kelas sebagaimana semestinya; 3). Guru menjelaskan materi sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai; 4). Untuk memantapkan pemahaman siswa, mereka diberi masing-masing satu kartu untuk dipelajari atau dihafal; 5). Setelah dipelajari, siswa disuruh mencari pasangan untuk saling berbagi informasi. Setiap siswa harus mencatat nama pasangannya pada kartu yang dipegangnya; 6). Demikian seterusnya sampai setiap siswa dapat saling memberi dan menerima materi masing-masing (Take and Give); 7). Untuk mengevaluasi keberhasilan siswa, guru mempertanyakan kepada siswa mengenai materi yang tidak sesuai dengan kartu; 8). Strategi ini dapat dimodifikasi sesuai dengan situasi yang ada; 9). Guru menutup pembelajaran.
Setrategi Take and Give memiliki beberapa kelebihan, diantaranya strategi ini dapat dimodiifikasi dengan keinginan dan situasi pembelajaran, melatih siswa untuk bekerjasama dan menghargai kemampuan orang lain, melatih interaksi antar siswa dalam kelas, memperdalam dan mempertajam pengetahuan siswa melalui kartu yang dibagikan, meningkatkan tanggung jawab siswa, karena setiap siswa harus mengusai kartu yang didapat diminta untuk sharing kepada teman pasanganya.
Selain itu, strategi Take and Give juga memiliki beberapa kekurangan, diantaranya yaitu kesulotan dalam mendisiplinkan siswa dalam kelonpok-kelompok, kesulitan bagi siswa yang sulit menghafal atau memahami materi dan mengomunikasikannya dengan dengan pasangannya, kecenderungan terjadinya free riders dalam setiap kelompok, khususnya bagi siswa yang sudah akrab satu sama lain.

Sumber : Huda, M. (2013). Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Malang: Pustaka Pelajar Offset.

Thursday, December 18, 2014

Model Pembelajaran Tari Bambu

Oleh Cahya Aristya Buana
Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang
Model Pembelajaran Tari Bambu mempunyai tujuan agar siswa saling berbagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dalam waktu singkat secara teratur, strategi ini cocok untuk materi yang membutuhkan pertukaran pengalaman pikiran dan informasi antar siswa. Meskipun namanya Tari Bambu tetapi tidak menggunakan bambu. Siswa yang berjajarlah yang diibaratkan sebagai bambu.
1.   Pengenalan Teknik Tari Bambu
Tari bambu merupakan pengembangan dan modifikasi dari teknik lingkaran kecil lingkaran besar. Di beberapa kelas, teknik lingkaran kecil lingkaran besar sering kali tidak bisa dilaksanakan karena kondisi penataan ruang kelas yang tidak menunjang. Tidak ada cukup ruang di dalam kelas untuk membentuk lingkaran dan tidak selalu memungkinkan untuk membawa siswa keluar dari ruang kelas dan belajar di alam bebas.
2.   Penerapan belajar Kooperatif Tipe Tari Bambu
Langkah-langkah belajar kooperatif tipe tari bambu menurut Huda (2013:148) sebagai berikut.
Tari Bambu Individu :
1.    Separuh kelas (atau seperempat jika jumlah siswa telalu banyak) berdiri berjajar.
2.    Kemungkinan lain adalah siswa berjajar di sela-sela deretan bangku.
3.    Separuh kelas lainnya berjajar dan menghadap jajaran yang pertama.
4.    Dua siswa yang berpasangan dari kedua jajaran berbagi informasi.
5.    Kemudian, satu atau dua siswa yang berdiri di ujung salah satu jajaran pindah keujung lainnya di jajarannya. Jajaran ini kemudian bergeser.
Tari Bambu Kelompok :
1.         Satu kelompok berdiri di satu jajaran berhadapan dengan kelompok lain.
2.         Kelompok bergeser seperti prosedur Tari Bambu Individu di atas, kemudian mereka pun saling berbagi informasi.
Sedangkan Suprijono (2013:98) menjelaskan bahwa pembelajaran dengan metode bamboo dancing (tari bambu) serupa dengan metode inside outside circle. Pembelajaran diawali dengan pengenalan topik oleh guru. Guru bisa menuliskan topik tersebut di papan tulis atau dapat pula guru bertanya jawab apa yang diketahui peserta didik mengenai topik itu. Kegiatan sumbang saran ini dimaksudkan untuk mengaktifkan struktur kognitif yang telah dimiliki peserta didik agar lebih siap menghadapi pelajaran yang baru.
Selanjutnya, guru membagi kelas menjadi 2 kelompok besar. Jika dalam satu kelas ada 40 orang, maka tiap kelompok besar terdiri 20 orang. Aturlah sedemikian rupa pada tiap-tiap kelompok besar yaitu sepuluh orang berdiri berjajar saling berhadapan dengan 10 orang lainnya yang juga dalam posisi berdiri berjajar. Dengan demikian di dalam tiap-tiap kelompok besar mereka saling berpasang-pasangan. Pasangan ini disebut sebagai pasangan awal. Bagikan tugas kepada setiap pasangan untuk dikerjakan atau dibahas. Pada kesempatan itu berikan waktu yang cukup kepada mereka agar mendiskusikan tugas yang diterimanya.
Usai diskusi, 20 orang dari tiap-tiap kelompok besar yang berdiri berjajar saling berhadapan itu bergeser mengikuti arah jarum jam. Dengan cara ini tiap-tiap peserta didik akan mendapat pasangan baru dan berbagi informasi, demikian seterusnya. Pergeseran searah jarum jam baru berhenti ketika tiap-tiap peserta didik kembali ke pasangan asal.

 Hasil diskusi di tiap-tiap kelompok besar kemudian dipresentasikan kepada seluruh kelas. Guru memfasilitasi terjadinya intersubjektif, dialog interaktif, tanya jawab dan sebagainya. Kegiatan ini dimaksudkan agar pengetahuan yang diperoleh melalui diskusi di tiap-tiap kelompok besar dapat diobjektivikasi dan menjadi pengetahuan bersama seluruh kelas.

Wednesday, December 17, 2014

Pembelajaran Kontekstual

Oleh Diwan Aprillia
Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) merupakan suatu proses pendidikan yang bertujuan memotivasi siswa agar memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan dan keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks yang lainnya.
CTL merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep ini, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung lebih alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa.
Pembelajaran kontekstual dengan pendekatan konstruktivisme dipandang sebagai salah satu strategi yang memenuhi prinsip-prinsip pembelajaran berbasis kompetensi. Dengan lima strategi pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning), yaitu relating, experiencing, applying, cooperating, dan transferrini diharapkan peserta didik mampu mencapai kompetensi secara maksimal.
Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja ber-sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesu-atu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual.

Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan-nya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidu-pan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelaaran efektif, yakni: konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment).

Tuesday, December 16, 2014

Model Pembelajaran Complete Sentence

Oleh Darsiyah
Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Dalam pembelajaran biasnya seorang guru mencari cara untuk mempermudah dalam proses pembelajaran, model pembelajaran yang dipilih dan diterapkan disesuaikan dnegan materi yang hendak disampaikan. Salah satunya yaitu model pembelajaran Complete Sentence.
Complete Sentence merupakan salah satu strategi pembelajaran yang berusaha mempertimbangkan kemampuan siswa untuk memprediksi fragmen-fragmen teks yang ditugaskan kepada mereka. Complete sentence memiliki serangkaian proses pembelajaran yang diawali dengan penyampaian materi ajar oleh guru, analisi terhadap modul yang telah dipersiapkan, pembagian kelompok yang tidak boleh lebih dari tiga orang dengan kemampuan yang heterogen, penberian lembar kerja yang berisi paragraf yang belum lengkap, lalu pemberian kesempatan kepada siswa untuk berdiskusi dan diakhiri dengan pengambilan kesimpulan.
Adapun sintak langkah-langkah penerapan startegi pembelajaran Complete Sentence antara lain sebagai berikut :


  • a.       Guru mempersiapkan lembar kerja siswa dan modul.
  • b.      Guru menyampaikan kompetensi yang dicapai.
  • c.       Guru menyampaikan materi secukupnya atau siswa diminta membacakan buku atau modul dengan waktu secukupnya.
  • d.      Guru membentuk kelompok 2 atau 3 orang secara heterogen.
  • e.       Guru membagikan lembar kerja yang berupa paragraph yang kalimat-kalimat di dalamnya belum lengkap.
  • f.        Siswa berdiskusi untuk melengkapi paragraph-paragraf tersebut dengan kunci jawaban yang tersedia.
  • g.       Siswa berdiskusi secara berkelompok.
  • h.      Setelah jawaban didiskusikan, jawaban yang salah diperbaiki. Tiap siswa membacasampai mereka mengerti atau hafal.
  • i.         Guru mengakhiri pembelajaran.

Dengan demikian, komponen penting dalam pembelajaran ini adalah modul, pembentukan kelompok secara heterogen yang maksimal tiga orang, diskusi dan pengambilan kesimpulan.

Strategi Complete Sentence memiliki beberapa kelebihan antara lain :

  • 1.      Penyajian materi yang terarah dan sistematis, sebab guru terlebih dahulu menjabarkan uraian materi sebelum pembagian kelompok.
  • 2.      Melatih siswa untuk bekerjsama dan menghargai orang lain dalam berdiskusi.
  • 3.      Melatih siswa untuk berinteraksi secara baik dengan teman sekelasnya.
  • 4.      Memperdalam dan mempertajam pengetahuan siswa melalui  lembar kerja yang dibagikan, sebab mereka harus menghafal atau setidak-tidaknya memahami materi untuk bisa mengerjakan tugas menyempurnakan kalimat dengan tepat dan benar.
  • 5.      Meningkatkan rasa tanggung jawab siswa, karena masing-masing siswa dimintai tanggung jawabnya atas hasil diskusi.

Akan tetapi complete sentence juga memiliki kelemahan-kelemahan tertentu seperti :
1.      Kecenderungan hanya sebagian siswa saja yang aktif dalam diskusi.
2.      Pembicaraan dalam diskusi seringkali keluar dari metri pembelajaran.
3.      Perbedaan tingkat pemahaman dan penghafalan siswa atas materi pelajaran.

4.      Ketidakmampuan beberapa siswa untuk menyampaikan pendapatnya dengan percaya diri dalam diskusi kelompok. 

Monday, December 15, 2014

Pendekatan Konstruksivisme dalam Pembelajaran

Oleh Mubashiroh
Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang
Pendekatan konstruktivisme merupakan proses pembelajaran yang menerangkan bagaimana pengetahuan disusun dalam pemikiran pelajar. Pengetahuan dikembangkan secara aktif oleh pelajar itu sendiri dan tidak diterima secara pasif dari orang disekitarnya. Hal ini bermakna bahwa pembelajaran merupakan hasil dari usaha pelajar itu sendiri dan bukan hanya ditransfer dari guru kepada pelajar. Hal tersebut berarti siswa tidak lagi berpegang pada konsep pengajaran dan pembelajaran yang  lama, dimana guru hanya menuangkan atau mentransfer ilmu kepada siswa tanpa adanya usaha terlebih dahulu dari siswa itu sendiri.
Steffe dan Kieren (1995) mengungkapkan “beberapa prinsip pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme diantaranya bahwa observasi dan mendengar aktivitas serta pembicaraan matematika siswa adalah sumber yang kuat dan petunjuk untuk mengajar, untuk kurikulum, dan untuk cara-cara dimana pertumbuhan pengetahuan siswa dapat dievaluasi”. Dalam konstruktivisme proses pembelajaran senantiasa “problem centered approach”  dimana guru dan siswa terikat dalam pembicaraan yang mempunyai makna matematika. Ciri-ciri tersebutlah yang akan mendasari pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme. (dalam Suherman, 2003).
Prinsip konstruktivisme telah banyak digunakan dalam pembelajaran. Menurut Mohammad (2004:4) prinsip utama dalam pembelajaran konstrutivisme adalah: (1) Penekanan pada hakikat sosial dari pembelajaran, yaitu peserta didik belajar  melalui interaksi dengan guru atau teman. (2) Zona perkembangan terdekat, yaitu belajar konsep yang baik adalah jika konsep itu berada dekat dengan peserta didik. (3) Pemagangan kognitif, yaitu peserta didik memperoleh ilmu secara bertahap dalam berinteraksi dengan pakar, (3) Mediated learning, yaitu diberikan tugas komplek, sulit, dan realita kemudian baru diberi bantuan. Pendekatan konstruktivisme lebih menekankan keaktifan dan peran serta peserta didik dalam pembelajaran, sedangkan guru hanya sebagai fasilitator sebagaimana yang dituntut oleh kurikulum.
Pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme ini akan memberikan keuntungan kepada siswa, yaitu dapat membiasakan siswa belajar mandiri dalam memecahkan masalah, menciptakan kreativitas untuk belajar sehingga tercipta suasana kelas yang lebih nyaman dan kreatif, terjalinnya kerja sama sesama siswa, dan siswa terlibat langsung dalam melakukan kegiatan, dan dapat menciptakan pembelajaran menjadi lebih bermakna karena timbulnya kebanggaan siswa menemukan sendiri konsep yang sedang dipelajari dan siswa akan bangga dengan hasil temuannya, serta melatih siswa berpikir kritis dan kreatif. Sedangkan kelemahannya adalah siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya, tidak jarang bahwa hasil konstruksi siswa tidak cocok dengan hasil konstruksi para ahli matematika, hal ini dapat mengakibatkan salah pengertian (miskonsepsi).   

Saturday, December 13, 2014

PEMBELAJARAN OTENTIK (OUTENTIC LEARNING)

Oleh Ali Rosyid
Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang
alie.rossyid@gmail.com

Menurut definisi, "belajar otentik" berarti pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata dan proyek-proyek dan yang memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi dan membahas masalah-masalah ini dengan cara yang relevan untuk mereka.
Pembelajaran otentik (authentic learning) adalah sebuah pendekatan pembelajaran yang memungkinkan siswa menggali, mendiskusikan, dan membangun secara bermakna konsep-konsep dan hubungan-hubungan, yang melibatkan masalah nyata dan proyek yang relevan dengan siswa (Donovan, Bransford & Pallegrino, 1999). Istilah ‘otentik’ berarti asli, sejati, dan nyata (Webster’s Revised Unabridged Dictionary, 1998). Pembelajaran ini dapat digunakan untuk siswa pada semua tingkatan kelas, maupun siswa dengan berbagai macam tingkat kemampuan.
Literatur menunjukkan bahwa pembelajaran otentik memiliki beberapa karakteristik kunci diantaranya yaitu:
1.        Belajar adalah berpusat pada tugas-tugas otentik yang menarik bagi peserta didik.
2.        Siswa terlibat dalam eksplorasi dan penyelidikan.
3.        Belajar, paling sering, adalah interdisipliner.
4.        Belajar sangat erat hubungannya dengan dunia di luar dinding kelas.
5.        Siswa menjadi terlibat dalam tugas-tugas kompleks dan-order kemampuan berpikir lebih tinggi, seperti menganalisis, sintesis, merancang, memanipulasi dan mengevaluasi informasi.
6.        Siswa menghasilkan produk yang bisa dibagi dengan pemirsa di luar kelas.
7.        Belajar adalah siswa didorong dengan guru, orang tua, dan para ahli di luar semua membantu / pembinaan dalam proses pembelajaran.
8.        Pembelajar menggunakan perancah teknik.
9.        Siswa memiliki peluang untuk wacana sosial.(Donovan et al;., 1999 Newman & Associates, 1996; Newmann et al;., 1995 Nolan & Francis, 1992).
Pembelajaran otentik sangat berbeda dengan metode-metode pembelajaran yang tradisional dengan Ciri-ciri pembelajarannya yaitu:
1.        Belajar berpusat pada tugas-tugas otentik yang menggugah rasa ingin tahu siswa. Tugas otentik berupa pemecahan masalah nyata yang relevan dengan kehidupan siswa;
2.        Siswa terlibat dalam kegiatan menggali dan menyelidiki;
3.        Belajar bersifat interdisipliner;
4.        Belajar terkait erat dengan dunia di luar dinding ruang kelas;
5.        Siswa mengerjakan tugas rumit yang melibatkan kecakapan berpikir tingkat tinggi, seperti menganalisis, mensintesis, merancang, mengolah dan mengevaluasi informasi;
6.        Siswa menghasilkan produk yang dapat dibagikan kepada audiens di luar kelas;
7.        Belajar bersifat aktif dan digerakkan oleh siswa sendiri, sedangkan guru, orangtua, dan narasumber bersifat membantu atau mengarahkan;
8.        Guru menerapkan pemberian topangan (scaffolding), yaitu memberikan bantuan seperlunya saja dan membiarkan siswa bekerja secara bebas manakala mereka sanggup melakukannya sendiri;
9.        Siswa berkesempatan untuk terlibat dalam wacana dalam masyarakat;
10.    Siswa bekerja dengan banyak sumber;
11.    Siswa seringkali bekerja bersama dan mempunyai kesempatan luas untuk berdiskusi dalam rangka memecahkan masalah.
Berikut adalah Kelebihan dan Kekurangan model pembelajaran otentik, yaitu:
1.    Kelebihan
a.    Siswa tidak merasa jenuh terhadap pembelajaran karena pembelaaran dapat terjadi dimana saja.
b.    Siswa mempunyai keterampilan yang lebih dalam menganalisis wacana social
c.     Siswa mempunyai pengalaman belajar yang mumpuni dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya
d.    Pembelajaran berpusat pada siswa, sehingga memungkinkan siswa memahami materi secara utuh.
2.    Kekurangan
a.    Pembelajaran Otentik cenderung hanya dapat dilakukan pada siswa yang memiliki taraf intelegensi diatas rata-rata sehingga pembelajaran berjalan secara aktif
b.    Tidak semua materi pelajaran dapat menggunakan pembelajaran otentik, karena materi yang sesuai dengan pembelajaran otentik bersifat studi social
c.     Memerlukan waktu, biaya, dan tenaga ektra dari siswa untuk melaksanakannya. 
Referensi: