Showing posts with label Teori Belajar. Show all posts
Showing posts with label Teori Belajar. Show all posts

Wednesday, December 31, 2014

Teori Hemisphere dalam Pembentukan Proses Berpikir Kritis, Kreatif, dan Problem Solver pada Anak



Oleh : Zakiyah Umaroh

Dunia pendidikan saat ini jauh lebih maju daripada pendidikan di jaman dulu. Program-program pendidikan yang dibuat pun sudah sangat berbeda. Perjalanan program-program pendidikan dibuat sesuai dengan perkembangan jaman dengan harapan dan tujuan menjadikan anak mampu berpikir kritis, kreatif, dan menjadi problem solver. Proses menciptakan anak berpikir kritis, kreatif, dan menjadi problem solver bukanlah sesuatu yang mudah dan tentu membutuhkan waktu yang lama. Itulah sebabnya dunia pendidikan perlu adanya perubahan-perubahan dalam strategi, metode, dan teknik pembelajaran agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara optimal.
Penciptaan lingkungan belajar oleh guru sangatlah berpengaruh terhadap proses belajar anak. Lingkungan yang memberikan kebebasan daya kreatif siswa, pemberian masalah-masalah yang relevan dengan kehidupan anak sehari-hari, dan diajak berpikir secara sistematis akan menghasilkan pembelajaran yang menyenangkan bagi anak dan menjadikannya memiliki alur berpikir kritis, kreatif, dan menjadi problem solver dalam menghadapi berbagai tantangan yang dia temui. Selain itu, anak juga dapat mengembangkan kemampuannya serta dapat menyesuaikan diri dengan pengetahuan yang baru.
Mengembangkan kreativitas dan intelektual pada anak semuanya berkaitan dengan teori hemisphere dimana teori ini menjelaskan tentang belahan otak kanan dan otak kiri. Jadi dalam proses pengajaran dan pembelajaran guru dapat menggunakan pendekatan dengan cara yang disamakan dengan bagaimana otak belajar secara alamiah.

Mengenal Teori Belajar Berpikir Kritis

Oleh : Zakiyah Umaroh

Berpikir kritis adalah suatu aktifitas kognitif yang berkaitan dengan penggunaan nalar. Belajar untuk berpikir kritis berarti menggunakan proses-proses mental, seperti memerhatikan, mengkategorikan, seleksi, dan menilai/memutuskan. Kemampuan dalam berpikir kritis memberikan arahan yang tepat dalam berpikir dan bekerja, dan membantu dalam menentukan keterkaitan sesuatu dengan yang lainnya dengan lebih akurat. Oleh sebab itu kemampuan berpikir kritis sangat dibutuhkan dalam pemecahan masalah atau pencarian solusi, dan pengelolaan proyek.

Kemampuan berpikir kritis merupakan kemampuan yang sangat esensial untuk kehidupan, pekerjaan, dan berfungsi efektif dalam semua aspek kehidupan lainnya. Berpikir kritis telah lama menjadi tujuan pokok dalam pendidikan. Pada prakteknya penerapan proses belajar mengajar kurang mendorong pada pencapaian kemampuan berpikir kritis. Dua faktor penyebab berpikir kritis tidak berkembang selama pendidikan adalah kurikulum yang umumnya dirancang dengan materi yang luas sehingga pengajar lebih terfokus pada penyelesaian materi dan kurangnya pemahaman tentang metode pengajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis.

Model siklus belajar (learning cycle model) merupakan suatu strategi pembelajaran yang berbasis pada paham konstruktivisme dalam belajar, dengan asumsi dasar bahwa “pengetahuan dibangun di dalam pikiran pebelajar”. Dasar pemikiran para konstruktivis adalah bahwa proses pembelajaran yang efektif menghendaki agar guru mengetahui bagaimana para siswa memandang fakta dan fenomena yang menjadi subjek pembelajaran.

Model siklus belajar (learning cycle model) terdiri atas tiga fase aktivitas belajar yang dapat digunakan untuk memotivasi siswa dalam memahami gejala-gejala alam yang kompleks melalui pengalaman langsung. Melalui model siklus belajar para siswa akan memperoleh kesempatan untuk memberi penjelasan dan mengemukakan argumentasinya, melakukan interprestasi, dan memperbaiki gagasannya. Sehingga akan melatih siswa untuk dapat berpikir secara kritis.

Mengajarkan Keterampilan Berpikir Kritis pada Siswa

Oleh : Zakiyah Umaroh

Pendidikan dewasa ini harus diarahkan pada peningkatan daya saing bangsa agar mampu berkompetisi dalam persaingan global. Hal ini bisa tercapai jika pendidikan di sekolah diarahkan tidak semata-mata pada penguasaan dan pemahaman konsep-konsep ilmiah, tetapi juga pada peningkatan kemampuan dan keterampilan beripikir siswa, khususnya keterampilan berpikir tingkat tinggi yaitu keterampilan berpikir kristis. Artinya, guru perlu mengajarkan siswanya untuk belajar berpikir.
Kehidupan dalam era globalisasi dipenuhi oleh persaingan-persaingan yang sangat ketat. Keunggulan dalam bersaing terletak pada kemampuan dalam mencari dan menggunakan informasi, kemampuan analitis-kritis, keakuratan dalam pengambilan keputusan, dan tindakan yang proaktif dalam memanfaatkan peluang-peluang yang ada. Oleh karena itu, maka kemampuan berpikir dasar, perlu dijadikan sebagai substansi yang harus digarap secara serius dalam dunia pendidikan. Kemampuan berpikir dasar ini harus terus dikembangkan menuju kemampuan dan keterampilan berpikir kritis.
Berpikir kritis merupakan topik yang penting dan vital dalam era pendidikan modern. Tujuan khusus pembelajaran berpikir kritis dalam pendidikan sains maupun disiplin yang lain adalah untuk meningkatkan keterampilan berpikir siswa dan sekaligus menyiapkan mereka agar sukses dalam menjalani kehidupannya. Lebih lanjut, berpikir kritis dimaksudkan sebagai berpikir yang benar dalam pencarian pengetahuan yang relevan dan reliabel tentang dunia realita. Seseorang yang berpikir secara kritis mampu mengajukan pertanyaan yang cocok, mengumpulkan informasi yang relevan, bertindak secara efisien dan kreatif berdasarkan informasi, dapat mengemukakan argumen yang logis berdasarkan informasi, dan dapat mengambil simpulan yang dapat dipercaya.
Untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan berpikir kritis siswa dalam proses pembelajaran perlu dilakukan strategi-strategi sebagai berikut. Pertama, menyeimbangkan antara konten dan proses, dalam penyajian materi pelajaran agar diseimbangkan antara konten dan proses. Dalam pelajaran sains, harus seimbang antara sains sebagai produk (penyajian fakta, konsep, prinsip, hukum, dsb) dan sains sebagai proses (keterampilan proses sains), seperti mengobsevasi kejadian, merumuskan masalah, berhipotesis, mengukur, menyimpulkan, dan mengontrol variabel. Kedua, seimbangkan antara ceramah (lecture) dan diskusi (interaction), teori belajar Piaget menekankan bahwa pentingnya transmisi sosial dalam mengembangkan struktur mental yang baru. Ketiga, ciptakan diskusi kelas, guru sebaiknya memulai presentasi dengan ”pertanyaan” Ajukan pertanyaan yang dapat mengkreasi suasana antisipasi dan partisipatif.

Mengenal Teori Hemisphere

Oleh : Zakiyah Umaroh

Otak adalah asalah satu organ yang dimiliki oleh setiap manusia. Tanpanya seluruh aktivitas tubuh tak akan bisa berjalan. Berarti tanpa otak manusia tak bisa apa-apa alias mati. Untuk itu ayo kita belajar mengenai otak menurut Teori Hemisphere.
Teori hemisphere atau yang lebih kita kenal dengan nama teori belahan otak atau juga sering sering disebut teori otak kanan otak kiri. Menurut teori ini otak terbagi menjadi dua belahan yaitu belahan otak kanan dan belahan otak kiri. Kedua belahan otak ini terdiri dari cerebracortex atau neocortex termasuk belahan system limbic-nya. Kedua belahan otak ini semuanya dihubungkan oleh tiga penghubung yaitu Corpus Colasum, Hippopocompal Commissure, dan Anterior Connissure. Walaupun sama-sama namanya belahan otak namun harus diketahui bahwa antara belahan otak kanan dan otak kiri memiliki tugas dan mekanisme kerja yang berbeda loh!
Belahan otak kanan (right cortex) berfungsi untuk mengendalikan bagian tubuh yang sebelah kiri. Sedangkan balahan otak kiri (left cortex) berfungsi untuk mengendalikan bagian tubuh sebelah kanan. Mekanisme kerja belahan otak kanan yaitu otak kanan cara kerjanya bersifat acak, tidak teratur, intuitif, dan holistik. Sedangkan otak kiri cara kerjanya bersifat urut, logis, sekuensial, linier dan rasional. Teori belahan otak kanan adalah belahan yang lebih berfungsi dalam hal kreatifitas. Belahan otak kanan memiliki fungsi dalam hal berkreatifitas. Belahan otak kanan berhubungan erat dengan proses penyimpanan informasi tentang gambar, imajinasi, warna, ritme dan ruang. Sedangkan belahan otak kiri berperan dalam kegiatan motorik (motor sequence) yaitu berhubungan dengan logika, analisa, bahasa, rangkaian dan matematika. Belahan otak kiri berespon pada pendapat, dan berhubungan dengan angka/bilangan, kata-kata, logika, urutan atau daftar, dan detail atau rincian-rincian.
Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menyeimbangkan kerja otak kanan dan otak kiri pada kegiatan pembelajaran misalnya, kita bisa belajar sambil mendengarkan musik. Dalam belajar kita memanfaatkan otak kiri sedangkan ketika kita mendengarkan music maka kita juga telah memberdayakan otak kanan. Jadi dalam kegiatan belajar sambil mendengarkan musik adalah suatu cara yang digunakan untuk menyeimbangkan antara otak kanan dan otak kiri. Melalui penyeimbangan ini kita tidak akan merasa cepat stress, bosan dalam melakukan setiap kegiatan, selain itu kegiatan juga akan lebih menarik dan lebih menggugah semangat karena dengan mendengarkan musik kita merasa lebih rileks.

Manfaat Kreativitas untuk Semua Hal

Oleh : Zakiyah Umaroh

Banyak yang berpikir jika kreativitas hanya dapat berguna dalam bidang seni saja. Padahal, dalam semua aspek kehidupan kita memerlukan yang namanya kreativitas. Banyak juga orang yang belum paham benar tentang arti dari kreativitas. Lalu, apa sih kreativitas itu ?
Kreativitas adalah proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan atau konsep baru, atau hubungan baru antara konsep dan gagasan yang sudah ada. Sebagai alternatif, konsepsi sehari-hari dari kreatif adalah tindakan memunculkan sesuatu yang baru.
Kata kunci dari kreativitas adalah “baru”. Dan disini yang dimaksud dengan baru bukanlah sesuatu yang benar-benar baru, bisa juga merupakan gabungan dari konsep dan gagasan yang sudah ada sebelumnya. Hal ini perlu ditekankan, karena jika kita salah mengartikan tentang kata “baru”, maka kita tidak akan pernah menjadi kreatif karena kita beranggapan bahwa kita tidak mungkin bisa menghasilkan sesuatu yang baru.
Manfaat kreativitas itu sendiri adalah untuk menghasilkan manfaat baru yang lebih baik dari sebelumnya. Dan hasil dari kreativitas adalah ide, gagasan, atau konsep, dan bukan benda. Benda sendiri disini merupakan kelanjutan dari hasil kreativitas kita. Dan orang kreatif adalah orang yang mampu mengasilkan ide yang banyak, sesuai dengan teori hemisphere tentang penggunaan otak yang seimbang.

Ciri-Ciri Kemampuan Berfikir Kritis


Oleh : Zakiyah Umaroh

Kemampuan berpikir kritis dapat diajarkan di sekolah melalui cara-cara langsung. Dengan memunculkan kemampuan-kemampuan berpikir kritis akan melatih siswa untuk mampu bersikap rasional dan memilih pilihan yang terbaik bagi dirinya. Siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis akan selalu bertanya pada diri sendiri dalam setiap menghadapi segala persoalan untuk menentukan yang terbaik bagi dirinya.
Kemampuan berpikir kritis tidak lain adalah kemampuan siswa dalam menghimpun berbagai informasi lalu membuat sebuah kesimpulan evaluatif dari berbagai informasi tersebut (Dede Rosyada, 2004: 170). Beyer (dalam Sapriya, 2011: 146) menegaskan bahwa ada seperangkat keterampilan berpikir kritis yang dapat digunakan dalam studi sosial atau untuk pembelajaran disiplin ilmu-ilmu sosial. Keterampilan-keterampilan tersebut adalah: (1) Membedakan antara fakta dan nilai dari suatu pendapat; (2) Menentukan reliabilitas sumber; (3) Menentukan akurasi fakta dari suatu pernyataan; (4) Membedakan informasi yang relevan dari yang tidak relevan; (5) Mendeteksi penyimpangan; (6) Mengidentifikasi asumsi yang tidak dinyatakan; (7) Mengidentifikasi tuntutan dan argument yang tidak jelas atau samar-samar; (8) Mengakui perbuatan yang keliru dan tidak konsisten; (9) Membedakan antara pendapat yang tidak dan dapat dipertanggungjawabkan; (10) Menentukan kekuatan argumen.

Dari penjelasan di atas terkait ciri-ciri kemampuan berpikir kritis, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ciri-ciri berpikir kritis meliputi :
  1. Kemampuan mengidentifikasi. Pada tahapan ini terdiri atas mengumpulkan dan menyusun informasi yang diperlukan, mampu menentukan pikiran utama dari suatu teks atau script, dan dapat menjelaskan hubungan sebab akibat dari suatu pernyataan.
  2. Kemampuan mengevaluasi. Hal ini terdiri atas dapat membedakan informasi relevan dan tidak relevan, mendeteksi penyimpangan, dan mampu mengevaluasi pernyataan-pernyataan.
  3. Kemampuan menyimpulkan. Hal ini terdiri atas mampu menunjukkan pernyataan yang benar dan salah, mampu membedakan antara fakta dan nilai dari suatu pendapat atau pernyataan, dan mampu merancang solusi sederhana berdasarkan naskah.
  4. Kemampuan mengemukakan pendapat. Hal ini terdiri atas dapat memberikan alasan yang logis, mampu menunjukkan fakta – fakta yang mendukung pendapatnya, dan mampu memberikan ide-ide atau gagasan yang baik.

Bagaimana Cara Berfikir Kritis dan Rasional?

Oleh : Zakiyah Umaroh

Pada dasarnya, jika kita sudah berpikir kritis dengan baik, maka kita juga akan berpikir rasional. Berpikir rasional adalah bagian dari berpikir kritis. Jika digabungkan berpikir kreatif dan kritis, akan sangat baik sekali. Berpikir kritis akan menemukan hal-hal yang perlu diperbaiki. Sementara dengan berpikir kreatif kita akan mampu mencari ide-ide dan solusi untuk memperbaiki hal-hal yang bermasalah tersebut. Cara berpikir kreatif dan kritis adalah dua hal yang berbeda. Keduanya memiliki metode tersendiri dan memiliki tujuan yang berbeda pula.
Hambatan dalam berpikir kritis pada dasarnya ada dua, yang pertama emosi dan yang kedua wawasan yang kurang memadai. Saat emosi kita menguasai, misalnya kebencian atau kecintaan, bisa melumpuhkan logika dan hawa nafsu melumpuhkan akal. Cara mengatasi hambatan dalam berpikir kritis yang pertama adalah tidak mengikuti hawa nafsu serta kebencian atau kecintaan, tetapi lebih fokus pada logika, dan nilai-nilai. Cara kedua adalah dengan menambah wawasan terus menerus. Berpikir akan selalu menggunakan informasi yang ada dalam ingatan kita. Semakin banyak dan utuh informasi yang dimiliki, maka logika kita akan semakin tajam dan kita akan berpikir lebih kritis. Mudah-mudahan, pengetahuan cara berpikir secara kritis ini bisa berguna untuk berbagai aspek kehidupan kita termasuk meraih sukses yang gemilang.

Cara Memunculkan Pemikiran yang Kreatif

Oleh : Zakiyah Umaroh

Berpikir kreatif adalah suatu cara berpikir seseorang untuk menemukan ide atau hal-hal yang baru. Hal tersebut bisa saja pengembangan dari penemuan yang sudah ada maupun penemuan yang memang benar-benar baru. Namun banyak dari kita yang belum bisa mencapai pemikiran-pemikiran yang kreatif. Nah, kira-kira apa saja ya hal-hal yang harus kita lakukan agar sebuah pemikiran yang kreatif itu muncul? Dan berikut ini ada beberapa cara yang bisa kita coba untuk memunculkan pemikiran yang kreatif :

Bertanya dan Mencari Jawaban
Cobalah bertanya kepada diri sendiri ataupun orang-orang terdekat kita tentang apa dan bagaimana cara mengubah sesuatu yang lebih baik? Karena dengan bertanya, kita dapat mengetahui hal-hal yang boleh kita lakukan dan yang tidak boleh kita lakukan. Dan kemudian berusaha mencari jawaban untuk memcahkan masalah tersebut.

Kebiasaan
Cobalah tantang diri kita untuk lepas dari kebiasaan-kebiasaan yang mungkin tidak perlu untuk dilakukan. Berusahalah untuk mencari hal-hal baru yang lebih bermanfaat, siapa tahu itu akan memunculkan pemikiran yang kreatif.

Masalah
Dalam sebuah pemikiran yang baru, tentunya akan ada masalah-masalah yang muncul, cobalah cari dan temukan solusi untuk mengatasi masalah tersebut.

Berfikir Jika Semua Bisa Dilakukan
Yakinlah jika semua yang sedang kita lakukan mampu kita selesaikan dan kita haruslah optimis. Jangan selalu beranggapan bahwa kita tidak bisa menyelesaikannya. Optimis akan membawa kita menuju pemikiran yang berkembang sehingga kita dapat mencapai apa yang sedang kita lakukan.  

Berfikir Kreatif dan Kreativitas

Oleh : Zakiyah Umaroh

Berpikir kreatif sangat erat hubungannya dengan kreativitas, karena kreativitas merupakan hasil dari proses berpikir kreatif yang dilakukan oleh seseorang. Berfikir kreatif menurut Coleman dan Hammen (Jalaludin Rakhmat, 1989) adalah berpikir yang menghasilkan metode baru, konsep baru, pengertian baru, penemuan baru dan seni baru. Orang yang berpikir kreatif akan selalu berusaha memperoleh sesuatu yang baru.
Rawlingson (1971) menjelaskan bahwa berpikir kreatif dinamakan berpikir divergen atau lateral adalah menghubungkan ide atau hal-hal yang sebelumnya tidak berhubungan. Berpikir kreatif disebut juga berpikir divergen atau lateral karena terdapat banyak jawaban yang diajukan untuk memecahkan pesoalan yang dimunculkan dan pikiran itu didorong untuk menyebar jauh dan meluas mencari pemecahan masalah.
Dalam berpikir kreatif tidak boleh terlalu cepat memberikan penilaian terhadap ide-ide yang muncul dan membuangnya meskipun ide itu kurang bagus. Untuk dapat berpikir kreatif dengan baik diperlukan keberanian dan keyakinan pada diri sendiri.

Alasan Orang Berfikir Kreatif
Orang berusaha berpikir kreatif karena adanya keinginan yang kuat pada pribadinya untuk menghasilkan sesuatu kemajuan, serta adanya kesadaran akan pentingnya sesuatu yang baru tersebut. Potensi yang dimiliki oleh manusia mendorongnya untuk mampu mengaktualisasikan diri dalam kegiatan dan kehidupan bermasyarakat, sehingga pada dasarnya setiap manusia itu bila ada kesempatan dan ada kemauan untuk menggunakan daya kreatifitasnya, ia akan berusaha melahirkan sesuatu yang baru melalui kegiatan untuk meciptakannya. Tidak mengherankan bahwa hampir tiap beberapa waktu tertentu terdapat hasil karya berpikir kreatif dari manusia yang berwujud penemuan-penemuan dalam teknologi, ilmu pengetahuan, hasil seni ataupun yang lain.

Penilaian

Oleh : Slamet Zainal A.
slametzainal_abidin@yahoo.com

Pada setiap proses pembelajaran dibutuhkan suatu peneilaian yang bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan proses pembelajaran. Pengevaluasian pembelajaran tentunya berdasarkan aspek-aspek yang mencakup semua penilai standar dalam proses pembelajaran. Tidak hanya pada penilaian aspek intelektual, psikomotorik maupun aspek afektif. Dalam penilaian proses pembelajaran yang disesuaikan dengan teori belajar siswa, seorang tenaga pendidik juga harus mampu menyesuaiakan dengan teori yang diberlakukan, misalnya saja pada teori behaviorisme, dimana teori ini lebih mengedepankan pada aspek perilaku dan sikapa siswa pada suatu masalah yang dihadapinya. Maka sebagai seorang tenaga pendidik pada proses penilaian bila siswa lebih condong dominan pada aspek afektif itu merupakan suatu kewajaran, karena pada teori ini siswa diajarkan agar lebih mampu berinteraksi dan mampu menggunakan kemampuannya dalam berinteraksi dengan lingkungan serta sikap yang seharusnya pada suatu permasalahan. Namun jika dalam penerapan teori ini siswa mengalami penurunan atau tidak mampu menerapkan sikapnya untuk melaksanakannya maka dalam proses penilaian tenaga pendidik harus mengevaluasi penyebab terjadi atau kurang mampunya siswa menerimanya.
Berbeda dengan penilaian pada penerapan teori kontruktivisme yang lebih menekankan pada kemampuan intelektual siswa dalam menghadapi suatu permasalahan. Maka guru sebagai seorang tenaga pendidik harus lebih mendominasikan penilaian pada kemampuan berfikir siswa, akan tetapi juga tidak melupakan pada aspek lainnya sebagai pendorong terlaksananya penerapan teori tersebut. Proses penilaian pada masing-masing penerapan dan pelaksanaan teori belajar tentu diupayakan untuk melihat sejauh mana kemampuan siswa dalam menerima dan melaksanakan proses pembelajaran yang dilakukan tenaga pendidik. Penilaian juga sebagai suatu titik balik pelaksanaan pada masing-masing penerapan dan pelaksanaan teori belajar tentu diupayakan untuk melihat sejauh mana kemampuan siswa dalam menerima dan melaksanakan proses pembelajaran yang dilakukan tenaga pendidik. Penilaian juga sebagai suatu titik balik pelaksanaan proses pembelajaran yang kurang efektif. Adapun pengertian penilaian menurut Holt dan Willard-Holt (2000) menekankan konsep penilaian dinamis, suatu cara mengases potensi sebenarnya dari pembelajar yang secara signifikan berbeda dengan tes konvensional. Kondisi belajar alamiah yang esensial diperluas sampai ke proses penilaian. Bila biasanya penilaian sebagai suatu proses dilakukan oleh seseorang, misalnya guru, di sini dipandang sebagai suatu proses dua arah yang melibatkan interaksi antara guru dan pembelajar. Peranan guru sebagai asesor melakukan dialog dengan siswa yang diakses untuk menemukan tingkatan performanya dalam melakukan tugas pada saat itu dan curah pendapat dengannya tentang cara yang mungkin bisa ditempuh dalam memperbaiki performanya pada kesempatan berikutnya. Dengan demikian, penilaian dan pembelajaran dipandang sebagai jalinan proses yang tak terpisahkan.
Berdasarkan pandangan ini seorang guru seharusnya memandang penilaian sebagai proses yang terus menerus dalam mengukur pencapaian pembelajar, kualitas pengalamannya dalam pembelajaran dan proses pembelajarannya. Penilaian juga merupakan bagian integral dari pengalaman belajar dan bukan proses yang berdiri sendiri. Umpan balik dari proses penilaian berfungsi sebagai masukan langsung yang menjadi dasar untuk perkembangan selanjutnya. penilaian seharusnya tidak menjadi proses intimidasi yang menyebabkan kecemasan siswa, melainkan proses yang bersifat mendukung yang membangkitkan keberanian siswa untuk ingin dievaluasi di masa mendatang, sehingga harus fokus pada perkembangan yang terjadi pada siswa. Maka guru sebagai tenga pendidik harus mampu menilai siswa dengan baik sesuai dengan standar yang diberlakukan tentunya dengan merapkan umpan balik terhadap proses pembelajaran agar proses penilaian terhadap siswapun bisa lebih baik didalam penerapan suatu teori belajar dalam pembelajaran.

Teori Anak Usia Dini dalam Proses Pembelajaran

Oleh : Slamet Zainal A.
slametzainal_abidin@yahoo.com

Masa usia dini merupakan masa pengenalan anak terhadap lingkungan sekitar, pada masa ini anak akan meniru, mempraktekan serta menerima semua yang diperolehnya dari lingkungan sekitar. Stimulus yang diberikan bisa berupa tindakan orang tua yang ditiru, maupun dari tekanan alam yang bisa merubah pola tingkah laku anak. Namun yang lebih utama berasal dari lingkungan sosial anak yang merupakan area mereka dalam melakukan semua tindakan keseharian mereka khuususnya kebutuhan mereka dalam bermain. emua anak di dunia ini dari kalangan manapun mereka berasal, pasti gemar bermain. Bermain merupakan suatu aktivitas yang khas dan sangat berbeda dengan aktivitas lain seperti berkerja yang selalu dilakukan orang dewasa dalam rangka mencapai suatu hasi akhir.
Dua ciri utama bermain, yaitu pertama semua aktivitas bermain representasional menciptakan imajiner yang memungkinkan anak untuk menghadapi keinginan-keinginan yang tidak dapat direalisasikan dalam kehidupan nyata, dan kedua bermain representasional memuat aturan-aturan prilaku yang harus diikuti oleh anak untuk dapat menjalankan adegan bermain. Bermain merupakan kebutuhan semua anak, terlebih lagi bagi anak-anak yang berada direntang usia 3-6 tahun. Bermain adalah sesuatu kegiatan yang dilakukan anak-anak dengan atau tanpa mepergunakan alat yang menghasilkan pengertian dan memberikan informasi, memberikan kesenangan dan mengembangkan imajinasi anak secara spontan dan tanpa beban. Pada saat pembelajaran berlangsung hampir semua aspek perkembangan anak dapat terstimulasi dan berkembang dengan baik termasuk didalamnya perkembangan kreativitas.
    Maka dalam proses pembelajar guru maupun lingkungan serta peroses pembelajaran harus menyesuaikan dengan kondisi si anak agar dihsilkan proses pembelajaran yang dapat diterima siswa serta mampu memberikan kenyamanan bagi siswa, dimana dalam proses pembelajaran ini siswa tidak mengalami tekanan yang berlebihan yang justrus bisa berdampak pada kondisi psikis siswa. Kegiatan pembelajaran pada anak usia dini pada hakikatnya adalah pengembangan kurikulum secara konkret berupa seperangkat rencana yang berisi sejumlah pengalaman belajar melalui bermain yang diberikan pada anak usia dini berdasarkan potensi dan tugas perkembangan yang harus dikuasai dalam rangka pencapaian kopetensi yang harus dimiliki oleh anak. Pada dasarnya pengembangan program pembelajaran merupakan pengembangan sejumlah pengalaman belajar melalui bermain yang dapat memperkaya pengalaman bermain anak tentang berbagai hal, seperti cara berpikir teentang diri sendiri, tanggap pada pertanyaan, dapat memberikan argumen untuk mencari berbagai alternatif.
Adapun tujuan proses pembelajaran pada anak usia dini adalah untuk membantu meletakkan dasar kearah perkembangan sikap pengetahuan, keterampilan dan kreativitas yang diperlukan oleh anak untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan pada tahap berikutnya. Untuk mencapai tujuan progran pembelajaran tersebut, maka diperlukan strategi pembelajaran bagi anak usia dini yang berorientasi pada: (1) Tujuan yang mengarah pada tugas-tugas perkembangan disetiap rentang usia anak; (2) materi yang diberikan harus mengacu dan sesuai dengan karekteristik dan kebutuhan yang sesuai dengan taraf perkembangan anak; (3) metode yang dipilih seharusnya bervariasi sesuai dengan tujuan kegiatan belajar dan mampu melibatkan anak secara aktif dan kreatif serta menyenangkan; (4) media dan lingkungan bermain yang digunakan haruslah aman, nyaman dan menimbulkan ketertarikan bagi anak dan perlu adanya waktu yang cukup untuk bereksplorasi; (5) evaluasi yang terbaik dan dianjurkan untuk dilakukan adalah rangkaian sebuah assesmentmelalui observasi parsitipan terhadap segala sesuatu yang dilihat, didengar dan diperbuat oleh anak. Maka perlu adanya teori pembelajaran yang mampu mengarahkan anak pada proses pertumbuhan dan perkembangangan baik psikis, afeksi maupun perkembangan intelektual siswa. Tentunya dengan kesimbangan pada semua aspek yang menunjang dalam perkembangan siswa baik itu dari kurikulum, tenaga pengajar, lingkungan, maupun dalam proses pembelajrannya. Diharapkan dengan keseimbangan ini serta dengan acuan teori yang tepat maka akan didapatkan output peserta didik yang sesuai dengan perkembangannya.

Teori Belajar Bahasa

Oleh : Slamet Zainal A.
slametzainal_abidin@yahoo.com

Dapat berpikir dan berbahasa merupakan ciri utama yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Karena memiliki keduanya, maka sering disebut manusia sebagai makhluk yang mulia dan makhluk sosial. Dengan pikirannya manusia menjelajah ke setiap fenomena yang nampak bahkan yang tidak nampak. Dengan bahasanya, manusia berkomunikasi untuk bersosialisasi dan menyampaikan hasil pemikirannya. Salah satu objek pemikiran manusia adalah bagaimana manusia dapat berbahasa. Bahasa anak adalah sistem yang sah dari sistem mereka. Perkembangan bahasa anak bukanlah proses perkembangan sedikit demi sedikit stuktur yang salah, bukan dari bahasa tahap pertama yang lebih banyak salahnya ke tahap berikutnya, tetapi bahasa anak pada setiap tahapan itu sistematik dalam arti anak secara terus menerus membentuk hipotesis dengan dasar masukan yang diterimanya dan kemudian mengujinya dalam ujarannya sendiri dan pemahamannya. Selama bahasa anak itu berkembang hipotesis itu terus direvisi, dibentuk lagi atau kadang-kadang dipertahankan. Perubahan atau perkembangan bahasa pada anak akan bergantung pada sejauh mana keterlibatan kognitif sang anak secara aktif dengan lingkungannya.
Proses belajar bahasa terjadi menurut pola tahapan perkembangan tertentu sesuai umur. Tahapan tersebut meliputi: (a) Asimilasi: proses penyesuaian pengetahuan baru dengan struktur kognitif, (b) Akomodasi: proses penyesuaian struktur kognitif dengan pengetahuan baru (c) Disquilibrasi: proses penerimaan pengetahuan baru yang tidak sama dengan yang telah diketahuinya, (d) Equilibrasi: proses penyeimbang mental setelah terjadi proses asimilasi.
Adapun proses belajar bahasa terjadi bila anak mampu mengasimilasikan pengetahuan yang dimiliki dengan pengetahuan baru. Proses itu melalui tahapan memperhatikan stimulus yang diberikan, memahami makna stimulus, menyimpan dan menggunakan informasi yang sudah dipahami. Sedangkan proses belajar bahasa lebih ditentukan oleh cara anak mengatur materi bahasa bukan usia anak. Proses belajar bahasa didapat melalui: enaktif yaitu aktivitas untuk memahami lingkungan; ikonik yaitu melihat dunia lewat gambar dan visualisasi verbal; simbolik yaitu memahami gagasan-gagasan abstrak. Siswa dapat benar-benar memahami konsep ilmiah dan sains karena telah mengalaminya. Penjelasan mendetail dari guru belum tentu mencerminkan pemahaman siswa mengerti kata-kata ilmiahnya, tapi tidak memahami konsepnya. Namun jika siswa telah mencobanya sendiri, maka pemahaman yang didapat tidak hanya berupa kata-kata saja, namun berupa konsep.
Setiap siswa memiliki tanggung jawab terhadap pembelajaran mereka masing-masing, mampu mengambil keputusan sendiri, memilih dan mengusulkan aktivitas yang akan dilakukan mengungkapkan perasaan dan pendapat mengenai kebutuhan, kemampuan, dan kesenangannya. Dalam hal ini, guru berperan sebagai fasilitator pengajaran, bukan menyampaikan pengetahuan. Dimana dalam perkembangannya guru harus mampu menjadi penyampai pesan yang baik serta mampu diteri oleh siswa. Adapun penyampaian bahasa yang baik dalam konteks guru terhadap siswa adalah sebagai berikut; (1) Sangat menekankan kepada komunikasi yang bermakna berdasarkan sudut pandang siswa. Teks harus otentik, tugas-tugas harus kommunikatif, Outcome menyesuaikan dan tidak ditentukan atau ditargetkan sebelumnya, (2) Pendekatan ini berfokus pada siswa dengan menghargai existensi setiap individu, (3) Pembelajaran digambarkan sebagai sebuah penerapan pengalaman individual dimana siswa memiliki kesempatan berbicara dalam proses pengambilan keputusan, (4) Siswa lain sebagai kelompok suporter dimana mereka saling berinteraksi, saling membantu dan saling mengevaluasi satu sama lain, (5) Guru berperan sebagai fasilitator yang lebih memperhatikan atmosphere kelas dibanding silabus materi yang digunakan, (6) Materi berdasarkan kebutuhan-kebutuhan siswa, (7) Bahasa ibu para siswa dianggap sebagai alat yang sangat membantu jika diperlukan untuk memahami dan merumuskan hipotesa bahasa yang dipelajari.
Maka dapat disimpulkan bahwa dalam penerapannya guru harus mampu mengkomunikasikan scara baik apa yang akan disampaikan dalam proses pembelajaran agar tidak terjadi salah persepsi serta timbulnya kebingungan pada siswa yang justru bisa membuatnya tidak bisa menerima pelajaran dengan baik dan terganggunya proses pembelajaran.

Bukan Hanya Sekadar Teori

Oleh : Slamet Zainal A.
slametzainal_abidin@yahoo.com

Pada proses pembelajaran tentunya membutuhkan metode dan strategi untuk dapat berjalan dengan lancar. Sebagai seorang tenaga pendidik guru seharusnya mampu membuat proses belajar kondusif. Proses pembelajaran yang baik juga bergantung pada penerapan kurikulum serta media dan metode penerapan belajar pada siswa, dengan keseimbangan ini serta kemampuan guru yang mampu menyampaikan materi dengan baik hasilnyapun akan baik. Teori belajar yang diberikan pada siswa bukan hanya sekedar teori belajar. Pemberian atau penerapan teori belajar tidak hanya menjadi sekadar acuan dan tujuan yang akan diberikan kepada siswa guna mengarahkan siswa pada suatu aspek tertentu, akan tetapi penerapan teori belajar ini juga harus mampu mendorong siswa dan guru dalam proses kegiatan belajar.
Guru sebagai asesor harus mampu dan menguasai teori belajar yang akan diterapkan serta memahami dengan baik metode penerapan pada teori belajar yang digunakan. Begitu juga dengan siswa sebagai penerima juga harus mampu melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan baik. Adapun dalam pembelajaran keduanya harus mampu mengetahui pengertian teori belajar serta proses dan karakteristiknya. Teori belajar dapat dipahami sebagai prinsip-prinsip umum atau kolaborasi antara prinsip-prinsip yang saling berhubungan. Teori belajar merupakan upaya untuk mendeskripsikan bagaimana manusia belajar, sehingga membantu kita semua memahami proses  yang kompleks dari belajar. Ada tiga perspektif utama dalam teori belajar, yaitu Behaviorisme, Kognitivisme, dan Konstruktivisme.
Pada dasarnya teori pertama dilengkapi oleh teori kedua dan seterusnya, sehingga ada varian, gagasan utama, ataupun tokoh yang tidak dapat dimasukkan dengan jelas termasuk yang mana, atau bahkan menjadi teori tersendiri. Namun hal ini tidak perlu kita perdebatkan, yang lebih penting untuk kita pahami adalah teori mana yang baik untuk diterapkan pada kawasan tertentu, dan teori mana yang sesuai untuk kawasan lainnya. Pemahaman semacam  ini penting untuk dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Sebagian para ahli berpendapat bahwa teori belajar ini harus mampu memberikan dan merubah karakter secara permanen yang kuat pada siswa. Dengan penguatan ini siswa mampu menyimpan dengan baik stimulus yang diberikan guru pada saat proses pembelajaran. Akan tetapi dewasa ini semakin banyak penerapan yang tidak sesuai dengan konteks yang dilaksanakan, dimana masih banyak siswa yang keluar jalur pada saat penerapan teori belajar ini. Dalam penggunaan teori belajar ini tidak bisa dilakukan pada satu teori belajar saja akan tetapi dalam penerapan yang dikombinasikan dengan teori yang lain justru akan lebih bagus, dimana siswa juga dapat menyesuaikan bakat dan kemampuannya pada penerapan teori belajar yang lain. Teori belajar kombinasi atau campuran bisa dikatan sebagai teori dinamis yang mampu menyesuaikan dengan keadaan yang ada. Misalnya saja dalam pembentukan perilaku siswa tentunya berkaitan dengan teori behaviorisme sedang dalam aspek intelektual siswa dapat menerapkan teori kognitivisme. Dengan teori dinamis yang merupakan perpaduan dan gabungan teori belajar, diharapkan mampu menyesuaikan kondisi siswa dalam prosese pembelajaran, juga menjadi acuan guru dalam hala pengevaluasian dalam penyampaian materi yang disampaikan kepada siswa. Selain faktor dari guru dan siswa faktor yang lain pun harus diperhatikan agar dalam kegiatan serta penerapan teori belajar ini tidak terganggu serta dapat berjalan dengan baik serta dalam penyampaiannya bukan hanya sekedar teori belajar yang asal-asalan yang justru akan membuat siswa tidak mampu menerima akibatnya pembelajar tidak efektif dan berjalan dengan tidak baik akibat penerapan teori belajar yang asal.

Teori Belajar Menurut Robert M. Gagne

Oleh : Faradya Imvarica

Sebagaimana tokoh-tokoh lainnya dalam psikologi pembelajaran, Gagne berpendapat bahwa belajar dipengaruhi oleh pertumbuhan dan lingkungan, namun yang paling besar pengaruhnya adalah lingkungan individu seseorang. Lingkungan indiviu seseorang meliputi lingkungan rumah, geografis, sekolah, dan berbagai lingkungan sosial. Berbagai lingkungan itulah yang akan menentukan apa yang akan dipelajari oleh seseorang dan selanjutnya akan menentukan akan menjadi apa ia nantinya.

Bagi Gagne, belajar tidak dapat didefinisikan dengan mudah karena belajar itu bersifat kompleks. Dalam pernyataan tersebut, dinyatakan bahwa hasil belajar akan mengakibatkan perubahan pada seseorang yang berupa perubahan kemampuan, perubahan sikap, perubahan minat atau nilai pada seseorang. Perubahan tersebut bersifat menetap meskipun hanya sementara.

Menurut Gagne, ada tiga elemen belajar, yaitu individu yang belajar, situasi stimulus, dan responden yang melaksanakan aksi sebagai akibat dari stimulasi. Selanjutnya, Gagne juga mengemukakan tentang sistematika delapan tipe belajar, sistematika lima jenis belajar, fase-fase belajar, implikasi dalam pembelajaran, serta aplikasi dalam pembelajaran.
   
Jadi menurut saya dalam situasi belajar lingkungan yang di lihat dan dirasakan seorang individu sangat berpengaruh dalam suatu proses belajar. Belajar bukan hanya di lakukan di sekolah akan tetapi dimana pun individu itu berada.

Teori Pengkondisian Klasik

Oleh : Faradya Imvarica

Teori pengkondisian klasik dipelapori oleh seorang ahli sosiologi Rusia bernama Ivan Pavlov pada awal tahun 1900 an. Dimana Pavlov melakukan suatu eksperimen terhadap seekor anjing. Dia meletakkan secara rutin bubur daging di depan mulut anjing .  Anjing mengeluarkan air liur.  Air liur yang dikeluarkan oleh anjing merupakan suatu stimulus yang diasosiasikan dengan makanan. Pavlov juga menggunakan lonceng sebelum makanan diberikan.
Pengkondisian klasik adalah tipe pembelajaran dimana suatu organisme belajar untuk mengaitkan atau mengasosiasikan stimulus (Santrock, 2010).  Dalam pengkondisian klasik stimulus netral (seperti melihat seseorang) diasosiasikan dengan stimulus yang bermakna (seperti makanan) dan menimbulkan kapasitas untuk menghasilkan respon yang sama. 
Dalam teori pengkondisian klasik ada 2 tipe stimulus dan 2 tipe respon,yang harus dipahami yaitu Unconditioned Stimulus (US), Unconditoned respon (ER), Conditioned Stimulus (CS), dan Conditioned Respon (CR). 
Unconditioned Stimulus (US) adalah sebuah stimulus yang secara otomatis menghasilkan respon tanpa ada pembelajaran terlebih dahulu. Dalam eksperimen Pavlov makanan adalah US. Unconditioned Respon adalah respon yang tidak dipelajari yang secara otomatis dihasilkan oleh US, dalam eksperimen Pavlov air liur anjing yang merespon makanan adalah UR. Conditioned Stimulus adalah stimulus yang sebelumnya netral yang akhirnya menghasilkan conditioned respon setelah diasosiasi dengan US. Dalam experiment Pavlov beberapa penglihatan dan suara yang terjadi sebelum anjing menyantap makanan.  Conditioned Respon adalah respon yang dipelajari yang muncul setelah terjadi pasangan US – CS.  Untuk lebih jelas dapat dilihat pada skema exsperimen Palvov berikut :

Sebelum Pengkondisian    
 US (makanan)  >>>>>>>>>>>> UR (Keluar air liur)
 CS (lonceng) >>>>>>>>>>>>> tak ada CR (air liur tidak keluar)

Selama Pengkondisian   
CS(lonceng) + US (makanan) >>>>> UR (keluar air liur)

Setelah Pengkondisian
CS (lonceng) >>> >>>>>>> CR (keluar air liur) (M. Asrori, 2008)

Jadi dapat kita ketahui Berdasarkan eksperimen yang dilakukan Pavlov diperoleh kesimpulan bahwa asosiasi terhadap penglihatan dan suara dengan makanan ini merupakan tipe pembelajaran yang penting, yang kemudian dikenal dengan Teori Pengkondisian Klasik.

Tuesday, December 30, 2014

Teori Pembelajaran Sosial

Oleh : Faradya Imvarica

Teori pembelajaran sosial merupakan perluasan dari teori belajar perilaku yang tradisional (behavioristik). Teori pembelajaran sosial ini dikembangkan oleh Albert Bandura (1986). Teori ini menerima sebagian besar dari prinsip-prinsip teori-teori belajar perilaku, tetapi memberi lebih banyak penekanan pada efek-efek dari isyarat-isyarat pada perilaku, dan pada proses-proses mental internal. Dalam teori pembelajaran sosial kita akan menggunakan penjelasan-penjelasan reinforcement eksternal dan penjelasan-penjelasan kognitif internal untuk memahami bagaimana kita belajar dari orang lain. Dalam pandangan belajar sosial “manusia” itu tidak didorong oleh kekuatan-kekuatan dari dalam dan juga tidak “dipukul” oleh stimulus-stimulus lingkungan.

Teori belajar sosial menekankan, bahwa lingkungan-lingkungan yang dihadapkan pada seseorang tidak random; lingkungan-lingkungan itu kerap kali dipilih dan diubah oleh orang itu melalui perilakunya sendiri. Menurut Bandura, sebagaimana yang dikutip oleh (Kardi S, 1997 : 14) bahwa “sebagian besar manusia belajar melalui pengamatan secara selektif dan mengingat tingkah laku orang lain”. Ada dua jenis pembelajaran melalui pengamatan (observational learning). Pertama, pembelajaran melalui pengamatan dapat terjadi melalui kondisi yang dialami orang lain atau vicarious conditioning. Misalnya seorang siswa melihat temannya dipuji atau ditegur oleh gurunya karena perbuatannya, maka ia kemudian meniru melakukan perbuatan lain yang tujuannya sama ingin dipuji oleh gurunya. Kejadian ini merupakan contoh dari penguatan melalui pujian yang dialami orang lain atau vicarious reinforcement. Kedua, pembelajaran melalui pengamatan meniru perilaku suatu model meskipun model itu tidak mendapatkan penguatan atau pelemahan pada saat pengamat itu sedang memperhatikan model itu mendemonstrasikan sesuatu yang ingin dipelajari oleh pengamat tersebut dan mengharapkan mendapat pujian atau penguatan apabila menguasai secara tuntas apa yang dipelajari itu.

Jadi menurut kami inti dari teori pembelajaran sosial adalah pemodelan, dan permodelan ini merupakan salah satu langkah paling penting dalam pembelajaran terpadu yang tidak harus diperagakan oleh seseorang secara langsung, tetapi kita dapat juga menggunakan seseorang pemeran atau visualisasi tiruan sebagai model.

Teori Belajar : Belajar Melalui Observasi

Oleh : Faradya Imvarica

Teori belajar melalui observasi sebenarnya penting untuk kita akan tetapi terkadang kita tidak menyadari. Dalam observasi sebenarnya kita mempelajari 4 hal yakni : 
  1. Perhatian (attention process) : Sebelum meniru orang lain, perhatian harus dicurahkan ke orang itu. Perhatian ini dipengaruhi oleh asosiasi pengamat dengan modelnya, sifat model yang atraktif, dan arti penting tingkahlaku yang diamati bagi si pengamat. 
  2. Representasi (representation process) : Tingkahlaku yang akan ditiru, harus disimbolisasikan dalam ingatan. Baik dalam bentuk verbal maupun dalam bentuk gambaran/imajinasi. Representasi verbal memungkinkan orang mengevaluasi secara verbal tingkahlaku yang diamati, dan menentukan mana yang dibuang dan mana yang akan dicoba dilakukan. Representasi imajinasi memungkinkan dapat dilakukannya latihan simbolik dalam fikiran, tanpa benar-benar melakukannya secara fisik.
  3. Peniruan tingkahlaku model (behavior production process): Sesudah mengamati dengan penuh perhatian, dan memasukkanya ke dalam ingatan, orang lalu bertingkahlaku. Mengubah gambaran fikiran menjadi tingkahlaku menimbulkan kebutuhan evaluasi; “Bagaimana melakukannya?” “Apa yang harus dikerjakan?” “Apakah sudah benar?” Berkaitan dengan kebenaran, basil belajar melalui observasi tidak dinilai berdasarkan kemiripan respon dengan tingkahlaku yang ditiru, tetapi lebih pada tujuan belajar dan efikasi dari pebelajar.
  4. Motivasi dan penguatan (motivation and reinforcement process): Belajar melalui pengamatan menjadi efektif kalau pebelajar memiliki motivasi yang tinggi untuk dapat melakukan tingkahlaku modelnya. Observasi mungkin memudahkan orang untuk menguasai tingkahlaku tertentu, tetapi kalau motivasi untuk itu tidak ada, tidak bakal terjadi proses belajar. Imitasi lebih kuat terjadi pada tingkah laku model yang diganjar, daripada tingkah laku yang dihukum. Imitasi tetap terjadi walapun model tidak diganjar, sepanjang pengamat melihat model mendapat ciri-ciri positif yang menjadi tanda dari gaya hidup yang berhasil, sehingga diyakini model umumnya akan diganjar.
Jadi menurut saya belajar dari proses observasi sangat penting disini kita bisa belajar menunjukan mulai perhatian pada seseorang hingga memotivasi diri dan penguatan diri. Dalam observasi sendiri pun kita bisa lebih dalam memahami karakter seseorang.

Teori untuk Memanusiakan Manusia

Oleh : Faradya Imvarica

Dalam teori belajar humanistik proses belajar harus berpusat  pada manusia itu sendiri. Meskipun teori ini sangat menekankan pentingya dari proses belajar, tetapi kenyataan teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan  kata lain, teori ini lebih tertarik pada ide belajar dalam bentuknya yang paling ideal dari pada belajar seperti apa adanya, seperti apa yang bisa kita amati dalam dunia keseharian.. Teori apapun dapat dimanfaatkan asal tujuan untuk “memanusiakan manusia” (mencapai aktualisasi diri dan sebagainya) dapat tercapai. Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.
Tujuan utama para pendidik adalah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran.
Jadi,Teori Belajar Humanistik adalah suatu teori dalam pembelajaran yang mengedepankan bagaimana memanusiakan manusia serta peserta didik mampu mengembangkan potensi dirinya. Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterapkan. Keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan, norma, disiplin atau etika yang berlaku.

Prinsip-prinsip Teori Belajar

Oleh : Faradya Imvarica

Berdasarkan pandangan psikologi mekanistik, sejak John Lock pada abad 17 sampai aliran Bahaviorisme dari J.B. Waston abad 20 terdapat pandangan, bahwa manusia dalam batas-batas kemampuan fisiknya dapat dibentuk melalui cara-cara yang terbatas. John Lock berpendapat, bahwa jiwa itu bagaikan meja lilin (tabularasa) yang bersih dari goresan. Pengalamanlah yang membentuk kepribadiannnya. Behaviorisme juga berbuat sama, dengan konsep S – R bond-nya.
Dalam sistem nilai dari paham naturalisme juga diorientasikan pada alam: jasmaniah, panca indera, kekuatan, kenyataan, survival, organisme dst. Oleh sebab itu naturalisme menolak hal-hal yang bersifat moral dan spiritual, sebab paham ini bahwa kenyataan/realistas yang hakiki adalah alam semesta yang bersifat fisik dan inderawi. Naturalisme dekat dengan materalisme yang menafsirkan nilai-nilai manusia.  Kebalikan dari paham di atas adalah idealisme, yang memandang realitas yang hakiki ada pada ide yang terdapat dalam jiwa atau spirit manusia. Idialisme berorientasi pada ide-ide ketuhanan dan nilai-nilai sosial. Tetapi perlu diketahui, bahwa meskipun idealisme berorientasi kepada ideal-spiritual, ia bukanlah agama, idealisme hanyalah merupakan salah satu basis dari agama. Menurut Horne, idealisme sebagai filsafat adalah sistem berpikir manusia (man-thinking), sementara agama adalah sistem peribadatan manusia (man– worshipping). Filsafat dan agama mempunyai hubungan erat, tetapi tidak identik (lihat M. Arifin, 1991:149).
Jadi pendidikan  adalah pencetusan dari susunan atau sistem yang kekal abadi yang memiliki nilai dalam dirinya sendiri. Kewajiban manusia dan pendidikan adalah berusaha mengaktualisasikan nilai tersebut. Filsafat pendidikan Islam dalam beberapa aspek pendekatan memang memiliki prinsip-prinsip yang simbiotik dengan idealisme, terutama idealisme spiritualistik. Idealisme juga mengakui adanya zat yang Maha Tinggi yang menciptakan realitas alam serta menggerakkan hukum-hukumnya termasuk sanksi-sanksinya. Tetapi ada titik perbedaan yang cukup tajam yang terletak pada sanksi moral sebagai konsekuensi. Bagi kaum idealisme, sanksi moral terletak pada siksa Tuhan dan balasan perbuatan yang bermoral baik adalah pahala dari-Nya kelak di hari kiamat. Kualifikasi moral dalam Islam adalah sumber dari Tuhan dan bagi setiap orang sanksi hukuman tergantung kepada sejauh mana porsi perbuatan yang dilanggarnya (M. Arifin, 1991: 150-151) dan bukankah Nabi diutus untuk menyempurnaka akhlak-karimah?

Pandangan Skinner

Oleh : Faradya Imvarica

Menurut Skinner, hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dalam lingkungannya, yang kemudian akan menimbulkan perubahan tingkah laku.  Dikatakan bahwa respon yang diberikan oleh seseorang/siswa tidaklah sesederhana itu.  Sebab, pada dasarnya stimulus-stimulus yang diberikan kepada seseorang akan saling berinteraksi dan interaksi antara stimulus-stimulus tersebut dan akan mempengaruhi bentuk respon yang akan diberikan.  Demikian juga dengan respon yang dimunculkan ini pun akan mempunyai konsekuensi.   Konsekuensi  inilah yang pada gilirannya akan mempengaruhi atau menjadi pertimbangan munculnya perilaku. 
Oleh sebab itu, untuk memahami tingkah laku seorang secara benar, perlu terlebih dahulu memahami hubungan antara stimulus satu dengan lainnya, serta memahami respon yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsukuensi yang mungkin akan timbul akibat dari respon tersebut.  Skinner juga mengemukakan bahwa dengan menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan menambah rumitnya masalah.  Sebab, setiap alat yang digunakan perlu penjelasan lagi, demikian dan seterusnya.
Pandangan teori belajar behavioristik ini cukup lama dianut oleh para guru dan pendidik.  Namun dari semua pendukung teori ini, teori Skinner-lah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik.  Program-program pembelajaran yang seperti Teaching Machine, Pembelajaran berprogram, modul, dan program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respon serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement), merupakan program-program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan oleh Skinner.
Jadi seberapa besarpun pengaruh teori behavioristik pada guru pada akhirnya teori Skinner-lah yang paling sering di gunakan pada model pembelajaran saat ini.