Wednesday, December 31, 2014

Menilai Keefektifan Teori Pembelajaran dalam Proses Belajar Mengajar

oleh : Hanifa Indriana
Apa yang dimaksud dengan teori pembelajaran? Saya akan mencoba menguraikan beberapa teorema untuk memisahkan apa yang kita maksud dengan teori pembelajaran dari teori-teori yang sudah ada selama ini.
Hal pertama yang akan saya sampaikan bahwa nature dari teori pembelajaran adalah prescriptive, bukan deskriptif. Teori tersebut memiliki tujuan untuk menghasilkan akhir yang luar biasa dan proses menghasilkannya melalui cara yang kita sebut optimal. Itu bukan sebuah deskripsi tentang apa yang terjadi saat proses belajar terjadi-itu adalah sesuatu yang normatif.
Namun faktanya, banyak orang yang terlibat di dalam dunia pendidikan berasumsi bahwa mereka dapat mengandalkan jenis-jenis teori yang lain selain teori pembelajaran. Sebagai contoh, saya menemukan bahwa ketergantungan para pendidik terhadap teori belajar sangat besar, padahal yang menjadi masalah adalah teori belajar bukan teoeri pembelajaran.
Tidak ada batasan yang jelas, bagaimana seseorang yang mengandalkan teori belajar dapat mengambil intisari yang tepat yang akan membimbing dia pada saat menyusun kurikulum. Ketika saya mengatakan bahwa teori pembelajaran itu prescriptive, yang saya maksud adalah suatu yang ada sebelum adanya fakta. Itu adalah sesuatu yang ada sebelum proses belajar terjadi, bukan ketika, dan bukan setelahnya.
Teori pembelajaran harus mampu menghubungkan antara hal yang ada sekarang dengan bagaimana menghasilkan hal tersebut. Teori belajar menjelaskan dengan pasti apa yang terjadi, namun teori pembelajaran ’hanya’ membimbing apa yang harus dilakukan untuk menghasilkan hal tersebut.
Ada 4 hal yg harus diperhatikan terkait dengan implementasi teori pembelajaran:
1.      Mengenali tokoh, perjalanan dan proses akademik yang ditempuh serta perjuangan yang ditempuh untuk menghasilkan teori belajar yang dikemukakannya.
2.      Memahamai konteks generasi, situasi zaman atau yang melatar belakangi peristiwa kelahiran teori teori belajar tersebut.
3.      Proses kekinian dari teori tersebut dalam perkembangannya.
4.      teori pembelajaran harus memperhatikan bahwa terdapat banyak kecenderungan cara belajar siswa, dan kecenderungan ini sudah dimiliki siswa jauh sebelum ia masuk ke sekolah.
5.      teori ini juga terkait dengan adanya struktur pengetahuan. Ada 3 hal yang terkait dengan struktur pengetahuan:
a.       struktur pengetahuan harus mampu menyederhanakan suatu informasi yang sangat luas
b.      struktur tersebut harus mampu membawa siswa kepada hal-hal yang baru, melebihi informasi yang anda jelaskan
c.       struktur pengetahuan harus mampu meluaskan cakrawala berpikir siswa, mengkombinasikannya dengan ilmu-ilmu lain.
6.      teori pembelajaran juga terkait dengan hubungan yang optimal. Seorang guru harus mampu mencari hubungan yang mudah tentang sesuatu yang akan diajarkan agar murid lebih mudah menangkap informasi tersebut.
yang terakhir, teori pembelajaran terkait dengan penghargaan dan hukuman.

Masalah-masalah yang Dihadapi Guru Terkait dengan Teori Pembelajaran

oleh : Hanifa Indriana
Dalam seluruh proses pendidikan disekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan pendidikan hanya bergantung pada bagaimana proses belajar yang dialami oleh peserta didik. Untuk dapat membelajarkan peserta didik, maka guru harus mengimplementasikan prinsip-prinsip teori belajar pada proses pembelajaran.
Guru sebagai seorang pemimpin kelas, yang memiliki hak prerogative untuk mengatur pembelajaran, memegang peran penting serta tugas dan tanggung jawab yang berat. Bukanlah perkara mudah untuk mengatur seseorang bertindak sesuai dengan yang kita inginkan, karena perbedaan yang kita miliki. Guru tidak bisa sepenuhnya mengarahkan siswa, mengelola kelas untuk bertindak sesuai dengan arahan guru. Masalah lain yang dihadapi guru saat ini adalah rendahnya minat belajar siswa, dan cara belajar siswa yang tidak serius, sehingga berdampak pada rendahnya hasil belajar siswa yang terlihat  dari hasil ulangan harian dan ulangan semester siswa.  
Hal-hal semacam ini tentu menjadi masalah bagi guru. Karena itulah sesuai dengan amanah undang-undang, setiap guru hendaknya memiliki empat kompetensi, keempat kompetensi inilah yang akan menjadi modal bagi guru untuk mengelola dan melaksanakan proses pembelajaran di kelas. Empat kompetensi tersebut adalah kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, kompetensi kepribadian dan kompetensi professional.
Penguasaan secara penuh empat kompetensi tersebut, bukanlah hal yang mudah, ini menuntut guru untuk terus berkembang dan belajar agar bisa menghadapi berbagai persoalan yang ditemui guru di lapangan, terutama bagi pendidik professional. Namun, untuk saat ini pertanyaannya adalah apakah guru-guru kita saat ini, terutama guru dengan label pendidik professional, benar-benar sudah menguasai ini dalam melaksanakan pelajaran dan mendidik siswanya?
Oleh karena itu, guru perlu usaha keras memikirkan dan mencari solusi yang tepat untuk memenuhi kebutuhan belajar siswanya. Seyogyanya pendidik professional dengan segala hak dan kewajibannya sebenarnya harus dibarengi dengan kualitas dan mutu output pendidikan sehingga mampu menciptakan lingkungan pembelajaran yang efektif dan menjadi fasilitator yang baik bagi proses pembelajaran di sekolah.

Manfaat Teori Pembelajaran dalam Pembelajaran Konvensional

oleh : Hanifa Indriana
Proses pendidikan merupakan hal yang sangat kompleks, yang didalamnya terlibat banyak unsur yang saling terkait, mulai dari guru, siswa, sarana, metode, strategi, media dan lain-lain. Bicara tentang pembelajaran konvensional, maka tidak bisa lepas dari peran seorang guru dalam mengelola kelas. Dalam hal ini, guru dituntut untuk mengetahui cara yang mempermudah siswa untuk belajar, salah satunya dengan memanfaatkan teori belajar. 
Dengan mengetahui teori belajar diharapkan dapat membantu guru untuk mengembangkan potensi siswa, dan memberikan cara-cara yang tepat untuk mengatasi perbedaan atau keanekaragaman kemampuan, sifat dan perilaku siswa dalam proses belajar. Oleh karena itu, teori pembelajaran sangantlah penting dalam proses pembelajaran konvensional di kelas yang melibatkan guru sebagai pengajar dan siswa sebagai pelajar.
Teori pembelajaran secara umum memiliki 3 fungsi yang berbeda namun   saling terkait dengan erat. Fungsi – fungsi tersebut ialah :
1.      Teori pembelajaran adalah suatu pendekatan pada bidang pengetahuan; cara menganalisis, membicarakan dan meneliti pembelajaran. Teori pembelajaran berfungsi menggambarkan sudut pandang peneliti mengenai aspek-aspek pembelajaran yang paling bernilai untuk dipelajari, variabel-variabel independen yang harus dimanipulasi dan variabel-variabel dependen yang harus dikaji, teknik – teknik penelitian yang hendak digunakan, dan bahasa apa yang harus digunakan untuk mendekripsikan temuan-temuannya.
2.      Teori pembelajaran berupaya meringkas sekumpulan besar pengetahuan mengenai hukum-hukum pembelajaran ke dalam ruang yang cukup kecil.
3.      Teori pembelajaran secara kreatif berupaya menjelaskan apa itu pembelajaran   dan mengapa pembelajaran berlangsung seperti adanya hukum-hukum menunjukkan bagaimana pembelajaran terjadi teori-teori berupaya menunjukan menyapa pembelajaran terjadi.
 Jadi, teori pembelajaran berupaya menghasilkan pemahaman pokok tersebut yang merupakan salah satu tujuan khusus pengetahuan dan juga bentuk-bentuk kegiatan ilmiah lainya. Teori berupaya merepresentasikan upaya terbaik manusia untuk memastikan struktur apa yang melandasi dunia tempat kita hidup.
Penerapan dari beberapa teori belajar sangat bermanfaat dalam proses pembelajaran konvensional (di dalam kelas), diantaranya yaitu :
1.      Membantu guru untuk memahami bagaimana siswa belajar,
2.      Membimbing guru untuk merancang dan merencanakan proses pembelajaran,
3.      Memandu guru untuk mengelola kelas
4.      Membantu guru untuk mengevaluasi proses, perilaku guru sendiri serta hasil belajar siswa yang telah dicapai
5.      Membantu proses belajar lebih efektif, efisien dan produktif
6.      Membantu guru dalam memberikan dukungan dan bantuan kepada siswa sehingga dapat
7.      mencapai hasil prestasi yang maksimal.
Implikasi perkembangan teori pembelajaran sekarang sangat bervariasi dan lebih inovatif. Pendidik dapat menerapkan menurut aliran-aliran teori tertentu. Seperti teori behavioristik dalam pembelajaran guru memperhatikan tujuan belajar dan karakteristik siswa.

Tuesday, December 30, 2014

Teori Pembelajaran Sosial

Oleh : Faradya Imvarica

Teori pembelajaran sosial merupakan perluasan dari teori belajar perilaku yang tradisional (behavioristik). Teori pembelajaran sosial ini dikembangkan oleh Albert Bandura (1986). Teori ini menerima sebagian besar dari prinsip-prinsip teori-teori belajar perilaku, tetapi memberi lebih banyak penekanan pada efek-efek dari isyarat-isyarat pada perilaku, dan pada proses-proses mental internal. Dalam teori pembelajaran sosial kita akan menggunakan penjelasan-penjelasan reinforcement eksternal dan penjelasan-penjelasan kognitif internal untuk memahami bagaimana kita belajar dari orang lain. Dalam pandangan belajar sosial “manusia” itu tidak didorong oleh kekuatan-kekuatan dari dalam dan juga tidak “dipukul” oleh stimulus-stimulus lingkungan.

Teori belajar sosial menekankan, bahwa lingkungan-lingkungan yang dihadapkan pada seseorang tidak random; lingkungan-lingkungan itu kerap kali dipilih dan diubah oleh orang itu melalui perilakunya sendiri. Menurut Bandura, sebagaimana yang dikutip oleh (Kardi S, 1997 : 14) bahwa “sebagian besar manusia belajar melalui pengamatan secara selektif dan mengingat tingkah laku orang lain”. Ada dua jenis pembelajaran melalui pengamatan (observational learning). Pertama, pembelajaran melalui pengamatan dapat terjadi melalui kondisi yang dialami orang lain atau vicarious conditioning. Misalnya seorang siswa melihat temannya dipuji atau ditegur oleh gurunya karena perbuatannya, maka ia kemudian meniru melakukan perbuatan lain yang tujuannya sama ingin dipuji oleh gurunya. Kejadian ini merupakan contoh dari penguatan melalui pujian yang dialami orang lain atau vicarious reinforcement. Kedua, pembelajaran melalui pengamatan meniru perilaku suatu model meskipun model itu tidak mendapatkan penguatan atau pelemahan pada saat pengamat itu sedang memperhatikan model itu mendemonstrasikan sesuatu yang ingin dipelajari oleh pengamat tersebut dan mengharapkan mendapat pujian atau penguatan apabila menguasai secara tuntas apa yang dipelajari itu.

Jadi menurut kami inti dari teori pembelajaran sosial adalah pemodelan, dan permodelan ini merupakan salah satu langkah paling penting dalam pembelajaran terpadu yang tidak harus diperagakan oleh seseorang secara langsung, tetapi kita dapat juga menggunakan seseorang pemeran atau visualisasi tiruan sebagai model.

Teori Belajar : Belajar Melalui Observasi

Oleh : Faradya Imvarica

Teori belajar melalui observasi sebenarnya penting untuk kita akan tetapi terkadang kita tidak menyadari. Dalam observasi sebenarnya kita mempelajari 4 hal yakni : 
  1. Perhatian (attention process) : Sebelum meniru orang lain, perhatian harus dicurahkan ke orang itu. Perhatian ini dipengaruhi oleh asosiasi pengamat dengan modelnya, sifat model yang atraktif, dan arti penting tingkahlaku yang diamati bagi si pengamat. 
  2. Representasi (representation process) : Tingkahlaku yang akan ditiru, harus disimbolisasikan dalam ingatan. Baik dalam bentuk verbal maupun dalam bentuk gambaran/imajinasi. Representasi verbal memungkinkan orang mengevaluasi secara verbal tingkahlaku yang diamati, dan menentukan mana yang dibuang dan mana yang akan dicoba dilakukan. Representasi imajinasi memungkinkan dapat dilakukannya latihan simbolik dalam fikiran, tanpa benar-benar melakukannya secara fisik.
  3. Peniruan tingkahlaku model (behavior production process): Sesudah mengamati dengan penuh perhatian, dan memasukkanya ke dalam ingatan, orang lalu bertingkahlaku. Mengubah gambaran fikiran menjadi tingkahlaku menimbulkan kebutuhan evaluasi; “Bagaimana melakukannya?” “Apa yang harus dikerjakan?” “Apakah sudah benar?” Berkaitan dengan kebenaran, basil belajar melalui observasi tidak dinilai berdasarkan kemiripan respon dengan tingkahlaku yang ditiru, tetapi lebih pada tujuan belajar dan efikasi dari pebelajar.
  4. Motivasi dan penguatan (motivation and reinforcement process): Belajar melalui pengamatan menjadi efektif kalau pebelajar memiliki motivasi yang tinggi untuk dapat melakukan tingkahlaku modelnya. Observasi mungkin memudahkan orang untuk menguasai tingkahlaku tertentu, tetapi kalau motivasi untuk itu tidak ada, tidak bakal terjadi proses belajar. Imitasi lebih kuat terjadi pada tingkah laku model yang diganjar, daripada tingkah laku yang dihukum. Imitasi tetap terjadi walapun model tidak diganjar, sepanjang pengamat melihat model mendapat ciri-ciri positif yang menjadi tanda dari gaya hidup yang berhasil, sehingga diyakini model umumnya akan diganjar.
Jadi menurut saya belajar dari proses observasi sangat penting disini kita bisa belajar menunjukan mulai perhatian pada seseorang hingga memotivasi diri dan penguatan diri. Dalam observasi sendiri pun kita bisa lebih dalam memahami karakter seseorang.

Teori untuk Memanusiakan Manusia

Oleh : Faradya Imvarica

Dalam teori belajar humanistik proses belajar harus berpusat  pada manusia itu sendiri. Meskipun teori ini sangat menekankan pentingya dari proses belajar, tetapi kenyataan teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan  kata lain, teori ini lebih tertarik pada ide belajar dalam bentuknya yang paling ideal dari pada belajar seperti apa adanya, seperti apa yang bisa kita amati dalam dunia keseharian.. Teori apapun dapat dimanfaatkan asal tujuan untuk “memanusiakan manusia” (mencapai aktualisasi diri dan sebagainya) dapat tercapai. Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.
Tujuan utama para pendidik adalah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran.
Jadi,Teori Belajar Humanistik adalah suatu teori dalam pembelajaran yang mengedepankan bagaimana memanusiakan manusia serta peserta didik mampu mengembangkan potensi dirinya. Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterapkan. Keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan, norma, disiplin atau etika yang berlaku.

Prinsip-prinsip Teori Belajar

Oleh : Faradya Imvarica

Berdasarkan pandangan psikologi mekanistik, sejak John Lock pada abad 17 sampai aliran Bahaviorisme dari J.B. Waston abad 20 terdapat pandangan, bahwa manusia dalam batas-batas kemampuan fisiknya dapat dibentuk melalui cara-cara yang terbatas. John Lock berpendapat, bahwa jiwa itu bagaikan meja lilin (tabularasa) yang bersih dari goresan. Pengalamanlah yang membentuk kepribadiannnya. Behaviorisme juga berbuat sama, dengan konsep S – R bond-nya.
Dalam sistem nilai dari paham naturalisme juga diorientasikan pada alam: jasmaniah, panca indera, kekuatan, kenyataan, survival, organisme dst. Oleh sebab itu naturalisme menolak hal-hal yang bersifat moral dan spiritual, sebab paham ini bahwa kenyataan/realistas yang hakiki adalah alam semesta yang bersifat fisik dan inderawi. Naturalisme dekat dengan materalisme yang menafsirkan nilai-nilai manusia.  Kebalikan dari paham di atas adalah idealisme, yang memandang realitas yang hakiki ada pada ide yang terdapat dalam jiwa atau spirit manusia. Idialisme berorientasi pada ide-ide ketuhanan dan nilai-nilai sosial. Tetapi perlu diketahui, bahwa meskipun idealisme berorientasi kepada ideal-spiritual, ia bukanlah agama, idealisme hanyalah merupakan salah satu basis dari agama. Menurut Horne, idealisme sebagai filsafat adalah sistem berpikir manusia (man-thinking), sementara agama adalah sistem peribadatan manusia (man– worshipping). Filsafat dan agama mempunyai hubungan erat, tetapi tidak identik (lihat M. Arifin, 1991:149).
Jadi pendidikan  adalah pencetusan dari susunan atau sistem yang kekal abadi yang memiliki nilai dalam dirinya sendiri. Kewajiban manusia dan pendidikan adalah berusaha mengaktualisasikan nilai tersebut. Filsafat pendidikan Islam dalam beberapa aspek pendekatan memang memiliki prinsip-prinsip yang simbiotik dengan idealisme, terutama idealisme spiritualistik. Idealisme juga mengakui adanya zat yang Maha Tinggi yang menciptakan realitas alam serta menggerakkan hukum-hukumnya termasuk sanksi-sanksinya. Tetapi ada titik perbedaan yang cukup tajam yang terletak pada sanksi moral sebagai konsekuensi. Bagi kaum idealisme, sanksi moral terletak pada siksa Tuhan dan balasan perbuatan yang bermoral baik adalah pahala dari-Nya kelak di hari kiamat. Kualifikasi moral dalam Islam adalah sumber dari Tuhan dan bagi setiap orang sanksi hukuman tergantung kepada sejauh mana porsi perbuatan yang dilanggarnya (M. Arifin, 1991: 150-151) dan bukankah Nabi diutus untuk menyempurnaka akhlak-karimah?

Pandangan Skinner

Oleh : Faradya Imvarica

Menurut Skinner, hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dalam lingkungannya, yang kemudian akan menimbulkan perubahan tingkah laku.  Dikatakan bahwa respon yang diberikan oleh seseorang/siswa tidaklah sesederhana itu.  Sebab, pada dasarnya stimulus-stimulus yang diberikan kepada seseorang akan saling berinteraksi dan interaksi antara stimulus-stimulus tersebut dan akan mempengaruhi bentuk respon yang akan diberikan.  Demikian juga dengan respon yang dimunculkan ini pun akan mempunyai konsekuensi.   Konsekuensi  inilah yang pada gilirannya akan mempengaruhi atau menjadi pertimbangan munculnya perilaku. 
Oleh sebab itu, untuk memahami tingkah laku seorang secara benar, perlu terlebih dahulu memahami hubungan antara stimulus satu dengan lainnya, serta memahami respon yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsukuensi yang mungkin akan timbul akibat dari respon tersebut.  Skinner juga mengemukakan bahwa dengan menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan menambah rumitnya masalah.  Sebab, setiap alat yang digunakan perlu penjelasan lagi, demikian dan seterusnya.
Pandangan teori belajar behavioristik ini cukup lama dianut oleh para guru dan pendidik.  Namun dari semua pendukung teori ini, teori Skinner-lah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik.  Program-program pembelajaran yang seperti Teaching Machine, Pembelajaran berprogram, modul, dan program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respon serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement), merupakan program-program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan oleh Skinner.
Jadi seberapa besarpun pengaruh teori behavioristik pada guru pada akhirnya teori Skinner-lah yang paling sering di gunakan pada model pembelajaran saat ini.

Prinsip-Prinsip Penerapan Classical Conditioning

Oleh : Leilly Mardyani

Teori Belajar Classical Conditioning adalah teori belajar yang dikembangkan oleh Petrovich Pavlov. Teori belajar Classical Conditioning termasuk dalam teori belajar Behavioristik, yang terkenal dengan teori pengkondisian asosiatif stimulus-respons.
Berikut prinsip-prinsip yang harus dipertimbangkan guru saat menerapkan teori belajar Classical Conditioning :
  1. Suasana belajar yang menyenangkan. Ketika anak-anak belajar di ruangan dan suasana yang baik maka proses belajar dapat berjalan dengan baik. Suasana ruangan sangat penting bagi anak, karena menetukan apakah anak merasa senang dengan kegiatan belajarnya. Guru harus mampu membuat suasana belajar menyenangkan ketika siswa sedang mengerjakan tugas-tugas. Guru sebaiknya menekankan sikap saling kerjasama antar individu, agar muncul suasana kebersamaan antar siswa. Tugas kelompok juga lebih baik digunakan disbanding dengan tugas individu. Karena kompetensi antar kelompok lebih baik dibanding dengan kompetensi individu.
  2. Membantu siswa mengatasi situasi yang mencemaskan. Setiap siswa memiliki sikap dan karakter yang berbeda-beda. Penting bagi guru untuk memahami psikologis tiap anak. Dalam satu kelas tentu ada anak yang memiliki percaya diri tinggi, namun tentu juga ada seorang anak yang pemalu dan takut untuk tampil ditempat umum. Guru harus mendorong siswa yang pemalu untuk berani tampil didepan umum. Langkah pertama yang dapat dilakukan guru adalah dengan memberikan pemahaman pada siswa bahwa tiap siswa harus memiliki sikap pemberani dan harus mampu bicara di depan umum. Seorang anak yang takut berbicara di depan umum, dapat dilatih dengan membentuk kelompok diskusi. Agar anak mulai berani berbicara dalam kelompok kecil. Kemudian anak dapat diminta untuk menjadi perwakilan dalam kelopok untuk membacakan hasil diskusi yang dilakukan. Mulai hal-hal yang sederhana seperti ini, seorang anak akan mulai memiliki keberanian berbicara didepan umum.
  3. Membantu siswa untuk memahami situasi yang dihadapi. Guru harus mampu membantu siswa untuk memahami situasi yang sedang mereka hadapi, agar mereka dapat membedakan dan menggeneralisasi secara tepat. Contohnya yaitu ketika seorang siswa yang sedang mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Biasanya anak merasa takut, kurang percaya diri, dan takut gagal masuk perguruan tinggi. Disaat seperti ini peran guru menjadi sangat penting, guru harus mampu meyakinkan bahwa siswa mampu mengikuti ujian dan lolos. Guru harus senantiasa membimbing siswa, agar rasa percaya diri siswa semakin bertambah.

Teori Belajar Pada Abad ke-20

Oleh : Leilly Mardyani

Perkembangan teori belajar pada Abad ke-20 dikembangkan dengan melakukan beberapa eksperimen. Ada dua kelompok teori yang berkembang pada abad ke-20 yaitu:
Teori perilaku (Behavioristik)
Teori belajar Behavioristik adalah teori belajar yang mengkaitkan hubungan antara  Stimulus-Respon (S-R). Jadi perubahan perilaku yang ditunjukkan oleh individu terjadi mulai Stimulus-Respon (S-R) menurut prinsip-prinsip mekanistik. Berikut beberapa teori Behavioristik : 
  • Ivan Petrovich Pavlov. Teori belajar dari Ivan Petrovich Pavlov adalah teori belajar Classical Conditioning. Menurut teori ini belajar adalah pengkondisian asosiatif antara stimulus-respons.
  • E.L Thorndike. Pengertian belajar  menurut E.L Thorndike adalah merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R).
  • E.R.Guthrie. Teori belajar Guthrie menggunakan variabel, dengan menghubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Teori belajar Guthrie menganggap bahwa setiap individu mempunyai kapasitas belajar yang berbeda.
Teori Kognitif (Gestalt-fielf)
Menurut teori kognitif ini proses belajar akan lebih mudah bagi guru, jika mempertimbangkan kepribadian individu, psikologis, lingkungan dan interaksi. Kelompok ini berpendapat bahwa konsep orang, lingkungan psikologi, dan interaksi lebih memudahkan para guru dalam memberikan proses belajar. Konsep-konsep dari teori ini memungkinkan guru untuk melihat seseorang, lingkungan, dan interkasi dengan lingkungannya, semuanya itu terjadi pada waktu yang sama. Teori kognitif Gestalt ini menentang teori Behavioristik dan Stukturalisme. Teori ini memiliki beberapa karakteristik, yaitu mempunyai hukum keterdekatan, ketertutupan, dan kesamaan, proses pembelajaran yang dilakukan secara terus menerus akan memperkuat ingatan peseta didik, dan adanya pemahaman belajar insight. Tujuan pembelajaran adalah perubahan perilaku anak. Namun dalam teori ini menganggap bahwa ada perilaku yang tidak tampak atau perilaku yang tidak dapat diamati, namun hal tersebut dipelajari secara ilmiah atau dalam bentuk pikiran-pikiran.