Wednesday, November 5, 2014

PERENCANAAN PENGAJARAN


Oleh Nabela Ilma Yenisa
Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Semarang

                Perencanaan pengajaran berarti pemikiran tentang penetrapan prinsip – prinsip  umum mengajar didalam pelaksanaan tugas mengajar dalam suatu interaksi pengajaran tertentu yang khusus baik yang berlangsung di dalam kelas ataupun diluar kelas. Perencanaan pengajaran mempunyai beberapa faktor yang mendukung tujuan pembelajaran tercapai misal:
a.       Persiapan sebelum mengajar
b.      Situasi ruangan dan letak sekolah dari jangkauan kendaraan umum
c.       Tingkat intelegensi siswa
d.      Materi pelajaran yang akan disampaikan
            Ada 7 aspek persiapan untuk mencapai tugas dari pembelajaran
1.      Persiapan terhadap situasi
Mancakup : tempat, suasana ruangan kelas, dan lain-lain. Dan situasi umum harus dimiliki sebelum saudara mengajar di dalam kelas tersebut dengan pengetahuan saudara dapat membuat ancang- ancang terhadap variabel  faktor masalah dan menghadapi situasi kelas.
2.      Persiapan terhadap siswa yang akan dihadapi
Maksud: Sebelum guru mengajar ia harus mengetahui keadaan siswa tsb atau dengan kata lain guru harus membuat gambaran yang jelas mengenai keadaan siswa yang akan dihadapi selain dari pada faktor intern siswa tsb ( laki- laki dan Pr) seorang guru harus mengetahui taraf kematangan dan pengetahuan serta khusus dari pada siswa tsb.
3.      Persiapan dalam tujuan umum pembelajaran
     Yang menyangkut tujuan instruksional apa yang akan dicapai oleh para siswa harus dimiliki seorang guru mencakup antara lain: Pengetahuan, kecakapan, keterampilan atau sikap tertentu yang konkrit yang bisa di ukur dengan alat- alat evaluasi.
4.      Persiapan tentang bahan pelajaran yang akan diajarkan
     Yang dimaksud dengan ini: Dengan adanya pengetahuan yang akan dihadapkan kepada siswa, guru memiliki persiapan yang akan di sampaikan kepada siswa yang harus terdapat batas- batas, luas dan urutan- urutan pengajaran perlu di persiapkan.

5.      Persiapan tentang metode- mengajar yang hendak di pakai
a.       Metode ceramah
b.      Metode tanya jawab atau diskusi 
6.      Persiapan dalam penggunaan alat- alat peraga
     Misal : kapur dan papan tulis, pengahapus paling sedikit di gunakan tetapi dalam belajar pembelajaran di pergunakan alat pembantu adalah media yang mempertinggi komunikasi pada saat proses belajar berlangsung.
7.      Persiapan dalam jenis teknik evaluasi
     Tujuan evaluasi : samapi sejauhmana daya serap terhadap produk bahasan yang saudara terapkan Ada beberapa jenis alat evaluasi disini yaitu : Bentuk test apakah test tertulis maupun test lisan.

Tuesday, November 4, 2014

Model Obsorn Parne


Oleh Diwan Aprillia
Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Dengan menginiasi dari model belajar Proses Pemecahan Masalah Kreatif (Creative Problem Solving Process), model ini merupakan perangkat yang fleksibel yang dapat diterapkan untuk pengujian masalah-masalah dan isu-isu nyata. Enam tahap dalam model ini dikembangkan oleh pencipta Brainstorming, Alex Osborn dan Dr.Sidney, mempresentasikan tahap sistematis dalam mengidentifikasi tantangan, menciptakan gagasan, serta menerapkan solusi inovatif.
Enam langkah logis model pembelajaran Osborn parne ini yaitu :
1.        Penemuan tujuan – identifikasi tujuan, tantangan, dan arah masa depan
2.        Penemuan fakta – pengumpulan data tentang masalah, mengobservasi masalah dengan seobjektif mungkin
3.        Pemecahan masalah – pengujian masalah untuk dipisah menurut bagian-bagiannya menjadi yang lebih kecil, serta menguraikan masalah secara terbuka
4.        Penemuan gagasan – menciptakan gagasan sebanyak mungkin terkait dengan masalah yang dihadapi dan yang ingin dipecahkan, brainstorming.
5.        Penemuan solusi – memilih solusi yang paling tepat dan sesuai dengan mengembangkan dan memilih kriteria untuk menilai apa saja solusi alternative yang dianggap yang terbaik.
6.        Penerimaan – membuat rencana tentang tindakan yang akan dilakukan

            Model pembelajaran ini berbeda dengan model pembelajaran yang lainnya karena model ini lebih menekankan pada kebutuhan untuk menunda judgement terhadap gagasan-gagasan dan juga solusi yang diperoleh hingga keputusan final telah siap untuk dibuat. Peran guru dalam model ini sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang di dalamnya para siswanya merasa nyaman dalam membuat dan menemukan gagasan-gagasan.

Monday, November 3, 2014

Model De Bono

Oleh Mubashiroh
Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

    Edward De Bono mendasarkan pemikirannya pada apa yang disebut dengan Model Berpikir Lateral dan Kreatif (Lateral and Creative Thinking Model). Dr. Edward De Bono dianggap oleh banyak pendidik sebagai salah satu pemikir utama dalam dunia pemikiran kreatif dan pengajaran berpikir. Ia telah menulis 62 buku yang telah diterjemahkan ke dalam 37 bahasa dan telah diundang ke 54 negara di dunia. Ia adalah inisiator gagasan tentang pemikiran lateral yang memosisikan kreativitas sebagai perilaku informasi dalam sistem informasi yang self-organising, seperti jaringan neural otak. Dari pertimbangan semacam ini muncullah berbagai perangkat pemikiran formal pemikiran lateral, termasuk The Six Thinking Hats and CoRT Thinking.
   Dr. de Bono merancang dan menjalankanm program CoRT Thinking yang sudah banyak digunakan sebagai metode pengajaran berpikir di sekolah-sekolah dan s=diterapkan di berbagai Negara di dunia. Program CoRT membagi pemikiran ke dalam enam mode yang berbeda-beda, yang ditandai dengan enam warna topi (hats) yang juga berbeda. (1) Topi Merah. Emosi, intuisi, perasaan, firasat. Tidak perlu menunjukkan perasaan. (2) Topi Kuning. Manfaat. (3) Topi Hitam. Kehati-hatian, keputusan, penilaian. (4) Topi Hijau. Kreativitas yang berisi gagasan-gagasan yang berbeda. Gagasan-gagasan yang baru, saran-saran dan usulan-usulan. (5) Topi Putih. Berupa informasi dan pertanyaan. (6) Topi Biru. Organisasi pemikiran. Berpikir tentang berpikir.

    Sebenarnya, sangat mungkin menambah topi-topi lain. Akan tetapi, bagi de Bono enam topi di atas sudah cukup. Lebih banyak topi akan semakin membingungkan, sementara terlalu sedikit topi tidak akan memadai. 

DASAR PERLUNYA PERENCANAAN PEMBELAJARAN


Oleh Muhammad Toriq
Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Semarang

Perlunya perencanaan pembelajaran dimaksudkan agar dapat dicapai perbaikan pembelajaran. Upaya perbaikan pembelajaran ini dilakukan dengan asumsi berikut:
1.      Untuk memperbaiki kualitas pembelajaran perlu diawali dengan peren­canaan pembelajaran yang diwujudkan dengan adanya desain pembe­lajaran
2.      Untuk merancang suatu pembelajaran perlu menggunakan pendekatan sistem
3.      Perencanaan desain pembelajaran diacukan pada bagaimana seseorang belajar
4.      Untuk merencanakan suatu desain pembelajaran diacukan pada siswa secara perseorangan
5.      Pembelajaran yang dilakukan akan bermuara pada ketercapaian tujuan pembelajaran, dalam hal ini akan ada tujuan langsung pembelajaran, dan tujuan pengiring dari pembelajaran
6.      Sasaran akhir dari perencanaan desain pembelajaran adalah mudahnya siswa untuk belajar
7.      Perencanaan pembelajaran harus melibatkan semua variabel pembelajaran;
8.      Inti dari desain pembelajaran yang dibuat adalah penetapan metode pembelajaran yang optimal untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Sunday, November 2, 2014

PRINSIP – PRINSIP PENGEMBANGAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) MENURUT KURIKULUM 2013


Oleh
Annisa Tri Wahyuningsih
Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Semarang

Prinsip yang harus diperhatikan saat mengembangkan atau menyusun RPP adalah sebagai berikut.
  1. RPP disusun oleh guru sebagai terjemahan dari ide kurikulum dan berdasarkan silabus yang telah dikembangkan di tingkat nasional ke dalam bentuk rancangan proses pembelajaran untuk direalisasikan dalam pembelajaran. Jadi dalam hal ini guru harus mampu menterjemahkan ide-ide yang dimuat dalam Kurikulum 2013. Penterjemahan ide-ide didasarkan pada silabus yang telah disiapkan oleh pemerintah pusat dalam hal ini departemen pendidikan dan kebudayaan. Kemampuan menterjemahkan ide akan terlihat saat guru mengembangkan RPP dan menyesuaikan apa yang dinyatakan dalam silabus dengan kondisi di satuan pendidikan baik kemampuan awal peserta didik, minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan peserta didik.
  2. RPP yang dibuat selalu mengedepankan perencanaan pembelajaran yang nantinya dalam proses belajar mengajar akan mendorong partisipasi aktif siswa. RPP yang dibuat tidak boleh menyimpang dari tujuan Kurikulum 2013 yaitu untuk menghasilkan siswa sehingga menjadi manusia yang mandiri dan tak berhenti belajar (pebelajar sepanjang hayat/lifelong learner), proses pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered) sehingga dapat mengembangkan motivasi, minat, rasa ingin tahu (curiousity), kreativitas, inisiatif, inspirasi, kemandirian, semangat belajar, keterampilan belajar dan kebiasaan belajar.
  3. Pengembangan RPP yang baik akan mengedepankan proses pembelajaran yang mengembangkan budaya membaca dan menulis pada diri peserta didik. Proses pembelajaran dalam RPP dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca, pemahaman beragam bacaan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan.
  4. Di dalam RPP terdapat cara-cara dan langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh guru untuk memberikan umpan balik (feedback) dan tindak lanjut (follow up). RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif (positive feedback), penguatan (reinforcement), pengayaan (enrichment), dan remedi. Pemberian pembelajaran remedi harus dilakukan guru setiap saat setelah suatu ulangan atau ujian dilakukan, hasilnya dianalisis, dan kelemahan setiap peserta didik dapat teridentifikasi. Pemberian pembelajaran diberikan sesuai dengan kelemahan peserta didik.
  5. Perancangan RPP memperhatikan keterkaitan dan keterpaduan antara materi-materi pembelajaran yang satu dengan materi pembelajaran yang lainnya. RPP harus sedemikian rupa sehingga keterkaitan dan keterpaduan antara KI dan KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian, dan sumber belajar menjadi satu kesatuan utuh berbentuk pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa. RPP disusun dengan mengakomodasikan pembelajaran tematik, keterpaduan lintas matapelajaran untuk sikap dan keterampilan, dan keragaman budaya.
  6. Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi. RPP disusun dengan mempertimbangkan penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.


BAGAIMANA CARA MENYUSUN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) DENGAN BENAR?


Oleh Muhammad Toriq
Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Semarang

Dunia pendidikan terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman, perkembangan ini bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan khususnya di Indonesia.  Perubahan penting yang telah terjadi dalam dunia pendidikan di Indonesia salah satunya adalah perubahan kurikulum, telah kita ketahuai bersama perubahan kurikulum juga diikuti perubahan perangkat pembelajaran salah satunya RPP.
Kurikulum yang pernah dipraktikan di Indonesia antara lain kurikulum 1994, Kurikulum berbasis Kompetensi (KBK), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan kurikulum 2013. Perubahan tersebut akan terus berlanjut sesuai dengan tuntutan zaman.
Cara  menyusun RPP dengan benar, maka perlu meninjau standar proses pendidikan yang berlaku di Indonesia. RPP yang disusun dengan benar akan memberikan kemudahan bagi sang pendidik untuk melaksanakan pembelajaran yang dilakukan sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan optimal. Untuk menyusun RPP tdengan benar maka perlu memahami beberapa hal berikut ini:
1.      RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih.
2.      RPP yang baik itu jelas, siapapun yang mengajarkan akan bisa membaca dan melakukan karena  didalamnya dipaparkan tahap demi tahap (proses).
3.      RPP menggambarkan prosedur, struktur organisasi pembelajaran untuk mencapai Kompetensi Dasar yang ditetapkan dalam standar isi & dijabarkan dalam silabus.
4.      Susunan indikator dalam RPP guru melibatkan 3 aspek (kognitif, afektif, psikomotorik) tetapi tidak harus semua.
5.      Tujuan pembelajaran wajib memuat ABCD atau lebih jelasnya audience, behaviour, condition, dan degree. Maksudnya, dalam tujuan pembelajaran harus terdapat  peserta didik (audience), tingkah laku belajar (behaviour), kondisi belajar (condition), dan tingkat keberhasilan (degree).

Saturday, November 1, 2014

Model Gardner dalam Pembelajaran Matematika

Oleh Ali Rosyid
Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Dalam pembelajaran matematika, khususnya perkalian, guru dapat menerapkan strategi pembelajaran yang diselenggarakan dengan menggunakan pendekatan multiple intelligences. Dengan menyelenggarakan pembelajaran berbasis multiple intelligences ini diharapkan setiap siswa akan merasa semangat dan terus termotivasi untuk belajar. Berikut merupakan contoh mengajar matematika (perkalian) kepada siswa dengan pendekatan multiple intelligences.

a)    Perkalian secara linguistic
Cara belajar terbaik siswa yang memiliki kecerdasan linguistik adalah dengan mengucapkan, mendengar, dan melihat kata-kata. Cara terbaik memotivasi mereka di antaranya mengajak bicara, menyediakan bahan bacaan, rekaman, dan menyediakan sarana untuk menulis. 
b)    Perkalian secara logis-matematis
Dalam belajar perkalian, siswa yang memiliki kecerdasan logis-matematis tinggi ini tidak terlalu sulit, karena materi yang dipelajari memiliki karakteristik yang sama dengan kecerdasan yang dimiliki siswa. Kegiatan yang diapat dilakukan , di antaranya menggunakan batu kerikil, korek api, atau benda lain, kemudian siswa menyusunnya dalam kelompok dua-dua, tiga-tiga, empat-empat, dan seterusnya.

c)     Perkalian secara visual-spasial
Cara belajar bagi siswa visual-spasial ini biasanya melalui gambar, metafora visual, dan warna. Dalam mempelajari perkalian, guru dapat memberi siswa tabel “seratus”, selembar kertas yang tertulis angka 1 sampai 100 dalam sepuluh kolom secara horizontal atau vertikal.

d)    Perkalian secara kinestetik
Siswa-siswa yang kecenderungannya dalam jenis kecerdasan kinestetik ini biasanya belajar dengan cara menyentuh, memanipulasi, dan bergerak. Cara terbaik memotivasi mereka adalah melalui seni peran, gerakan kreatif, dan semua jenis kegiatan yang melibatkan fisik.

e)    Perkalian secara musical
Siswa dengan kecerdasan musikal biasanya belajar melalui irama dan melodi. Mereka bisa mempelajari apa pun dengan lebih mudah, jika hal itu dinyanyikan, diberi ketukan, atau disiulkan. Seorang guru dapat memilih sebuah lagu yang berirama alami dan teratur. Lagu rakyat sederhana atau lagu lain yang disukai siswa-siswa biasanya sangat efektif. Kemudian siswa diminta menyanyikan tabel perkalian sesuai irama lagu (“2 kali 2 sama dengan 4, 2 kali 3 sama dengan 6, 2 kali 4 sama dengan 8, dan seterusnya”).

f)   Perkalian secara interpersonal
Cara belajar terbaik siswa yang memiliki kecerdasan interpersonal adalah dengan berhubungan dan bekerja sama. Dalam belajar perkalian, pertama-tama guru mengajari konsep dasar perkalian melalui berbagai cara seperti di atas, kemudian siswa diminta untuk mengajarkannya kepada teman yang lain. Beri siswa beberapa gambar dan usulkan supaya siswa menyelenggarakan kompetisi gambar kelompok di setiap kelompok mereka. Buat permainan papan dari map karton dan gambarkan sebuah jalan berliku dengan spidol dan tuliskan problem tabel perkalian (misalnya, 3 x 5 = ?) di atas kotak-kotak terpisah.

g)     Perkalian secara intrapersonal
Siswa yang memiliki kecenderungan kecerdasan jenis ini paling efektif belajar ketika diberi kesempatan untuk menetapkan target, memilih kegiatan mereka tulis, dan menentukan kemajuan merkea sendiri melalui proyek apa pun yang mereka minati. Siswa-siswa ini memotivasi diri sendiri.

h)    Perkalian secara naturalis
Siswa yang memiliki kecenderungan kecerdasan naturalis akan menjadi semangat dalam belajar ketika terlibat dalam pengalaman di alam terbuka. Untuk mempelajari perkalian, guru dapat meminta siswa untuk mengamati kelipatan yang ada di alam, dari kuncup setangkai bunga, sampai ulir sebutir buah semara atau cangkang kerang.



PERENCANAAN PEMBELAJARAN KURIKULUM 2013


Oleh Sanudin Dzikri
Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Semarang

Kriteria yang harus dipenuhi dalam perumusan perencanaan pembelajaran pada pelaksanaan  kurikulum 2013. Pertama, merancang kompetensi yang seimbang antara sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang hendak diwujudkan. Kejelasan kompetensi akan sangat membantu dalam merancang materi pelajaran,  skenario penbelajaran, penilaian, maupun merencanakan media, alat, dan sumber belajar. Semua bermula dari penyelarasan Indikator pencapaian yang harus selaras dengan kompetensi dasar, kompetensi inti, dan standar kompetensi lulusan.
Tatangan para guru dalam mewujudkan pembelajaran yang efektif adalah bagaimana menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan ringkas, namun efektif dapat digunakan sebagai acuan yang  mudah digunakan pelaksanaan pembelajaran. Untuk mempemudah kegiatan merencanakan pembelajaran pada kepala sekolah maupun pengawas dapat membantu guru-guru dalam mempermudah merumuskan indikator pencapaian kompetensi.
Merumuskan indikator pencapian kompetensi yang memerlukan banyak petimbangan sering tidak mudah diwujudkan. Setidaknya ada sejumlah komponen yang perlu diperhatikan
1.      Perumusan indikator pencapaian kompetensi meliputi  dimensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan, masing-masing dimensi memiliki kata kerja opersional yang berbeda.
2.      Dimensi pengetahuan perlu  merumuskan level kemampuan berpikir tinggi yang diwujudkan dalam akativitas mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan berkreasi. Sekali pun para pendidik dapat memperoleh kata kerja opersional (KKO) dalam mendeskripsikan kemampuan yang hendak diwujudkan sering tidak mudah.
3.      Pemilahan kemampuan menguasai pengetahuan pengetahuan terdapat unsur fakta, konsep, dan prosedur bahkan sampai metakognitif yang ditandai dengan kemampuan merumuskan pikiran yang memuat materi yang abstrak seperti dalam kegiatan perancangan program atau mewujudkan rancang bangun yang kompleks.
4.      Perumusan  indikator pencapaian kompetensi pengetahuan dan keterampilan sebagai dampak langsung dari pembelajaran dan sikap sebagai dampak pengiring.
5.      Pengujian ketepatan rumusan indikator pencapaian kompetensi yang mencerminkan perilaku   yang spesifik sehingga dapat diukur dengan alat evaluasi.
6.      Tingkat kepastian bahwa indikator pencapaian kompetensi  meliputi aktivitas beraktivitas dan berkarya.

CARA BELAJAR SISWA AKTIF (CBSA)


Oleh Aida  Rosmaniar
Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Semarang

Cara belajar siswa aktif (CBSA) merupakan suatu upaya dalam pembaruan pendidikan dan pembelajaran. Kendatipun cara ini tergolong baru, namun sesungguhnya konsep ini telah lama dikembangkan, hanya perwujudannya yang masih baru dalam sistem pembelajaran di sekolah-sekolah kita. Karena itu, ada baiknya guru-guru mengenal dan memahaminya lebih seksama agar mampu menerapkan secara efektif.
CBSA juga merupakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran yang menitik beratkan pada keaktifan siswa, ini yang menjadi inti dari kegiatan belajar. Pada dasarnya, keaktifan belajar terjadi dan terdapat pada semua proses belajar, akan tetapi terdapat kadar-kadar yang berbeda tergantung pada kegiatannya, materi yang dipelajari dan tujuan yang hendak dicapai.
Dalam CBSA, kegiatan belajar diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan, seperti mendengarkan, berdiskusi, membuat sesuatu, menulis laporan, memecahkan masalah, memberikan prakarsa/ gagasan, menyusun rencana, dan sebagainya- Keaktifan itu da yang dapat diamati dan ada pula yang tidak dapat diamati secara langsung. Sejak dimunculkannya pendekatan CBSA dalam lingkungan pendidikan ditanah air, konsep CBSA telah mengalami perkembangan yang cukup jauh. Pendekatan CBSA dinilai sebagai suatu sistem belajar mengajar yang menekankan keaktifan siswa secara fisik, mental, intelektual dan emosional guna memperole hasil belajar yang bempa perpaduan antara matra kognitif, afekisi dan psikomotorik.
Dalam kerangka sistem belajar mengajar, terdapat komponen proses yakni keaktifan fisik, mental, intelektual dan emosional dan komponen produk, yakni hasil belajar berupa keterpaduan aspek-aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik Secara lebili rinci komponen produk tersebut mencakup berbagai kemampuan menamati, menginterprestasikan,  meramalkan, mengkaji, menggeneralisasikan, menemukan, mendiskusikan, dan mengkomonikasikan hasil penemuan. Aspek-aspek kemampun tersebut dikembangkan secara terpadu melalui  sistem pembelajaran berdasarkan pendekatan CBSA.