Wednesday, December 10, 2014

Teori Belajar Sosial

S. Zainal A.
slametzainal_abidin@yahoo.com


Dalam dasawarsa terakhir, penganut teori konstruktivisme memperluas fokus tradisionalnya pada pembelajaran individual ke dimensi pembelajaran kolaboratif dan sosial. Konstruktivisme sosial bisa dipandang sebagai perpaduan antara aspek-aspek dari karya Piaget dengan karya Bruner dan karya Vygotsky. Istilah Konstruktivisme komunal dikenalkan oleh Bryn Holmes di tahun  2001. Dalam model ini, "siswa tidak hanya mengikuti  pembelajaran seperti halnya air mengalir melalui saringan namun membiarkan mereka membentuk dirinya." Dalam perkembangannya muncullah istilah Teori Belajar Sosial dari para pakar pendidikan.
Pijakan awal teori belajar  sosial adalah bahwa manusia belajar melalui pengamatannya terhadap perilaku orang lain. Pakar yang paling banyak melakukan riset teori belajar sosial adalah Albert Bandura dan Bernard Weiner. Meskipun classical dan operant conditioning dalam hal-hal tertentu masih merupakan tipe penting dari belajar, namun orang belajar tentang sebagian besar apa yang ia ketahui melalui observasi (pengamatan). Belajar melalui pengamatan berbeda dari classical dan operant conditioning karena tidak membutuhkan pengalaman personal langsung dengan stimuli, penguatan kembali, maupun hukuman.  Belajar  melalui pengamatan secara sederhana melibatkan pengamatan perilaku orang lain, yang disebut model, dan kemudian meniru perilaku model tersebut.
Baik anak-anak maupun orang dewasa belajar banyak hal dari pengamatan dan imitasi (peniruan) ini. Anak muda belajar bahasa, keterampilan sosial, kebiasaan, ketakutan, dan banyak perilaku lain dengan mengamati orang tuanya atau anak yang lebih dewasa. Banyak orang belajar akademik, atletik, dan keterampilan musik dengan mengamati dan kemudian menirukan gurunya. Menurut psikolog Amerika Serikat kelahiran Kanada Albert Bandura, pelopor dalam studi tentang belajar melalui pengamatan, tipe belajar ini memainkan peran yang penting dalam perkembangan kepribadian anak. Bandura menemukan  bukti  bahwa  belajar  sifat-sifat  seperti keindustrian, keramahan, pengendalian diri, keagresifan, dan ketidak sabaran sebagian dari meniru orang tua, anggota keluarga lain, dan teman-temannya.
Psikolog pada suatu saat pernah berpikir bahwa hanya manusia yang dapat belajar melalui  pengamatan.  Mereka  sekarang  memahami bahwa banyak jenis binatang— termasuk burung, kucing, anjing, binatang pengerat, dan primata dapat belajar melalui pengamatan terhadap anggota lain dari spesies yang sama. Binatang yang kecil dapat belajar tentang sesuatu yang bisa dimakan, ketakutan, dan keterampilan untuk bertahan hidup melalui pengamatannya terhadap induknya atau bapaknya. Hewan yang sudah dewasa  dapat  belajar  perilaku  baru  atau solusi dari masalah sederhana melalui pengamatannya terhadap hewan lain. Nah, dari sini tentunya kita dapat mengambil suatu kesimpulan dari teori belajar sosial lebih menerapkan prinsip proses perubahan pada diri seseorang berdasarkan masa tempuh yang dia lakukan. Dengan ini tentunya kondisi siswa akan lebuh menerima secara psikis dengan maksimal apa yang mereka dapatkan. Penerapan teori belajar sosial harus berjalan seirama dengan kondisi lingkungan sekitar, guna menghasilkan pencapaian yang baik. Pada teori sosial ini pendidik dapat menerapkan pembelajaran kolaboratif dengan siswa lain, serta dapat menganalisis pencapaian mereka didalam lingkungan belajar. Perilaku dan kontribusi siswa dalam penerapan teori belajar sosial ini lebih diutamakan, karena dalam penerapannya siswa harus mampu bekerjasana dengan yang lainnya tanpa harus mengedepankan keinginginan masing-masing. Oleh sebab itu guru harus mampu menjadi jembatan pengantar siswa untuk dapat menerapkan perilaku-perilaku yang bagaimana dalam sebuah interaksi sosial. Maka harapan dari penerapan teori balajar ini, sistem kolaboratif harus mampu membuat siswa bekerjasama dengan yang lainnya serta membentuk sikap yang baik.

0 komentar:

Post a Comment