S. Zainal A.
slametzainal_abidin@yahoo.com
Secara bahasa hukuman merupakan imbalan atau balasan perbuatan. Dalam pengaplikasian hukuman sering identik dengan fisik. Hukuman dalam teori operant conditioning dimaksudkan untuk lebih memotivasi siswa dalam melakukan proses pembelajaran. Hukuman tidak dimaksudkan untuk memberi peringatan atau beban yang berat pada siswa untuk dapat melakukan hal sesuai dengan keinginan kita. Sebagai seorang pendidik tentunya harus mengetahui hukuman yang sesuai untuk peserta didik, dalam pemberian hukuman ini juga berkaitan dengan aspek psikologis siswa kedepannya. Penerapan hukuman ini pada teori operan conditioning lebih masuk untuk diterapkan pada pelatihan berbasis militer, dimana dengan menerapkan ini diharapkan mampu tercipta semangat belajar yang tinggi. Apabila hukuman dapat diterapkan dengan maksimal maka diharapkan akan sama dengan penerapan penguatan.
Apabila reinforcement memperkuat perilaku, hukuman memperlemah, mengurangi peluangnya terjadi lagi di masa depan. Sama halnya dengan reinforcement, ada dua macam hukuman, positif dan negatif. Hukuman yang positif meliputi mengurangi perilaku dengan memberikan stimulus yang tidak menyenangkan jika perilaku itu terjadi. Orang tua menggunakan hukuman positif ketika mereka memukul, memarahi, atau meneriaki anak karena perilaku yang buruk. Masyarakat menggunakan hukuman positif ketika mereka menahan atau memenjarakan seseorang yang melanggar hukum.
Hukuman negatif atau disebut juga peniadaan, meliputi mengurangi perilaku dengan menghilangkan stimulus yang menyenangkan jika perilaku terjadi. Taktik orang tua yang membatasi gerakan anaknya atau mencabut beberapa hak istimewanya karena perbuatan anaknya yang buruk merupakan contoh hukuman negatif.
Kontroversi yang besar terjadi manakala membicarakan apakah hukuman merupakan cara yang efektif dalam mengurangi atau meniadakan perilaku yang tidak diinginkan. Eksperimen dalam laboratorium yang sangat hati-hati membuktikan bahwa, ketika hukuman digunakan dengan bijaksana, ternyata menjadi metode yang efektif dalam mengurangi perilaku yang tidak diinginkan. Namun demikian, hukuman memiliki beberapa kelemahan. Ketika seseorang dihukum sehingga sangat menderita, ia menjadi marah, agresif, atau reaksi emosional negatif lainnya. Mereka mungkin menyembunyikan bukti-bukti perilaku salah mereka atau melarikan diri dari situasi buruknya, seperti halnya ketika seorang anak lari dari rumahnya. Lagi pula, hukuman mungkin mengeliminasi perilaku yang dikehendaki bersamaan dengan hilangnya perilaku yang tidak dikehendaki. Sebagai contoh, seorang anak yang dipukul karena membuat kesalahan di depan kelas kemungkinan tidak berani lagi tunjuk jari. Karena alasan ini dan beberapa alasan lainnya, banyak pakar psikologi yang merekomendasikan bahwa hukuman hanya boleh dilakukan untuk mengontrol perilaku ketika tidak ada alternatif lain yang lebih realistis.
Namun dewasa ini pola penerapan hukuman sering kali disalah gunakan oleh para pendidik, dimana akibatnya banyak kasus-kasus yang terjadi dalam proses pembelajaran yang mengakibatkan banyak sekali penyelewengan terhadap penerapan hukuman. Pengontrolan dan penyeleksian hukuman perlu sekali dilakukan oleh seorang pendidik untuk dapat menerapkan hukuman yang layak diberikan kepada siswa. Hukuman ini juga tidak menimbulkan kesan negatif yang berkepanjangan kepada siswa. Dimana seorang guru bisa memberi hukuman yang berkaitan dengan aspek akademik namun memberi efek jera pada siswa untuk dapat lebih baik dalam mengerjakan atau melakukan proses pembelajaran. Maka kesimpulnnya seorang tenaga pendidik harus lebih teliti dan selektif serta memahami karakter peserta didik dalam memberikan hukuman untuk dapat diterima peserta didik yang tidak menimbulkan efek negatif yang berkepanjangan, karena hukuman diberikan untuk memotivasi siswa agar lebih baik lagi bukan menghukum yang tanpa aturan.






0 komentar:
Post a Comment