oleh : Afidatun Nafiah
Fungsi ini jarang
dilakukan oleh pendidik. Didalam kegiatan belajar humanistic fasilitator
hendaknya membantu peserta didik mengungkapkan emosinya. Fasiitator perlu
melakukan cara-cara yang dilakukan oleh para psikiater atau psikolog klinis.
Misalnya, pendidik ingin mengajarkan tentang proses penolakan dan penerimaan
anggota kelompok. Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok dan masing-masing kelompok
memiliki anggota sama. Setiap kelompok diminta membuat permainan yang
menyenangkan bagi semua anggotanya sehingga menimbulkan rasa solidaritas
tinggi. Namun tiba-tiba pendidik memberikan instruksi agar satu diantara lima
anggota masing-masing kelompok dikeluarkan dan diminta menjadi anggota kelompok
lain.
Kelompok baru itu melaksanakan permainan lagi
yang mampu menimbulkan rasa solidaritas tinggi. Kemudian anggota baru pada
masing-masing kelompok diminta kembali ke kelompok pertama. Permainan ini diakhiri
dengan kegiatan peserta didik diminta berdiskusi tentang proses pembentukan
kelompok dan meminta peserta didik yang keluar masuk kelompok itu mengungkapkan
perasaannya. Melalui permainan seperti ini pada akhirnya peserta didik akan
mampu mengungkapkan dan sekaligus mengendalikan emosi.
Pendidik yang
melaksanakan pendekatan humanistic akan selalu terlibat di dalam kegiatan
kehidupan emosional peserta didik. Pendidik yang mampu memahami kondisi
emosional peserta didik akan berhasil dalam melaksanakan pembelajaran. Demikian
pula peserta didik yang memahami kondisi emosional teman-temannyadan
pendidiknya, dia akan mudah beradaptasi dan pada gilirannya akan berhasil dalam
belajar. Dalam kehidupan sehari-hari tindakan mengelola emosi adalah lebih
sukar dibandingkan dengan mengelola intelektual.
Setiap individu dengan mudah mengembangkan
kemampuan kognitif melalui aktifitas belajar seperti membaca buku atau
berpartisipasi dalam kegiatan seminar, diskusi dan sejenisnya. Sebaliknya,
mengembangakan kemampuan afeksi atau emosi adalah pekerjaan yang tidak mudah
karena diperlukan kemampuan untuk memahami diri sendiri dan orang lain, serta
status dan peran individu di lingkungannya. Oleh karena itu apabila individu
mampu memahami dirinya sendiri dan lingkungannya maka akan mudah dalam
mengembangkan kemampuan emosinya.
0 komentar:
Post a Comment