Oleh Ali Rosyid
Kurikulum dan Teknologi
Pendidikan
Fakultas Ilmu
Pendidikan, Universitas Negeri Semarang
Pembelajaran reflektif, menjadi hal menarik menurut penulis untuk ditelaah,
karena hal ini dianggap tepat karena demikianlah yang terjadi di tengah dunia
pendidikan di Indonesia. Dimesi-dimensi reflektif dalam pembelajaran telah
cukup lama diabaikan dalam prakteknya. Hal keterpurukan kualitas pendidikan di negeri
ini tentu sudah menjadi perhatian umum. Namun yang justru terasa langka adalah
elaborasi lebih dalam dan serius akan penyebab dan solusi atas keterpurukan
yang terjadi. Asumsi atas kejadian ini diantaranya dominannya paradigma
psikologi behavioristik dalam pengelolaan pendidikan di Indonesia memang tidak
memberi tempat bagi proses belajar yang otentik ke arah pencapaian makna
pengetahuan melalui proses refleksi.
Dalam jurnal ini dikemukakan beberapa tahap
yang harus dilalui dalam penerapan model belajar refleksi, diantaranya;
a.
Tahap menghadirkan
kembali pengalaman
b.
Tahap mengelola
perasaan
c.
dan Tahap
mengevaluasi pengalaman
Kemudian muncul pertanyaan, apakah model belajar reflektif ini efektif
diterapkan di semua bidang pelajaran atau hanya pada mata pelajaran tertentu
saja? Jika ditelaah dari proses &hasil dari model belajar refleksi itu
sendiri seperti Asosiasi (mentautkan gagsan-gagasan), Integrasi (keterkaitan
diantara data yang ada), Validasi (menguji keotentikan gagasan) dan apropiasi
pengetahuan (menjdikan pengalaman baru menjadi milik pelaku refleksi), serta
berkembangnya keterampilan belajar yang signifikan akibat pemahaman atas
kebutuhan-kebutuhan dan gaya belajarnya sendiri, model belajar ini seharusnya
memang layak diperhitungkan karena model pembelajaran ini ternyata dapat
diterapkan pada semua jenis kurikulum dan tidak hanya sesuai diterapkan pada
disiplin-disiplin akademis tetapi juga ranah non akademis sebagai suatu
sikap,mentalitas dan pendekatan yang konsisten dalam proses pembelajaran.
Refleksi dalam proses pembelajaran penting bagi pengajar lebih-lebih bagi
pembelajar. Sudah seharusnya signifikasi pembelajaran adalah konstruktivisme,
yang pada hakikat belajarnya adalah proses pembangunan makna yang memiliki
visibilitas. Untuk sampai tahap itu maka salah satu prinsip pembelajaran dalam
konteks konstruktivisme disini adalah dengan menerapkan refleksi didalamnya.
Objek artikel jurnal ini adalah penerapan metode yang didasarkan pada
pengalaman siswa sendiri. Walaupun saat ini sebagian besar yang terjadi di
sekolah yaitu, ketika terjadi proses belajar mengajar, sebagian besar waktu
mereka digunakan untuk memperhatikan materi yang disampaikan di kelas. Dengan
penjabaran metode belajar ini tentu akan memberikan pencerahan dan menolong
para guru dalam melaksanankan pembelajaran yang efektif di kelas.
Sumber:
http://blog.pasca.gunadarma.ac.id/2012/08/01/model-pembelajaran-reflektif/






0 komentar:
Post a Comment