Oleh Mubashiroh
Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri
Semarang
Pendekatan
konstruktivisme merupakan proses pembelajaran yang menerangkan bagaimana
pengetahuan disusun dalam pemikiran pelajar. Pengetahuan dikembangkan secara
aktif oleh pelajar itu sendiri dan tidak diterima secara pasif dari orang
disekitarnya. Hal ini bermakna bahwa pembelajaran merupakan hasil dari usaha
pelajar itu sendiri dan bukan hanya ditransfer dari guru kepada pelajar. Hal
tersebut berarti siswa tidak lagi berpegang pada konsep pengajaran dan
pembelajaran yang lama, dimana guru hanya menuangkan atau mentransfer ilmu
kepada siswa tanpa adanya usaha terlebih dahulu dari siswa itu sendiri.
Steffe dan Kieren (1995)
mengungkapkan “beberapa prinsip pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme
diantaranya bahwa observasi dan mendengar aktivitas serta pembicaraan
matematika siswa adalah sumber yang kuat dan petunjuk untuk mengajar, untuk
kurikulum, dan untuk cara-cara dimana pertumbuhan pengetahuan siswa dapat
dievaluasi”. Dalam konstruktivisme proses pembelajaran senantiasa “problem
centered approach” dimana guru dan siswa terikat dalam pembicaraan yang
mempunyai makna matematika. Ciri-ciri tersebutlah yang akan mendasari
pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme. (dalam Suherman, 2003).
Prinsip konstruktivisme
telah banyak digunakan dalam pembelajaran. Menurut Mohammad (2004:4) prinsip
utama dalam pembelajaran konstrutivisme adalah: (1) Penekanan pada hakikat
sosial dari pembelajaran, yaitu peserta didik belajar melalui interaksi
dengan guru atau teman. (2) Zona perkembangan terdekat, yaitu belajar konsep
yang baik adalah jika konsep itu berada dekat dengan peserta didik. (3)
Pemagangan kognitif, yaitu peserta didik memperoleh ilmu secara bertahap dalam
berinteraksi dengan pakar, (3) Mediated learning, yaitu diberikan tugas
komplek, sulit, dan realita kemudian baru diberi bantuan. Pendekatan
konstruktivisme lebih menekankan keaktifan dan peran serta peserta didik dalam
pembelajaran, sedangkan guru hanya sebagai fasilitator sebagaimana yang
dituntut oleh kurikulum.
Pembelajaran dengan
pendekatan konstruktivisme ini akan memberikan keuntungan kepada siswa, yaitu
dapat membiasakan siswa belajar mandiri dalam memecahkan masalah, menciptakan
kreativitas untuk belajar sehingga tercipta suasana kelas yang lebih nyaman dan
kreatif, terjalinnya kerja sama sesama siswa, dan siswa terlibat langsung dalam
melakukan kegiatan, dan dapat menciptakan pembelajaran menjadi lebih bermakna
karena timbulnya kebanggaan siswa menemukan sendiri konsep yang sedang
dipelajari dan siswa akan bangga dengan hasil temuannya, serta melatih siswa
berpikir kritis dan kreatif. Sedangkan kelemahannya adalah siswa dalam
mengkonstruksi pengetahuannya, tidak jarang bahwa hasil konstruksi siswa tidak
cocok dengan hasil konstruksi para ahli matematika, hal ini dapat mengakibatkan
salah pengertian (miskonsepsi).






0 komentar:
Post a Comment