Monday, December 15, 2014

Pendekatan Konstruksivisme dalam Pembelajaran

Oleh Mubashiroh
Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang
Pendekatan konstruktivisme merupakan proses pembelajaran yang menerangkan bagaimana pengetahuan disusun dalam pemikiran pelajar. Pengetahuan dikembangkan secara aktif oleh pelajar itu sendiri dan tidak diterima secara pasif dari orang disekitarnya. Hal ini bermakna bahwa pembelajaran merupakan hasil dari usaha pelajar itu sendiri dan bukan hanya ditransfer dari guru kepada pelajar. Hal tersebut berarti siswa tidak lagi berpegang pada konsep pengajaran dan pembelajaran yang  lama, dimana guru hanya menuangkan atau mentransfer ilmu kepada siswa tanpa adanya usaha terlebih dahulu dari siswa itu sendiri.
Steffe dan Kieren (1995) mengungkapkan “beberapa prinsip pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme diantaranya bahwa observasi dan mendengar aktivitas serta pembicaraan matematika siswa adalah sumber yang kuat dan petunjuk untuk mengajar, untuk kurikulum, dan untuk cara-cara dimana pertumbuhan pengetahuan siswa dapat dievaluasi”. Dalam konstruktivisme proses pembelajaran senantiasa “problem centered approach”  dimana guru dan siswa terikat dalam pembicaraan yang mempunyai makna matematika. Ciri-ciri tersebutlah yang akan mendasari pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme. (dalam Suherman, 2003).
Prinsip konstruktivisme telah banyak digunakan dalam pembelajaran. Menurut Mohammad (2004:4) prinsip utama dalam pembelajaran konstrutivisme adalah: (1) Penekanan pada hakikat sosial dari pembelajaran, yaitu peserta didik belajar  melalui interaksi dengan guru atau teman. (2) Zona perkembangan terdekat, yaitu belajar konsep yang baik adalah jika konsep itu berada dekat dengan peserta didik. (3) Pemagangan kognitif, yaitu peserta didik memperoleh ilmu secara bertahap dalam berinteraksi dengan pakar, (3) Mediated learning, yaitu diberikan tugas komplek, sulit, dan realita kemudian baru diberi bantuan. Pendekatan konstruktivisme lebih menekankan keaktifan dan peran serta peserta didik dalam pembelajaran, sedangkan guru hanya sebagai fasilitator sebagaimana yang dituntut oleh kurikulum.
Pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme ini akan memberikan keuntungan kepada siswa, yaitu dapat membiasakan siswa belajar mandiri dalam memecahkan masalah, menciptakan kreativitas untuk belajar sehingga tercipta suasana kelas yang lebih nyaman dan kreatif, terjalinnya kerja sama sesama siswa, dan siswa terlibat langsung dalam melakukan kegiatan, dan dapat menciptakan pembelajaran menjadi lebih bermakna karena timbulnya kebanggaan siswa menemukan sendiri konsep yang sedang dipelajari dan siswa akan bangga dengan hasil temuannya, serta melatih siswa berpikir kritis dan kreatif. Sedangkan kelemahannya adalah siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya, tidak jarang bahwa hasil konstruksi siswa tidak cocok dengan hasil konstruksi para ahli matematika, hal ini dapat mengakibatkan salah pengertian (miskonsepsi).   

0 komentar:

Post a Comment