Friday, December 5, 2014

Pembelajaran sebagai Kolaborasi Individu-individu

Oleh Rian Rifqi Ariyanto
Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang


Manusia selain sebagai mahkluk sosial juga merupakan sebagai mahkluk individu, dimana manusia memiliki karakteristik yang khas yang tidak dimiliki manusia lain, seperti sifat, fisik, perilaku, dan lain-lain. Oleh karena itu, manusia memiliki sesuatu kekuatan yang tidak bisa dikalahkan jika bisa menyatukan antar manusia yang memiliki karakteristik khusus tersebut. Seperti halnya dalam pembelajaran, pembelajaran yang dilakukan lebih dari satu orang akan lebih efektif dan mendapat pengalaman lebih banyak dari pada pembelajaran yang dilakukan hanya satu orang. Wenge (1998) juga berpendapat bahwa proses pembelajaran yang menggunakan interaksi dengan orang lain itu akan lebih membantu individu dari pada melakukan pembelajaran dengan sendirinya. Dengan pembelajaran bersama akan menambah pemikiran, gagasan, dan pengalaman, sehingga membuat individu akan selalu berkembang berkembang, namun tidak terlepas dari pengaruh orang lain atau lingkungan sekitar. Artinya, dengan interaksi manusia mendapatkan pengetahuan yang lebih luas. Dalam hal ini, Wenger menggambarkan kondisi-kondisi pembelajaran untuk menjelaskan interelasi manusia yang di dalamnya sering terjadi pembelajaran.

Gambar Diagram Kolaboratif Wenger 

Wenger (2006) menjelaskan bahwa individu merupakan titik pusat, dan merupakan bagian dari unsur suatu komunitas sosiokultural tertentu yang ikut serta dalam proses pembelajaran di dalamnya. Komunitas-komunitas praktik merupakan sekelompok orang dalam konteks praktis dan sosial tertentu yang di dalamnya saling berbagi pengetahuan dan pengelaman apa saja yang mereka miliki, sehingga dapat membuat mereka lebih baik lagi dalam berinteraksi berikutnya. Pembelajaran dalam lingkungan praktis dan sosial tertentu tidak dapat langsung diterima dan diterapkan oleh setiap manusia dalam konteks yang berbeda. Ada pengetahuan dan skill tertentu yang harus diterapkan sesuai dengan jenis praktiknya, karena terkadang setting dan interaksi kelompok tertentu dapat meningkatkan pembelajaran, tetapi di kelompok lain justru menghambat bahkan merusak pembelajaran.
Karena pembelajaran terjadi dalam setting sosial, maka kultural juga sering kali terikat secara kultural dengan situasi tertentu. Transfer pemikiran dan konteks tidak selalu harmonis dalam setting setting yang ada. Akan tetapi, pembelajaran dalam kolaborasi kelompok dapat membuatnya harmonis yang pada akhirnya akan mendapatkan menambah pemahaman dari materi yang diajarkan.
Dalam pembelajaran ini, guru harus bisa merancang setting kelompok, seperti interaksi ruang-kelas, sehingga dapat membuat siswa belajar tentang efektivitas dalam bekerja sama. Paradigma ini tidak bisa diasumsikan bahwa ppembelajaran dalam setting tertentu bisa diterapkan dalam  situasi yang berbeda. Oleh karena itu, guru yang menggunakan paradigma ini harus bisa membantu siswa dalam menghubungkan situasi satu dengan yang lainnya yang berbeda, membantu siswa untuk melihat keterkaitan antara skill dan pengetahuan yang siswa peroleh dengan setting yang baru.
Adapun komponen dasar yang harus ada ddalam pengajaran semacam ini yaitu adanya interaksi verbal dalam setiap kelompok. Selain itu, siswa juga harus memiliki sense of comunity dalam kelompoknya.peran-peran dalam kelompok tdak dibagi sejak awal, melainkan lebih ditentukan dengan sharing kelompok mereka sendiri. Setiap anggota kelompok harus menghargai apa saja kontribusi yang diberikan pada kelompoknya. Pemerolehan informasi atau bahkan perubahan perspektif individu yang dipengaruhi oleh lingkungannya, merupakan beberapa faktor yang harus dipertimbangkan ketika hendak mendesain pembelajaran kolaboratif.

Sumber : Huda, M. (2013). Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Malang: Pustaka Pelajar Offset.

0 komentar:

Post a Comment