Oleh Rian Rifqi
Ariyanto
Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas
Negeri Semarang
Manusia selain sebagai mahkluk sosial juga
merupakan sebagai mahkluk individu, dimana manusia memiliki karakteristik yang
khas yang tidak dimiliki manusia lain, seperti sifat, fisik, perilaku, dan
lain-lain. Oleh karena itu, manusia memiliki sesuatu kekuatan yang tidak bisa
dikalahkan jika bisa menyatukan antar manusia yang memiliki karakteristik
khusus tersebut. Seperti halnya dalam pembelajaran, pembelajaran yang dilakukan
lebih dari satu orang akan lebih efektif dan mendapat pengalaman lebih banyak
dari pada pembelajaran yang dilakukan hanya satu orang. Wenge (1998) juga
berpendapat bahwa proses pembelajaran yang menggunakan interaksi dengan orang
lain itu akan lebih membantu individu dari pada melakukan pembelajaran dengan
sendirinya. Dengan pembelajaran bersama akan menambah pemikiran, gagasan, dan
pengalaman, sehingga membuat individu akan selalu berkembang berkembang, namun
tidak terlepas dari pengaruh orang lain atau lingkungan sekitar. Artinya,
dengan interaksi manusia mendapatkan pengetahuan yang lebih luas. Dalam hal
ini, Wenger menggambarkan kondisi-kondisi pembelajaran untuk menjelaskan
interelasi manusia yang di dalamnya sering terjadi pembelajaran.
Gambar
Diagram Kolaboratif Wenger
Wenger (2006) menjelaskan bahwa individu
merupakan titik pusat, dan merupakan bagian dari unsur suatu komunitas
sosiokultural tertentu yang ikut serta dalam proses pembelajaran di dalamnya.
Komunitas-komunitas praktik merupakan sekelompok orang dalam konteks praktis
dan sosial tertentu yang di dalamnya saling berbagi pengetahuan dan pengelaman
apa saja yang mereka miliki, sehingga dapat membuat mereka lebih baik lagi
dalam berinteraksi berikutnya. Pembelajaran dalam lingkungan praktis dan sosial
tertentu tidak dapat langsung diterima dan diterapkan oleh setiap manusia dalam
konteks yang berbeda. Ada pengetahuan dan skill tertentu yang harus diterapkan sesuai
dengan jenis praktiknya, karena terkadang setting dan interaksi kelompok
tertentu dapat meningkatkan pembelajaran, tetapi di kelompok lain justru
menghambat bahkan merusak pembelajaran.
Karena pembelajaran terjadi dalam setting
sosial, maka kultural juga sering kali terikat secara kultural dengan situasi
tertentu. Transfer pemikiran dan konteks tidak selalu harmonis dalam setting
setting yang ada. Akan tetapi, pembelajaran dalam kolaborasi kelompok dapat
membuatnya harmonis yang pada akhirnya akan mendapatkan menambah pemahaman dari
materi yang diajarkan.
Dalam pembelajaran ini, guru harus bisa
merancang setting kelompok, seperti interaksi ruang-kelas, sehingga
dapat membuat siswa belajar tentang efektivitas dalam bekerja sama. Paradigma
ini tidak bisa diasumsikan bahwa ppembelajaran dalam setting tertentu bisa diterapkan
dalam situasi yang berbeda. Oleh karena
itu, guru yang menggunakan paradigma ini harus bisa membantu siswa dalam
menghubungkan situasi satu dengan yang lainnya yang berbeda, membantu siswa
untuk melihat keterkaitan antara skill dan pengetahuan yang siswa peroleh
dengan setting yang baru.
Adapun komponen dasar yang harus ada ddalam
pengajaran semacam ini yaitu adanya interaksi verbal dalam setiap kelompok.
Selain itu, siswa juga harus memiliki sense of comunity dalam
kelompoknya.peran-peran dalam kelompok tdak dibagi sejak awal, melainkan lebih
ditentukan dengan sharing kelompok mereka sendiri. Setiap anggota
kelompok harus menghargai apa saja kontribusi yang diberikan pada kelompoknya.
Pemerolehan informasi atau bahkan perubahan perspektif individu yang
dipengaruhi oleh lingkungannya, merupakan beberapa faktor yang harus
dipertimbangkan ketika hendak mendesain pembelajaran kolaboratif.
Sumber : Huda, M. (2013). Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran.
Malang: Pustaka Pelajar Offset.







0 komentar:
Post a Comment